Perlukah Mengonsumsi Obat Penguat Kandungan yang Harganya Selangit?

Obat Penguat Kandungan (Sumber Gambar: youtube.com)

Setelah mendapatkan hasil positif dengan satu garis samar-samar, aku dan suami memutuskan untuk memeriksakan kandungan ke Rumah Sakit Bhakti Darma Husada, Benowo, Surabaya. Tanggal 15 Juni 2017, kami diperiksa oleh dr. Benediktus Arifin menggunakan USG transvaginal karena USG lewat perut belum kelihatan. Waktu itu janin baru berusia 6 minggu dan diperkirakan lahir pada 7 Februari 2018. Selain vitamin, kami juga diberi resep obat penguat kandungan, merknya duphaston dan harganya mahal banget! Suami sampai kaget saat menebusnya di apotek.

Karena mahal, kami jadi penasaran, sebenarnya obat penguat kandungan itu benar-benar dibutuhkan nggak sih?

Masa awal kehamilan: belum kelihatan tapi justru paling rawan

Selama masa awal kehamilan, aku hampir tidak merasakan perubahan apapun secara fisik sampai trisemester pertama berakhir. Perut masih rata, mual muntah juga seadanya (nggak tiap hari), pokoknya seperti belum hamil saja.

Tapi jangan salah, meski tidak terlalu kelihatan, ternyata masa-masa awal kehamilan justru paling penting karena pada masa inilah organ mulai terbentuk. Asupan makanan sangat perlu diperhatikan demi perkembangan si janin. Keguguran juga rentan terjadi di masa awal kehamilan karena semakin tua usia kandungan justru cenderung makin kuat. Karena itu kita disarankan untuk ekstra berhati-hati menjaga tubuh di awal kehamilan. Saking hati-hatinya, aku selalu khawatir tiap melewati 'polisi tidur', takut si janin kenapa-kenapa.

Suami juga memintaku berhenti bekerja karena jam kerjaku cukup padat dari 9AM-5PM lanjut di rumah masih mengerjakan proyek menulis freelance dan juga menyelesaikan tesis. Pikiranku memang cukup terkuras. Toh tanpa bekerja di kantor, aku masih bisa tetap menghasilkan. Paling tidak 2/3 gaji ngantor dengan beberapa keuntungan lain yang didapat tanpa adanya jam kerja ketat. Dengan pertimbangan itu, aku mengikhlaskan kehidupan wanita karier selama masa kehamilan.


Obat penguat kandungan, per butir Rp20 ribu lebih!

Intinya pada trisemester pertama kita memang berusaha untuk menguatkan kandungan agar tak keguguran. Salah satu usahanya adalah dengan meminum obat penguat kandungan. Merk duphaston yang diresepkan oleh dr. Benediktus harganya cukup mahal. Tapi sepertinya merk ini juga cukup populer. Sebagai informasi, per butir pilnya mencapai Rp20 ribu lebih kalau kita beli di apotek. Jadi kebayang berapa yang harus dibayar kalau menebus resep untuk sebulan jika diminum satu butir per harinya, hampir Rp750 ribu! Sementara itu, di toko online ada yang menjualnya seharga Rp16 ribu. Tapi untuk urusan obat-obatan aku lebih percaya beli di apotek sih.


Bagaimana menjaga kandungan di masa awal kehamilan?

Berdasarkan beberapa literatur yang kubaca, obat penguat kandungan tidak wajib dikonsumsi, kecuali memang ada gangguan kehamilan misalnya ibu hamil melakukan pekerjaan yang cukup berisiko, sering bepergian dan semacamnya. Tapi itupun kalau sudah dikonsultasikan ke dokter ya!

Demi menjaga kandungan sebenarnya lebih penting bagi ibu hamil untuk mengonsumsi suplemen berupa asam folat, vitamin C,D,E, kalsium dan zat besi. Suplemen ini bisa kita beli tanpa resep di apotek, biasanya pihak apotek baru menwajibkan resep dari dokter pada kehamilan trisemester 3.

Selain meminum suplemen tentu ibu hamil harus rajin berolahraga (yang diperbolehkan untuk ibu hamil) dan menjaga asupan makanan. Asupan informasi seputar masa kehamilan juga sangat penting, jangan cuma percaya mitos ini-itu. Karena knowledge is power!


You Might Also Like

0 comments

SUBSCRIBE NEWSLETTER

Get an email of every new post! We'll never share your address.