Surat untuk Bening



Tepat jam 12.01 (a.m) Ibuk mulai menulis surat ini Nak, nggak tahu kapan selesainya karena sambil menyusui dan mengganti popokmu. Surat yang rencananya Ibuk tulis sebelum kamu lahir, tapi gagal karena lahirmu mendahului HPL.

Saat Ibuk mulai menulis ini, kamu sedang tidur, Bapakmu juga mendengkur. Sementara Ibuk sedang merasa biasa saja saat memasuki usia 25 tahun. Ibuk terjaga untuk menjaga hadiah terbaik yang pernah Ibuk dapat di tanggal 15 Februari.

Kadang masih nggak percaya, tubuh mungilmu sudah ada di tempat tidur tempat biasanya Bapak memeluk Ibuk. Sekarang, senyum, tangis, dan bau pesingmu sudah menguasai tempat tidur itu.

Bening, Nduk Ayu.

Di surat ini Ibuk ingin bercerita tentang hari-hari pertamamu di dunia. Cerita yang di-skip dari kisah kelahiranmu, yang Ibuk tulis sebelumnya.

Sesaat usai kamu lahir dan 3 hari setelahnya Ibuk hanya bisa melihat wajah dan menggendongmu 2 jam sekali tiap jadwal menyusu. Seorang perawat akan membawamu ke kamar Ibuk.

Kamu harus masuk NICU karena air ketuban Ibuk keruh dan dikhawatirkan kamu mengalami infeksi karena menghisapnya. Bapak dan Ibuk tidak punya pilihan selain menginapkanmu di sana. Hari ke-4 saat kita harusnya pulang, kamu ternyata didiagnosa terkena kuning (jaundice) dan harus menjalani fototerapi 1 x 24 jam. Kamu nggak bisa ke kamar Ibuk lagi saat jadwal menyusu, ASI terpaksa harus dipompa.

Itu kali pertama Ibuk merasakan nggak menyentuh kamu dalam beberapa jam. Dan Ibuk nggak kuat, Ibuk menangis sambil dipeluk Bapak, kangen Bening! Itu tangis kedua setelah tangis saat kamu keluar dari tubuh Ibuk. Untungnya setelah Bapak berbicara dengan perawat, Ibuk bisa mengunjungi kamu sebentar di NICU, menyentuh kulitmu yang sedang dipanasi sinar biru. Sakit rasanya melihat kamu di dalam tabung setelah 3 hari sebelumnya tangan kecilmu diinfus untuk memasukkan antibiotik agar tidak infeksi.

Di hari ke-5 Alhamdulillah kita bisa pulang. Dan perjalanan Ibuk ternyata baru dimulai hari itu. Selama 5 hari Ibuk tidak terlibat langsung merawatmu, bahkan sampai pusarmu puput, dan hari itu pelajaran baru dimulai. Tentang popok kainmu yang bisa habis puluhan dalam semalam. Tentang pola "mimik, pipis, eek" yang berulang begitu cepat dan tak ada habisnya. Tentang waktu tidur Ibuk yang harus bangun tiap 2 bahkan 1 jam karena mimikmu banyak banget. Tentang menyusui yang membuat punggung pegal dan puting luar biasa sakit. Tentang semua orang yang cerewet ingin memberi nasehat. Hidup Ibuk benar-benar berubah.

Jujur Ibuk kaget, entah di malam keberapa kamu di rumah, Ibuk nangis dipeluk Bapak. Kadang Ibuk ingin menyerah memberikan ASI eksklusif. Kadang pengen maksa kamu tidur lamaan dikit. Kadang Ibuk juga sebel sama Bapakmu yang nggak kebangun denger kamu nangis, tidur nyenyak saat Ibuk begadang, asik main hape sendiri pas Ibuk lagi capek-capeknya, ketiduran tanpa mijitin Ibuk, rela berangkat kerja cepet tapi nggak mau pulang cepet, dan sederet keluhan lain. Keluhan yang kadang bikin kebaikan Bapakmu lainnya seolah tak ada. Padahal baiknya Bapak ke Ibuk juga nggak kehitung.

Kata orang tahun pertama memang yang terberat, tapi semoga Ibuk bisa melewatinya. Sejauh ini rasa lelah dan kesal Ibuk selalu buyar kalau kamu senyum. Ibuk cuma ingin kamu bahagia selama hidupmu dan menyertakan Ibuk serta Bapak jadi alasan kebahagiaanmu.

Pesan Ibuk, jangan cuma jadi cantik rupanya, Lituhayu. Tapi milikilah pula hati yang Bening. Itu doa Ibuk untukmu sejak Ibuk masih gadis sampai sekarang. Waktu itu Bu Nyai Ibuk berpesan agar kami santri-santrinya senantiasa mendoakan anak-anak kami nanti sejak dini, sejak Ibuk belum ketemu Bapakmu. Doa Ibuk nggak banyak, tapi InsyaAllah istiqomah, agar anak-anak Ibuk sholih-sholihah, bertaqwa, qurrotaa'yun, dan memiliki kehidupan yang seimbang.

Maafkan Ibuk dan Bapak jika nanti kurang sempurna selama mengemban tanggungjawab membesarkanmu ya Nak. Sebagai seorang Pambayun, mungkin kamu akan menjadi "korban" dari banyak ketidaktahuan Ibuk dan Bapak tentang bagaimana mengurus anak.

Bening, jadilah manusia yang baik hati dan selalu bahagia. Saat kamu dewasa nanti lihat gambar-gambarmu yang Ibuk abadikan. Mungkin nggak akan terlihat ada Ibuk di sana, hanya ada kamu dan terkadang bersama Bapakmu karena Ibuk juru potretnya. Semoga kasih Ibuk tetap terabadikan di hatimu, meski nggak ada gambarnya. Ibuk sayang Bening :*

You Might Also Like

0 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.