Bukan Hanya Aku, Suamiku Juga Melahirkan Anakku

Apakah laki-laki bisa melahirkan anaknya? Menurutku bisa, suamiku membuktikannya malam itu.

HPL masih Februari, meskipun ini sudah akhir Januari, nggak nyangka sama sekali dia akan lahir hari Jumat, 26 Januari 2018.

Lituhayu Bening Pambayun. Anak perempuan pertama yang cantik dan jernih hatinya.

Berawal dari perut nggak enak sejak siang, tapi nggak mirip kontraksi, lebih mirip mual. Awalnya kukira karena ada bau sampah yang terbawa angin kencang saat hujan. Kebetulan tetangga depan rumah menimbun cukup banyak sampah dan memang bikin mual.

Malas makan karena mau muntah rasanya, tapi tetap masak setelah mikirin suami. Akhirnya matanglah tempe goreng dan sop bihun pakcoy telur. Tadinya nggak mau makan, tapi seperti ada yang memaksa, akhirnya makan juga. Makan siang jam 4 sore lebih. Pagi cuma makan lontong sayur lodeh setelah jalan-jalan subuh.

Sore, saat suami sudah pulang kerja, curhat belum mandi karena perut nggak enak, padahal nggak ada hubungannya hahaha. Dipaksa tetap mandi biar segar katanya. Usai mandi, perut makin nggak enak, mulai agak kram. Suami pun mengusap-usap perut dengan gerakan memutar (ini usapan favorit si janin), memijat bagian punggung juga. Tapi perut yang nggak enak tak kunjung reda. Sholat maghrib berjamaah dan baca Yasin berdua juga tak menyurutkan rasa nggak enak.

Berbagai upaya aku lakukan untuk menghilangkan rasa nggak enak. Dari mulai duduk di birthing ball sampai tiduran. Tapi tak ada satupun yang manjur, duduk di birthing ball lumayan membantu tapi tidak signifikan. Aku pun tiduran sambil menghitung kontraksi pakai aplikasi. Ternyata intervalnya cukup lumayan. Suami keluar membelikan air kelapa, biasanya bisa menenangkan perutku. Benar saja, aku pun BAB. Usai BAB tapi ternyata perutku masih nggak enak. Kaku sekali. Searching sana-sini tentang kontraksi, padahal sudah baca dari kapan tahun juga.

Entah atas insting apa, suami bergegas untuk berkemas. Untuk perlengkapan bayi sudah siap sejak beberapa hari lalu, tapi untuk perlengkapanku justru belum siap. Awalnya dia memasukkan barang-barangku ke tasku, tapi dikeluarkan lagi dan dimasukkan ke tas ranselnya yang lebih besar. Dia sudah mulai gugup tapi belum yakin aku benar-benar akan melahirkan.

Tak kunjung reda kontraksinya, aku mengutarakan saran agar kami ke rumah sakit saja karena sudah lebih dari satu jam tidak ada perubahan. Suami segera pesan bluebird dan tak berapa lama kami pun tiba di RS. Di UGD, aku diperiksa tekanan darahnya oleh perawat sambil menunggu bidan. Sementara suami menyelesaikan administrasi pendaftaran. Kami memang pasien di rumah sakit ini dan sudah jauh-jauh hari berencana melahirkan di sini.
"Sudah bukaan 1, mau pulang dulu apa gimana?"

Biasanya kalau pembukaan 1 memang masih lama untuk sampai ke pembukaan lengkap. Tapi aku memutuskan untuk tidak pulang karena usaha untuk naik taksi tadi sudah cukup payah. Benar saja, kontraksiku nggak ada istirahatnya, hanya selang dua menitan. Dan tak berapa lama setelah dipindah ke ruang observasi ternyata sudah masuk bukaan 6, cepat sekali.

Di sini aku merasakan betul kalau aku nggak melahirkan sendiri. Suamiku juga ikut melahirkan. Dengan rasa dan pikiran campur aduk, dia terus mendukungku dengan doa, pegangan tangan, elusan di punggung, usapan di perut, hingga joke yang kadang garing hahaha. Dia berusaha sekuat tenaga mengurangi rasa sakitku.

"Wah, pasangan mandiri ini," celetuk bidan.

Memang, kami masih menantikan anak pertama tapi berani-beraninya hanya datang berdua untuk persalinan, tanpa orang tua kami masing-masing. Rencananya hari minggu orang tua suami baru akan datang karena HPLnya memang masih Februari.

Tapi ternyata si janin memilih tanggal lahir sendiri dan hanya ingin ditemani bapak ibunya. Bertiga saja.

