Yang Aku Kangenin dari Mas Faqih Selama LDM



"Coco...Coco...mau aku ajak gosip nggak? Pengen Nyinyirrrr akutu..."

"Kenapa lagi Khiiiing?"

"Sebel deh, masa ada ibu-ibu punya hutang ke mantannya anaknya udah 3 tahun gak dibayar-bayar. Eh terus dia nikahin anaknya gede-gedean dong!"

"Apasi Khiiing Bicik lu Khiiing!!!"

Kangen banget percakapan macam ini yang biasa digelar di atas karpet merah depan TV. Ya, ruang tamu kami belum punya sofa. Uang sih ada (sombooooong!), tapi merasa belum butuh banget dan kayaknya lebih baik itu duit masuk reksadana, hahaha.

Setahun lebih hidup sama Mas Faqih (eaaa dipanggil mas di sini buat pencitraan), hal yang paling menyenangkan untukku adalah bisa bertingkah bodoh sebebas-bebasnya, hahaha. Dari mulai usil-usilan, bikin panggilan nggak jelas, sampai parade kentut.

Mas Faqih dulu, di kampus, waktu kami masih pacaran, dia mem-branding dirinya sebagai manusia tengil tapi cool. Sekarang, di depanku, dia seutuhnya adalah manusia paling khilaf.

Kalau ngambil baju di lemari, sukanya ambil yang bawah dulu, alasannya first in first out. Tapi apa coba yang bikin kesel? Baju yang atas nggak dipegangin, alhasil? Runtuhlah itu baju yang udah dilipat pakai satu tangan sebab tangan satunya mengendalikan Bening yang meronta mau ngejar semut di kamar sebelah, fiuuuhhh. Sia-sia semua keringat Adek buat lipat baju Abang.

Kekhilafan Mas Faqih bukan cuma itu, dia juga makhluk paling pelupa. Baru janji semalam, paginya bilang "Kapan aku bilang gitu Khiiiing?" Mau marah gimana ya kan kalau kemampuan mengingatnya cuma segitu~~ (Siap dijitak sama doi untuk kalimat ini hahaha)

Khilaf selanjutnya adalah yang paling menyebalkan. Waktu pindahan dari Surabaya ke Semarang.

"Tas ini aku bawa aja nggak papa."

"Jangan bawa banyak tas di luar. Masukin kardus aja biar di bawa mobil bak."

"Tapi nanti rusak. Ini perawatannya susah."

"Bicik lu khiiiing!"

Dan sampai di Semarang tasnya beneran cacat kena gesekan. "Tuh rusak kan!"

"Gampang tuku meneh, wong sugih kok!" dengan wajah haha hihi nggak merasa bersalah telah mengubah uang setengah juta lebih jadi rongsokan. Sebel!

Dan banyak banget sih kekhilafan Mas Faqih lainnya yang kalau ditulis bisa bikin blog ini viral. Tapi kasihan reputasi dia, ntar susah naik jadi AM lagi, repot juga kan gue hahaha.

Sebulan lalu kami resmi menjalani LDM, long distance married. Aku harus lulus kuliah semester ini. Harus! Dan Bening harus dirawat dengan sebaik mungkin juga. Setelah survei daycare dan usaha cari rewang, pilihan terbaik jatuh pada pulang, ke cilacap. Mas Faqih tetap di Semarang, cari uang.

Selama sebulan berpisah, ternyata yang paling kurindukan justru kekhilafan-kekhilafan Mas Faqih. Rasanya aneh nggak ngomelin "Coco, lemarinya di tutup!", "Coco ki mesti sepatune keleleran", "Coco, klambineeee".

Tapi kangen juga sama keromantisan dan kesabaran tiada tara ala Mas Faqih, yang kusadari adalah lelaki paling apikan sedunia (biar gak dimarahin ini mah bilang gini). Yang setia mendengarkan gosip-gosip gak jelas, jadi teman nyinyir padahal nggak tahu konteksnya, yang kalau lagi baik suka mijitin (tangannya jago! Enak!), suka ngambilin minum, ngijinin aku gak masak, ngupasin buah, ngasih kejutan beliin cemilan sama buah mahal~~

"Tak tukokke kates we Khiiing!"

Yah, LDM emang bikin kangen. Tapi juga bikin dewasa. InsyaAllah. Semoga cepat berakhir jauh-jauhannya. Tesis, ndang rampung dong huhuhu.

You Might Also Like

1 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.