Wednesday, 21 November 2018

Kurangin Pamer dan Nyinyir Sesama Ibu Muda


Hari ini Bening, anak pertama saya, sudah berusia 10 bulan kurang 5 hari. Tapi dia belum bisa merangkak layaknya bayi-bayi lain. Bening juga belum bisa duduk sendiri. Saya mulai khawatir dan  bertanya pada Mbah Google. Si Mbah mengantarkan saya pada sebuah video di You Tube yang menjelaskan bahwa merangkak pada bayi itu ada dua macam. Pertama, merangkak dengan telapak tangan dan lutut sebagai tumpuan gerak, cara ini paling umum. Satu lagi menggunakan lutut dan lengan bawah sebagai tumpuan gerak. Video itu menyebutnya army's crawl, merangkak gaya tentara. Mbah Bening yang seorang Jawa Ngapak menyebutnya 'ngglangsur'. Saya cukup tenang usai melihat video ini karena Bening ternyata sudah terhitung merangkak, hanya saja menggunakan teknik army's crawl yang tidak biasa tadi.

Malamnya saya berselancar di media sosial Instagram. Seorang teman yang anaknya baru berusia sekitar 4 bulan pamer di Insta Story, anaknya sudah bisa merayap padahal belum kuat angkat kepala. Meskipun merayap levelnya masih dibawah 'ngglangsur', saya merasa Bening tersaingi kehebatannya. Seorang teman lain yang anaknya sebaya Bening juga mengunggah video yang mengusik saya. Anaknya sudah bisa merangkak sangat cepat bahkan setengah berdiri mendorong toples besar. Berdirinya pun sudah kencang, sementara Bening masih goyang-goyang.

Saya yang mulai khawatir lagi, mencoba bertanya pada dokter spesialis anak melalui aplikasi. Saya bercerita tentang perkembangan Bening dengan panjang lebar. Beliau mengatakan bahwa Bening sehat dan normal berdasarkan data dan deskripsi yang saya berikan. Dia menyarankan agar saya terus menstimulasi Bening untuk merangkak. Dan kalaupun tahapan merangkak terlewati, maka itu tidak jadi masalah selama tahap selanjutnya baik-baik saja. Saya pun mulai tenang lagi, lagipula Bening sangat aktif. Dia bisa 'ngglangsur' dengan gesit, memanjat bantal-bantal tinggi, dan semua milestone tercapai kecuali merangkak dan duduk sendiri.

Isi unggahan saya hampir 95% adalah konten tentang Bening dan 90%nya bernada pamer


Sambil membaca tips-tips stimulasi yang diberikan dokter dalam bentuk gambar, saya berpikir. Orang tua yang suka pamer kebolehan anaknya di media sosial itu menyebalkan sekali. Membuat orang tua lain iri dan merasa tersaingi kalau anaknya belum bisa atau tidak lebih hebat. Judulnya sih titip menyimpan memori di media sosial, tapi di hati pasti terbersit rasa ingin pamer. Karena saya juga begitu. Saat melihat-lihat story archives di Instagram, isi unggahan saya hampir 95% adalah konten tentang Bening dan 90%nya bernada pamer. Entah itu pamer keimutan Bening, kemampuan baru Bening, sampai barang-barang Bening. Dan ternyata rasanya sulit sekali mengendalikan diri untuk tidak mengunggah foto anak, apalagi yang bagus. Dan sulit sekali untuk merasa biasa saja saat orang lain menyukai unggahan kita di media sosial dan berkomentar anak kita lucu, pintar, dan sebagainya. Padahal terkadang orang tidak benar-benar suka atau tidak benar-benar berkomentar positif dalam hatinya.

Saya berpikir fenomena ini mirip narsisme, tapi masih kelas teri. Kita memiliki ketertarikan yang berlebih pada kehidupan  kita sendiri tapi belum sampai tahap anti-kritik. Atau ada yang sudah merasa anti-kritik? Saya punya satu kisah lagi untuk soal yang satu ini, masih tentang bayi.

Merasa punya banyak ilmu parenting, hasrat nyinyirin ibu-ibu tidak progresif meningkat


Suatu ketika teman saya mengunggah video anaknya sedang bergerak di babywalker sambil makan wafer cokelat merk ternama. Saya ulang videonya berkali-kali takut salah lihat. Tapi benar, wafer itu jajanan orang dewasa dan rasanya cokelat. Sementara itu saya tahu anaknya itu mungkin masih 10 bulanan usianya. Melihat ini saya nggak bisa mengendalikan diri untuk tidak nyinyir. Ada dua hal yang saya ingin nyinyiri, pertama dia menggunakan babywalker padahal alat bantu ini tidak baik untuk perkembangan bayi. Kedua, soal wafer cokelat yang jelas-jelas sangat tidak disarankan untuk bayi. Saat saya mulai pemanasan nyinyir dia malah menyombongkan diri. "Itu wafer X, anakku giginya udah banyak soalnya jadi udah bisa makan begituan. Kalo snack bayi sih udah biasa, sering banget". Membaca jawababannya, hasrat nyinyir saya tak terbendung. Bagi saya pengetahuan soal babywalker dan apa yang boleh dimakan bayi adalah hal yang sangat mendasar dan sudah seharusnya diketahui oleh ibu yang berpendidikan. Tapi dia tidak membalas nyinyiran saya, apa dia anti-kritik seperti selebrita yang membatasi komentar di media sosialnya? Saya tidak tahu.

Hasrat nyinyir tadi masih bertahan beberapa hari sampai saya membuka grup WA yang isinya teman-teman sekolah yang sudah jadi ibu dan calon ibu. Seorang teman di grup bertanya seputar ASI dan masalah yang dia hadapi. Lalu beberapa teman berlomba memberikan jawaban yang terlihat intelek. Bahkan ada seorang teman yang masih hamil anak pertama menjawab juga dengan gamblang. Jawabannya sekilas benar, seperti yang saya pernah baca juga. Tapi kalimat terakhirnya begitu sombong "Makanya dari mulai hamil kita harus belajar soal ASI dan segala macamnya. Aku aja udah belajar sampai MPASI". Padahal yang dia jelaskan praktiknya  tidak semudah saat kita mempelajarinya. Saya jadi  kesal  lihat dia keminter, paling juga baca artikel di internet, batin saya. Eits, tapi bukannya di kisah kedua tadi saya juga keminter soal babywalker dan makanan bayi? 

Ibu lain nggak punya ilmunya, cuma aku yang tahu semuanya -_-


Pengetahuan tentang pengasuhan yang saya dapat dari artikel-artikel di internet atau bahkan hanya infografis di Instagram saya pamerkan. Saya anggap ibu-ibu lain tidak mempelajarinya. Kalau ada yang bertentangan saya nggak tahan untuk nyinyir. Saya lupa kalau pengetahuan tentang pengasuhan itu banyak sekali dan yang saya baca hanya sekelumit serta belum tentu benar.  Saya juga lupa kalau setiap anak itu unik, tentu pengasuhannya pun unik. Yang BLW nggak boleh merasa lebih berilmu dari yang SF. Yang nggak pakai gulgar juga nggak perlu nyinyir sama yang berani pakai rempah lengkap. Semua adalah hak orang tua untuk memilih cara pengasuhan. Sharing boleh, pamer dan nyinyir jangan! Semoga saya benar-benar sadar.