Dia memilih hari saat bapaknya sudah pulang dari Jakarta untuk workshop. Membiarkan bapak istirahat dulu beberapa hari. Dia juga memilih hari tepat saat bapaknya udah gajian, hahaha. Meski dicover asuransi, tentu tetap butuh pegangan agar hati tenang. Dia bahkan memilih awal kontraksi saat bapaknya sudah pulang kerja. Semuanya dia pilih agar bisa melahirkan bertiga bersama bapaknya.

Suami dan aku tentu sama-sama novice dalam hal persalinan. Cuma bermodal ilmu-ilmu dari internet kami nekat berjuang. Dan suamiku sangat sempurna malam itu, perfect untuk disebut suami siaga.

Begitu pembukaan sudah lengkap dan dokter datang, aku diminta mengejan. Aku kira suami tidak akan berani melihat proses persalinan. Aku kira dia akan lebih memilih memandang wajahku saja. Tapi ternyata tidak, dia memegang tanganku, menyaksikan si bayi dari mulai crowning sampai menangis pertama kalinya, sampai plasenta lahir. Dia bahkan berani melihat proses episiotomi. Luar biasa! Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas setahuku tidak semua lelaki sejantan itu. Aku sangat tersentuh dan respect di saat yang sama. I love you!

Aku sendiri melewati proses persalinan ini dengan rasa yang tak bisa digambarkan. Proses pembukaan 1-lengkap yang begitu cepat, total hingga lahir hanya butuh waktu 3,5 jam. Kata dokter dan bidan ini luar biasa cepat untuk ukuran ibu baru. "Nikmat"nya? Tentu berkali lipat karena jika biasanya bisa beristirahat di sela tahapan pembukaan, aku tidak bisa. Rasa "nikmat" yang dirasakan terus meningkat. Entah berapa kali aku bilang "nggak kuat" di detik-detik akhir perjuangan ini. Tapi suami, bidan, dan dokter terus meyakinkan aku bisa. Yang lebih luar biasa adalah kekuatan yang datang dari janin. Dia benar-benar melahirkan dirinya sendiri.

Aku tidak bisa bilang proses persalinanku 100 persen gentle karena di akhir aku merasa nggak kuat. Tapi sejak awal tanda-tanda melahirkan muncul sampai bayi lahir, aku sadar betul apa yang terjadi dan apa yang harus kupilih. Termasuk saat aku membiarkan tubuhku diinfus dan diepisiotomi. Meski aku tidak suka, tapi aku paham bahwa tubuhku saat itu memang butuh dua tindakan ini.

26 Januari 2018 jadi hari yang luar biasa. Aku membuktikan sendiri apa yang orang bilang bahwa "nikmat"nya melahirkan akan kita lupakan begitu si bayi lahir. "Nikmat" itu benar-benar berganti jadi rasa nikmat ketika IMD, skin to skin ibu dan bayi.

Aku membuktikan sendiri bahwa cinta tanpa syarat itu benar-benar ada, bahkan pada diri seorang pria. Cinta suamiku ke aku dan anaknya sangat luar biasa malam itu. Semua orang mungkin berfokus pada perjuangan ibu saat melahirkan yang luar biasa. Tapi bagiku suamiku juga sangat layak menyandang gelar "telah melahirkan" anakku.

Hari itu kami bertiga sama-sama melahirkan sosok Bening. Aku melahirkannya, suamiku juga, begitu pula Bening yang melahirkan dirinya sendiri.

Orang lain akan bilang saat seorang anak dilahirkan, hari itu pula orang tua dilahirkan kembali. Tapi bagiku tidak, hari itu bukan dilahirkan sosok aku sebagai ibu atau suamiku sebagai bapak. Kami tak bisa sepercaya diri itu langsung menyebut diri kami sudah menjadi bapak atau ibu. Hari itu hanya lahir sebuah tanggungjawab untuk menjadi bapak dan ibu yang kebetulan diemban oleh aku dan suami.

Melahirkan tidak semata-mata menjadikan kita pantas disebut seorang ibu. 
Memberikan sperma juga tak lantas menjadikan kita pantas disebut bapak. Melaksanakan semua tanggungjawab kita pada si anak selama hidupnya adalah yang membuat kita pantas mengatakan bahwa kita adalah seorang ibu atau bapak.

Bismillah, semoga aku dan suami bisa benar-benar mengemban tanggungjawab ini seumur hidup kami.


Segala puji bagi-Mu Yaa Robb.
Terima kasih suamiku, nggak ada kata-kata yang bisa mewakili rasa syukurku telah memilihmu.
Terima kasih anakku yang telah memilih kami berdua untuk membesarkanmu.
Aku sangat bersyukur.

You Might Also Like

2 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.