Namanya Juga Rumah Tangga, Pasti Ada Waktu Nggak Akurnya

Bukan mengumbar masalah pribadi rumah tangga. Tapi setiap cerita selalu bisa membawa hikmah. Karena lagipula apa yang diceritakan tentu tak bisa merangkum lengkap semuanya. Selalu ada yang tak tertulis. 

Hari ini aku dan suami (masih) saling diam, sejak 2 hari lalu. Ini adalah saling diam terlama. Biasanya nggak sampai 1 hari kami sudah tidak tahan untuk ketawa. Yang kebetulan sedang mau ngalah akan ndusel-ndusel lalu kami bicara baik-baik. Versiku, aku lebih sering ngalah.

Alasan saling diam kali ini bisa dibilang klasik, beda pendapat, beda pandangan. Soal jam pulang kerja suami. Sebagai istri rumahan (sampai sekarang masih berat menghadapi masa transisi dari perempuan pekerja jadi istri rumahan), tentu aku ingin suami pulang cepat, tepat waktu seperti yang disepakati. Tapi bagi suami mungkin pandangannya beda, dia ingin memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya.

Di hari pertama suami kerja, jadi hari pertamaku pula sendirian di rumah, sebelumnya masih ada ibu yang menemani pindahan dari Surabaya. Sepi banget. Cuma ada suara krik-krik hewan hutan. Kebetulan rumah yang kami tempati ada di pinggir perumahan yang berbatasan dengan lahan warga, luas dan dipenuhi pepohonan.

Selain sepi, hari itu Bening juga tubuhnya kurang baik, BAB cair banyak banget sampai tembus keluar diapers. Sehari sebelumnya Bening nggak BAB dan waktu BAB cair itu dia ngeden seperti kesakitan sambil nangis. Konstipasi? Tapi kok cair dan banyak? Sebagai ibu baru tentu aku bingung dan khawatir, apalagi cuma sendirian di rumah.

Karena badannya mungkin nggak enak, Bening juga gendongan. Alhasil aku beraktivitas sambil nggendong, termasuk makan. Pundak pegal. Bening juga minta disusui terus. Menyusui tentu bukan perkara gampang, capeknya sama kayak renang 30 lap bolak-balik kalau kata @ayah_asi. Yang aku rasain sih ndredeg, aku mencoba makan apapun yang ada. Sorenya, stok makanan sudah tipis. Mau order go-food sinyal lagi susah. Sedih.

Di tengah kekhawatiran sama keadaan Bening, perut kosong dan dredeg, capek nggendong seharian, kesepian, dan badan bau karena sekarang susah ninggal Bening buat mandi, suami kok nggak pulang-pulang juga udah mau maghrib? Ya Allah... Siapa yang nggak stres?

Pikiranku jadi kemana-mana. Apalagi suami sekarang kerjanya lebih banyak sama anak muda, nggak kayak di Surabaya, yang cewek tentu dandan dan punya waktu merawat diri. Sementara aku, dari suami berangkat sampai pulang masih sama, belum sempat mandi! Istri mana yang nggak khawatir?

Belum lagi nanti suami pulang masih harus bantuin jaga Bening dan beliin makan. Paginya bantu ngerjain pekerjaan rumah sampai berangkat. Aku khawatir "pulang" dan "rumah" jadi hal yang tidak menyenangkan bagi suami. Dan tempat kerja sebaliknya, jadi "rumah"  dan "kenyamanan" yang dinanti-nantikan. Bawaannya kalau berangkat kerja jadi pengen cepet-cepet, kalau pulang sebaliknya karena cuma bikin capek. Mungkin. Apalagi aku lihat dia kalau jaga Bening cuma tahan beberapa menit. Fotonya doang yang banyak. 

Hari kedua kerja sebenarnya semua terlihat lebih baik pagi harinya. Kami masih melakukan ritual peluk cium seperti biasa. Tapi pas dia pulang telat lagi, hmm... Aku cuma bisa diam. Melihat aku diam lagi, suami ikut diam malam harinya, mungkin kesal karena sejak kemarinnya aku belum mau diajak diskusi.

Aku memang masih menahan diri, takut emosi, takut jadi nangis atau malah nada tinggi. Jadi lebih baik diam dulu. Cuma karena keadaan terlihat lebih buruk paginya aku memutuskan nge-WA suami, minta maaf dan bercerita apa yang aku rasakan. 

Mungkin karena pesan tertulis tidak bisa menyampaikan nada bicara, atau suami sedang pusing banyak kerjaan dan merasa terganggu, pesan yang kukirim malah bikin runyam. Balasan suami 'terlihat' bernada tinggi dan sedikit berlebihan. Karena ada pendapatnya yang kurang sesuai menurutku, tentu aku menyampaikan versiku. Tapi sepertinya suami tidak berkenan. Berharap aku tak banyak bicara. Baiklah.

Ketika semua dilihat dari standar kita sendiri tentu sulit. Suami melihat ceritaku sebagai bentuk prasangka negatif, kurang pengertian, keluhan, komplain, menyalahkan, bantahan, bahkan ocehan. Aku melihat lagi balas-balasan chat kami, berapa kali aku membalas, bagaimana kalimatku. Sepertinya aku memang harus menyudahi, meski ada pendapat suami yang kurang sesuai menurutku, tak perlu didebat. Tidak ada faedahnya. 

Aku juga melihat masalah ini dari standarku. Aku merasa tersinggung dengan reaksi suami yang seolah aku kerjaannya hanya mengeluh dan tidak pernah mencoba mengerti dunia kerjanya, hanya bisa marah-marah. Padahal aku merasa tidak pernah meminta apapun untuk kepentinganku sendiri, semua yang aku minta ya untuk kepentingan bersama, Bening, atau bahkan dia sendiri. Aku juga merasa selama ini lebih banyak diam dan menerima. Nggak lengkap 5 jari tangan aku angkat bicara dan mengungkapkan apa yang kurasakan. Aku hanya bicara kalau sudah sangat sesak. 

Bagaimanapun sulitnya serba-serbi berumahtangga aku sangat bersyukur bisa merasakannya hanya berdua, bertiga dengan Bening. Bagiku melibatkan anggota keluarga lain dalam penyelesaian masalah bukan solusi tapi justru masalah baru.

Mungkin ini salah satu cobaan di usia pernikahan yang hampir 1 tahun lamanya. Menikah memang menuntut kita untuk belajar bijak bicara, bukan pandai bicara. Mereka yang pandai bicara akan mencari kesalahan kata-kata pasangan untuk dibalikkan dan membuat dirinya tidak terlihat salah. Yang bijak bicara akan mencari kata-kata yang menenangkan pasangan. Aku belum bijak bicara, pun suami. Kami masih belajar, dengan doa yang terus mengantar agar kami berjodoh sampai surga.

You Might Also Like

1 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.