Friday, 12 January 2018

Memutuskan Punya Anak, Harus Nunggu Mapan Dulu?

Sumber Gambar: vanityfair.com

Beberapa teman yang sudah menikah memilih menunda kehamilan karena merasa belum mapan. Belum memiliki rumah, kendaraan yang layak dan semacamnya jadi salah satu pertimbangan ketika memutukan akan langsung punya anak atau tidak. Selain itu karier yang sedang dibangun juga menjadi salah satu alasan untuk menunda punya anak, terutama bagi wanita.


Walau bagaimanapun, kehamilan memang akan berpengaruh terhadap aktivitas si wanita dan juga keuangan keluarga. Apalagi jika kita tidak memiliki asuransi atau jaminan kesehatan, hamil dan melahirkan akan terasa sangat mahal. Kita tidak bisa begitu saja ingin hamil dan melahirkan normal, karena tidak ada yang tahu persis bagaimana kondisi tubuh kita nanti saat hamil sampai melahirkan. Tentu persiapan keuangan yang cukup harus dipertimbangkan.

Sebagai perkiraan, kemungkinan terburuk proses persalinan adalah melalui operasi caesar yang semurah-murahnya tetap di angka dua digit. Sementara itu periksa kehamilan dengan segala vitamin dan hal-hal lainnya mencapai ratusan ribu tiap periksa. Belum lagi barang-barang yang harus kita beli selama hamil dan persiapan melahirkan seperti celana dalam dan bra baru, yang tentunya tak bisa dihindari.

Meski kondisi keuangan juga jadi pertimbangan, ada hal-hal lain yang juga harus kita pertimbangan seperti usia kita sekarang dan iman bahwa setiap manusia lahir membawa rezekinya sendiri. Beberapa orang mungkin ingin lebih realistis dan memilih tidak hamil dulu, tidak masalah, setiap orang berhak atas pilihan apapun.

Aku dan suami memutuskan untuk tidak menunda, karena kami percaya anak adalah berkah tersendiri. Selain itu kami juga memiliki asuransi kesehatan dengan limit yang cukup, BPJS juga ada, kondisi keuangan pun baik-baik saja meski rumah masih dibayari perusahaan tempat suamiku bekerja dan impian punya kendaraan pribadi belum terwujud. Kami yakin nanti akan ada jalannya sendiri untuk mencapai impian-impian kami setelah anak kami lahir.


Usia terbaik untuk hamil

Laman Alodokter menjelaskan bahwa usia terbaik untuk hamil adalah usia 20-an. Dari segi biologis tingkat kesuburannya paling tinggi dan jumlah sel telur yang diproduksi melimpah. Berikut ini beberapa keuntungan hamil di usia 20-an:
  • Risiko keguguran jauh lebih rendah.
  • Risiko memiliki gangguan pada organ kelamin seperti fibroid uteri sangat rendah.
  • Risiko mengalami komplikasi kesehatan seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) dan diabetes lebih rendah.
  • Melahirkan secara prematur atau memiliki bayi dengan berat badan rendah saat lahir mungkin lebih jarang terjadi pada usia ini.
  • Ketika anak sudah beranjak besar, Anda masih bisa terlihat muda.
Semakin tua usia wanita, akan semakin berisiko kehamilannya, walaupun bukan tidak mungkin ia akan baik-baik saja.

Aku sendiri hamil di usia 24 tahun dan baru merasa benar-benar hamil saat masuk trisemester ke-3. Hampir tidak pernah ada keluhan yang berarti selama masa kehamilan. Semua gejala yang dihadapi wajar terjadi pada ibu hamil.

Anak membawa rezekinya sendiri

Aku dan suami sangat mempercayai hal ini, karena selama menjalani masa kehamilan hingga usia 9 bulan ini kami benar-benar membuktikannya. Bahkan ketika ada masalah keuangan yang terduga, masih ada saja jalan penyelesaian yang tidak terlalu rumit muncul sebagai alternatif. Semua biaya kehamilan tak mengalami masalah yang berarti karena di-cover asuransi dari perusahaan suami. Dengan beberapa strategi kami bersyukur bisa mengatur limit asuransi untuk memberikan yang terbaik bagi janin kami.

Menjadi Keluarga Terencana

Meski belum pernah meminum pil KB atau melakukan suntik KB maupun memasang spiral dan metode KB lainnya, aku dan suami sudah merencakanan bagaimana keluarga kami akan tumbuh. Jarak kehamilan pertama dan kedua juga sudah kami rencanakan meskipun yang pertama saja belum keluar hahaha.

Bagiku pribadi sangat penting merencanakan keluarga, tak hanya karena masalah kemapanan tapi untuk perkembangan psikologis anak juga. Mereka butuh ruang untuk tumbuh dan perhatian yang cukup dari orang tuanya. Karena itu sejak sebelum menikah aku sudah membekali diri dengan pengatahuan tentang KB alami, ilmu parenting, dan semacamnya. Semoga bisa diaplikasikan, karena apa yang kita rencanakan tetap ditentukan hasil akhirnya oleh Tuhan.