Buat Apa Punya Anak?



Hari ini aku titip surat pengajuan aktif kembali kuliah, setelah cuti semester kemarin. Ini bukan pertama kalinya, sejak hamil aku sudah sering merepotkan teman-teman di Jogja untuk mengurus ini-itu terkait perkuliahan. Dan sedihnya kali ini surat tersebut belum bisa ditandatangani, aku diminta datang langsung ke Jogja atau mengajukan surat kuasa, padahal deadline pengurusannya hari ini. Tentu pilihan kedua yang kulakukan, nggak mungkin aku ninggalin Bening. Ah, semoga masih bisa diurus besok meski telat.

Besok Bening (baru) tepat 5 bulan dan sejak awal aku beserta suami berkomitmen untuk ASI eksklusif selama 6 bulan penuh, kurang sebulan lagi. Sementara itu sejak di Semarang Bening bingung dot sekaligus produksi ASIku juga tak lagi melimpah, nggak bisa nyetok ASIP banyak. Untuk ditinggal ke Jogja paling tidak butuh 16 botol ukuran 80 ml dengan perkiraan 8 x minum, too much! Fix, sampai usia 6 bulan nanti aku wajib berada di sisi Bening untuk bisa menyusui langsung.

Mengajak Bening ke Jogja tentu bukan pilihan juga. Kemarin saat mudik Semarang-Cilacap saja dia kondisinya jadi kurang fit dan rewel. Apalagi sekarang lagi LDRan sama Bapak, tambah nggak mungkin ke Jogja berdua sama Bening, ribet dan kasihan dia.

Sebagai orang yang selalu gugup saat berhadapan dengan 'birokrasi kertas' aku jadi berpikir, mungkin keribetan-keribetan seperti ini yang enggan dimiliki oleh mereka yang tak mau punya anak, tak mau menikah. Bukan satu dua individu di sekitar kita yang berpikir seperti ini kan sekarang? Stay single bahkan sudah jadi pilihan yang keren dan nggak terlalu tabu.

Bayangkan, setelah menikah kita harus rela menurunkan ego kita demi kepentingan orang lain, mau saling asah, asih, dan asuh. Ya kalau jodohnya mau saling ngalah, kalau nggak kita yang rugi hidupnya!

Semua makin terasa saat 'buah hati' hadir. Sebagai perempuan kita harus rela tidak tidur. Serius, sejak punya anak aku merasa tidak pernah tidur. Karena aku selalu terjaga. Saat mendengar 'eh' atau 'ah' Bening atau bahkan saat tubuhnya bergeser aku otomatis langsung bangun. Belum lagi saat kita harus menyusui di malam hari.

Gimana rasanya nggak tidur? Kalau kamu mahasiswa dan pernah ikut kepanitiaan, malemnya ngedekor terus pagi langsung lanjut acara dan baru selesai beres-beres sisa acara, ngantuk tapi wajib terjaga, kurang lebih rasanya gitu. Bedanya kalau jaman mahasiswa kita bisa berharap "Ah besok kan bisa tidur sepuasnya, bangun siang!", kalau jadi ibu kita harus rela berhenti berharap. Karena kita nggak tahu kapan bisa tidur dengan nyenyak lagi. Lha wong anak yang nyanding cuma berjarak 1 cm dari kulit kita saja tetap memenuhi pikiran dan mimpi kok!

Perkara nggak tidur yang aku ceritain tadi adalah ujian semua ibu, tapi masih banyak ujian lainnya untuk para ibu yang mungkin beda-beda kasusnya. Ada yang harus rela memotong uang belanjanya, mengurangi frekuensi hangoutnya, berhenti bekerja, tidak melanjutkan sekolah, tidak punya waktu untuk teman, jarang pulang kampung, dan masih banyak lagi. Pergi liburan yang dulunya bebas mau kemana sekarang mikir "Nanti anak gimana ya?". Dulu cukup bawa satu ransel sekarang satu koper nggak cukup. Naik kereta yang dulu bisa sambil baca novel, sekarang boro-boro duduk, anak maunya jalan-jalan terus sepanjang perjalanan, bayangin kalau naik mobil mau jalan di mana hahaha.

Para bapak pun nggak kalah ribet hidupnya usai punya anak. Gaji yang dulu bisa buat hahahihi rasanya jadi kurang terus. Jatah servis motor ganti jadi popok anak. Pulang malam jadi mimpi belaka, pulang sore dikit aja istri udah ngambek kemana-mana. Belum lagi habis pulang masih harus bantu ngurus anak dikit-dikit. Bepergian harus rela pakai tas gambar boneka gajah dan menanggalkan tas eger yang keren. Capek! And less sex :(

Punya anak benar-benar membawa kesulitan-kesulitan baru yang jumlahnya kadang banyak. Lalu buat apa punya anak? Enaknya di mana kalau semuanya malah jadi ribet, jadi susah, jadi sulit.

Jika Tuhan menciptakan rasa bahagia, sedih, bangga, puas, kecewa, haru, kesal, marah dan semacamnya, maka Tuhan juga menciptakan sebuah rasa yang unik, yang mungkin selama ini tak pernah dinamai. Rasa memiliki anak. Rasa campur aduk yang nggak bisa diungkapkan. Dimana pada saat yang sama merasa kesal tapi juga bersyukur. Rasa saat kita tahu dia biang masalahnya tapi kita tetap menomorsatukannya. Rasa saat kita tahu tak akan mampu tapi kita tetap memilih maju. Rasa saat kita menyerahkan roti satu-satunya yang kita miliki meski kitapun belum makan seharian.

Kembali ke pertanyaan "Lalu buat apa punya anak?"

Pertanyaan ini pun tak terjawab. Secara teori mungkin jawabannya melanjutkan keturunan untuk menjaga Bumi. Mengikuti Rasul. Tapi apa iya? Mudahnya mungkin itu jawabannya. Tapi aku sendiri tak berpikir sebegitunya saat mau punya anak. Hanya sekedar saling mencintai lalu muncul buah hati. Lalu bahagia dan ingin membahagiakannya juga. Sudah.

You Might Also Like

0 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.