UGM Sudah Wisudaan Lagi Tapi Tesis Saya Belum Juga Selesai


Hari ini UGM menggelar wisuda, lagi-lagi saya belum wisuda.

Saya ingat betul, masuk kuliah S2 pertama kali pada tanggal 15 Februari 2016, hari ulang tahun saya ke 23. Sekarang sudah 28 Oktober 2018, artinya dengan satu kali masa cuti, saya sudah masuk semester ke-5 dan 3 bulan lagi habis.

Tahapan yang sudah saya lewati adalah kuliah tatap muka, seminar proposal dan ujian komprehensif (sebelum cuti melahirkan). Sekarang saya masih harus melewati tahap seminar hasil, sidang, yudisium dan wisuda untuk bisa merasa lega. Kelihatannya 4 tahap tapi saya membayangkan waktunya akan sangat panjang.

Bayangkan, untuk bisa seminar hasil saya butuh 3 tanda tangan: 2 pembimbing dan 1 kaprodi. Untuk sidang butuh 5 tanda tangan, yang 3 tadi ditambah 2 penguji. Setelah seminar hasil maupun sidang saya hampir pasti harus revisi dan hasilnya disetujui oleh semua pemberi tanda tangan tadi. Yang pernah jadi mahasiswa pasti paham betul berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa mendapatkan tanda tangan dan menemukan waktu yang sama bagi beberapa dosen sibuk untuk hadir dalam satu forum, seminar atau sidang. Belum lagi mengurus syarat administrasi untuk bisa masuk ke tiap tahap.

Sementara saya LDR dengan kampus. Untuk ke kampus saya berangkat jam 2 pagi dari rumah dan kembali dari jogja jam 2 siang, sampai rumah lagi jam 6 sore. 16 jam dengan segala biayanya. 16 jam Bening tidak mau minun ASIP maupun susu formula.

Kenapa saya di Cilacap?

Selama cuti saya benar-benar lepas tangan dari tesis, saya ingin fokus mengurus anak. Sejak mulai aktif lagi sebagai mahasiswa Agustus lalu, saya mencoba yang terbaik untuk mengurus anak sembari menulis tesis. Hasilnya nol besar, karena di Semarang jam 6.30 am sampai 5 pm saya mengurus bayi dan rumah sendirian, malam sudah tinggal pegal di leher dan mata kantuk yang tersisa.

Pada bulan itu juga saya meminta suami untuk survei daycare dan mencari baby sitter agar saya punya sedikit sisa tenaga untuk menulis tesis. Hasilnya nihil, melihat wajah Bening saya tidak pernah tenang meninggalkannya sendiri dengan orang asing. Demi kebaikan semua, saya meminta izin suami untuk pulang ke Cilacap, biar ada yang bantu momong Bening.

Mulai September, artinya sudah hampir 2 bulan, saya tinggal di Cilacap dan tesis saya belum juga selesai. Waktu yang saya miliki ternyata tidak sebanyak yang saya bayangkan.

Kok bisa? Saya gambarkan aktivitas saya sehari-hari, meskipun waktunya tidak selalu tepat seperti yang saya gambarkan, namun kurang lebih sama.

Bening bangun jam 4 am. Menyusu dan gegoleran sampai subuh. Mbah Uti beraktivitas di dapur (dan cucian) dari subuh sampai sekitar jam 8. Saya membantu beres-beres dan menyapu. Dari jam 8-9 Bening diajak Mbah Uti, jam 9 sudah diantar ke saya, minta ASI katanya. Usai ng-ASI saya kasih lagi ke Mbah Utinya. Jam 9.30 sudah dibalikin lagi karena Bening ngantuk minta dikeloni Ibuk. Bening tidur 2 jam-an, saya temani sambil nulis. Setelah bangun masih main dulu sama Ibunya selama setengah sampai satu jam. Lalu ikut Mbah Utinya lagi sejam dan berulang minta nyusu dan dikeloni persis seperti sebelumnya. Nggak terasa waktu udah sore lalu malam tiba. Selesai.

