Wednesday, 5 December 2018

Jadi Ibu Ternyata Merupakan Pekerjaan Paling Berbahaya

Saya sedang di kereta, perjalanan pulang ke Cilacap dari Jogja. Meninggalkan Bening yang tidak mau ASIP maupun formula sejak jam 2 dini hari sampai jam 6 sore hari, sekitar 16 jam kalau tidak salah hitung.

Di seberang tempat duduk saya ada bayi yang usianya mungkin mendekati 2 tahun (saya sok-sokan memprediksi dari jumlah giginya). Sedang mimik. Ibunya dengan galak bilang "DIEM! DIEM!" sambil memaksanya mimik padahal si bayi minta nonton kartun di HP yang baru saja diputar oleh si ibu itu sendiri, namun dimatikan karena mungkin dianggap sudah cukup nontonnya. Sekilas ibu ini terlihat sangat jahat di mata saya. Bahkan kalau saya melihatnya sebelum punya anak, mungkin saya akan bilang ibu ini galak sekali, tega memarahi bayi.

Tapi jujur sejak punya bayi dan mengurusnya sendiri, ukuran kegalakan seorang ibu jadi berbeda. Saya merasa bahwa ibu yang galak itu wajar.

Pikiran saya tiba-tiba terbawa pada suatu berita, mungkin beberapa tahun lalu, tentang seorang ART yang terekam sedang menyuapi paksa anak majikannya. Kelakuan "bejat" ART ini viral lalu dinilai kriminal. Waktu iti saya setuju betul kalau ART ini jahat. Tapi setelah punya anak bayi, yang nggak doyan makan saya paham. Mengerti betapa harus sabarnya hati seseorang untuk menyuapi bayi yang ogah makan. Saya, yang ibu kandung, yang merasakan sakitnya melahirkan saja merasa gemas, marah, dan menyerah menghadapi buah hati saya nggak doyan makan, apalagi orang lain.

Jujur lagi, saya juga pernah memaksa Bening makan dengan mendorong makanan ke mulutnya, saking geregetan, sampai Bening geleng-geleng hebat dan jengkel. Beberapa detik kemudian saya menyesal karena tindakan itu memang salah, menurut dokter pun tidak benar. Tapi di kemudian hari saya pernah mengulanginya lagi. Meski masih hitungan jari, tapi tindakan saya bisa dikatakan nggak beda jauh dengan yang dilakukan ART pada anak majikannya di cerita sebelumnya.

Ingatan saya soal ART pecah ketika di bangku seberang-belakang seorang anak balita menangis sejadi-jadinya entah minta apa. Lalu ibunya, sembari menggendong adik si anak balita tadi yang mungkin baru berusia 1 atau dua bulan, memukul-mukul (ringan sih kayaknya) mulut si anak. Si anak makin menangis. Saya membayangkan apa yang ada di pikiran ibu ini, bepergian dengan bayi dan balita, pasti lelah. Lalu hati saya tidak menganggap salah tindakan ibu ini memukul mulut anaknya.


Bukan berarti saya setuju dengan kekerasan pada anak. Tapi saya merasa tahu rasanya, kadang sebagai ibu kita tidak bisa mengendalikan "jiwa jahat" kita ketika anak berulah. Saya berpikir, bahwa profesi seorang ibu sangat berbahaya. Pernah kan mendengar ibu yang tega membunuh anaknya? Ketika anak berulah lalu "jiwa jahat" itu lepas kendali, akibatnya benar-benar fatal.

Kabar buruknya setiap ibu, terutama yang mengurus anak sendiri, terutama lagi yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga, punya "jiwa jahat". Kabar baiknya "jiwa jahat" ini mudah sekali ditaklukan. Bagaimana caranya? ME TIME! Menjauh sebentar dari anak! Minta suami gantian, kalau perlu paksa suami biar mau gantian! Tak perlu seharian, apalagi berhari-hari. Cukup sampai rasa kangen ke anak muncul. Paling cuma beberapa jam saja rasa kangen itu sudah meledak-ledak, coba aja.

Seperti cinta ke pacar yang kadang butuh jarak untuk menciptakan rindu. Cinta ke anak pun nggak beda.