Sunday, 23 December 2018

Mas Faqih, Suami yang Nggak Seru Diajak Ngobrol?



"Ada yang mau diomongin nggak?"

"Jangan main HP terus dong, ngobrol yuk!"

Dua kalimat ini sering banget aku lontarin ke Mas Faqih tiap ada kesempatan berduaan. Terlebih sejak kami LDR. Jujur aku merasa was-was. Katanya, suami atau istri itu kan teman hidup, harus yang enak diajak ngobrol tentang apa saja. Artinya tiap ngobrol selalu seru, nggak ada abisnya, dan pastinya nyaman. Tapi aku merasa Mas Faqih hanya ngobrol tentang hal-hal seperti keuangan atau pendidikan. Selebihnya obrolan kami terasa garing, krik-krik, atau tidak ada titik temu.


Padahal aku membayangkan bisa mengobrol soal parenting, dekorasi rumah, film, seni, dll. dengan Mas Faqih. Tapi dia tidak antusias kalau kuajak ngobrol tema-tema itu, padahal aku suka banget merencanakan sesuatu dan ngobrol panjang soal itu.

Ketidakantusiasan Mas Faqih secara otomatis membuatku jengah juga kalau dia bercerita tentang dunianya. Apalagi cerita Mas Faqih selalu paniang lebar menururtku, jadi aku sering kali hanya berpura-pura mendengar. Meski tetap memberi komentar dan masukan. Ka begini, pas menua bersama nanti kami mau ngobrol apa? Aku jadi khawatir kami akan lebih banyak diam dan saling kesepian karena sudah tidak bekerja dan 24 jam bersama.

Lalu malam ini saya tersadar. Bahwa saya terlalu sepaneng.

Sejak LDR sesekali saya memantau aktivitas Mas Faqih dengan pertanyaan ala anak pacaran "lagi ngapain?"

Hari ini dia bercerita sedang menggoreng kentang dan memakannya dengan sambal Jawara. Ngobrolin soal sambal, saya jadi ingat tanaman cabai di dekat jendela kamar rumah Semarang.

"Btw lombokku mati opo urip yo nang omah?"

"Uriipp"

"Ws ngewoh? Opo iseh yiyi [bayi]?"

"Rung woh, tapi wes ABG."

"Ojo mbok pateni wiiii lombokku."

"Sesuk tak bedole *emoticon ketawa nangis*"

Obrolan super RECEH! Tapi nggak bikin marah, sedih, kecewa ataupun perasaaan negatif lainnya

Kalau tadi aku paksain ngajak Mas Faqih ngobrol tentang apa yang menurutku penting mungkin di akhir obrolan bisa saja jadi sepaneng. Cara berpikirku yang sistematis mungkin akan selalu membuat Mas Faqih yang cenderung impromptu jadi pusing, jengah, dan membatin "ih ribet amat sih!".

Pun sama, Mas Faqih kukira tadi juga sedang menahan diri untuk tidak cerita soal karyawannya yang berkali-kali mangkir bekerja. Ataupun persoalan lain. Dia memilih meladeni obrolan receh.

Jadi aku menyadari ''ngobrol seru" antar pasangan tidak selalu berarti ngobrol yang tak ada habisnya atau bisa mengobrol tema apapun dengan nyambung. Yang lebih penting tentang ngobrol dengan pasangan adalah obrolan yang di akhir tidak memberikan perasaan negatif, marah, sedih, pusing, dan semacamnya.

Obrolan itu bisa tercipta dengan menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu. Memilih menjadi pendengar. Menekan rasa ingin mendominasi. Menghargai dan menganggap penting apapun yang dibicarakan pasangan. Dan tidak enggan ngobrol hal-hal receh.

Mungkin obrolan receh ini yang akan jadi bahan bakar obrolan kami saat tua nanti. Aku tidak perlu khawatir kesepian lagi hanya karena Mas Faqih enggan diajak ngobrol seru soal novel NH Dini. Aku yakin Mas Faqih masih akan mengetrek-etrek hidung megrokku, nama desaku, dan Instagram Aloe Book.