Perlu diketahui, kedua mbah Bening punya toko material yang dijaga berdua dan Mbah Uti biasa ikut jamaah 5 waktu di Langgar. Jadi bantu 'momong' Bening pun disambi 'dodolan'. Pokoknya saya perhatikan selama ini (bahkan sampai saya pasang timer hehehe) Mbah Uti mengajak Bening tanpa melibatkan saya hanya sekitar 2-3 kali 45 menit, setelahnya kadang manggil-manggil, minta ambilin apa, atau 'nitah' Bening ke arah saya. Tentu saja konsentrasi saya buyar hehehe.

Waktu malam setelah Bening tidur jadi waktu yang sempurna untuk menulis tesis, saya kira. Tapi kenyataannya tidak. Meski sudah dibantu, entah kenapa saya masih merasa kecapekan dan ngantuk di malam hari. Nggak bisa begadang seperti jaman kuliah S1. Belum lagi pas ngerjain masih diinterupsi nyusuin sekitar 2 kali dan mengelap banjir keringat di kepala Bening entah berapa kali sambil mengipasi. Kadang juga harus gosok perutnya karena kembung atau sekedar bilang "Kenapa Nak? Ibuk di sini" pas Bening 'ngelindur' nangis.

Setelah saya total, dalam sehari saya punya waktu menulis sekitar 8 jam. Dan hanya sekitar 3 jam yang tanpa interupsi. Padahal saya harus searching referensi, nulis, triangulasi data, kadang juga sedikit tidur dan cari hiburan. Saya stres kalau lihat laptop terus, butuh hiburan juga dong! Nggak dipungkiri, rasa malas pun kadang mampir.

Selama 2 bulan ini, masih banyak data tempelan yang belum dianalisis. Saya merasa masih banyak sekali.

Saya ingin sekali cepat selesai. Kadang saya berpikir untuk berhenti tapi kemudian sadar bahwa pilihan menyerah tidak boleh dihadirkan. Saya ingat bahwa karena tesis ini Bening jadi berpisah dengan Bapaknya. Semakin lama saya selesai, Bapaknya akan semakin kehilangan banyak momen dengan Bening.

Karena tesis saya juga merasa tidak maksimal membesarkan Bening. Dua hari lagi Bening 9 bulan tapi belum bisa merangkak dan duduk sendiri. Saya merasa kurang memberikan stimulasi pada tubuh Bening karena waktu dan pikiran saya tidak fokus. Saya merasa aktivitas Bening lebih banyak digendong, disuapi, ditopang (berdiri atau titah) dan tidur atau tiduran dibandingkan distimulasi untuk bisa merangkak atau duduk. Di sisi lain saya tidak bisa dan tidak ingin terlalu banyak meminta apalagi menyuruh orang tua.

Saya ingin meminta waktu yang lebih "sempurna" pada orang tua saya juga tidak bisa. Saya sulit menjelaskan bahwa menulis tesis ini rumit. Tidak seperti mengerjakan soal yang jawabannya sudah pasti. Kalau dijeda untuk menyusui saya butuh waktu paling tidak 15 menit untuk kembali pada titik fokus dan semangat  menulis yang sama. Seringkali setelah Bening ngintip atau menyusu saya tidak tahu lagi harus menulis apa.

Kadang saya juga ingin menunjukkan file thesis di laptop saya yang isinya dijubeli jurnal-jurnal yang harus saya baca. Jurnal puluhan lembar berbahasa inggris yang saat dicomot cuma bisa jadi satu kalimat.

Tapi saya tidak bisa menjelaskannya. Saya hanya bisa menerima dan mensyukuri bantuan yang sudah ada sekarang. Dengan waktu yang sedikit saya masih berharap besar bisa menyelesaikan tesis ini dengan baik dan cepat. Semoga bisa!

You Might Also Like

0 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.