Friday, 12 January 2018

Lebih Baik Periksa ke Bidan atau Dokter Kandungan Ya?

Sumber Gambar: parents.com

Banyak orang yang bingung mau periksa ke dokter atau bidan saat sudah positif hamil. Aku dan suami pun mengalami kegalauan serupa. Tapi mengingat asuransi kami meng-cover biaya dokter kandungan di beberapa rumah sakit tertentu, akhirnya kami memutuskan untuk periksa ke dokter kandungan saja.


Pemilihan di awal usia kehamilan sangat penting karena akan lebih baik jika kehamilan kita dimonitor oleh satu tenaga kesehatan dari awal hingga persalinan. Jadi ia sudah paham betul dengan perkembangan dan kondisi kehamilan kita. Untuk menentukan pilihan ada beberapa faktor yang bisa kita pertimbangankan, aku sendiri memutuskan periksa ke dokter kandungan setelah mempertimbangkan hal-hal berikut ini:


Jaminan kesehatan yang dimiliki.

Sejak bekerja aku sudah memiliki BPJS Kesehatan sendiri dan usai menikah jaminan kesehatanku bertambah, yaitu asuransi dari perusahaan suami, BPJS Kesehatanku juga ter-upgrade jadi kelas I setelah resign dan bergabung dengan perusahaan suami. Sebelumnya dengan status 'budak' aku hanya mendapat BPJS kelas II di perusahaan tempatku bekerja. Kalau di perusahaan suami, levelnya ikut suami, Alhamdulillah hehehe.

Faskes I BPJS biasanya ada di puskesmas dan butuh rujukan untuk bisa melakukan pemeriksaan kesehatan atau tindakan medis di fasilitas kesehatan lainnya. Terlihat ribet, apalagi untuk urusan hamil dan melahirkan yang sulit ditebak. Sementara itu, asuransi yang kami miliki tampak lebih mudah penggunaannya. Ada beberapa rumah sakit yang bisa dipilih dna juga ada sistem reimburse. Setelah survei ke beberapa rumah sakit terdekat dan melihat pelayanan rumah sakit maupun dokternya, kami akhirnya memutuskan menggunakan asuransi saja. Kami melakukan pemeriksaan rutin selama masa kehamilan di RS Bunda Kandangan, Surabaya.

Tempat melahirkan yang direncanakan.

Tentu semua wanita akan menjawab ingin melahirkan di tempat yang nyaman. Demi mewujudkan kenyamanan itu, pertama aku mulai mempertimbangkan untuk melahirkan di Surabaya atau di Cilacap. Kalau di Cilacap akan lebih dekat dengan orang tua yang sudah berpengalaman soal lahiran. Tapi cukup jauh dari fasilitas kesehatan seperti rumah sakit besar karena rumahku di desa. Pilihan satu-satunya hanya bidan. Selain itu aku juga harus jauh dari suami karena ia bekerja di Surabaya dan tidak mungkin mengambil banyak cuti untuk menemaniku di Cilacap. Biaya transportasi juga pasti akan membengkak. 

Sementara itu kalau melahirkan di Surabaya, risikonya aku harus sendirian di usia kehamilan tua karena jauh dari orang tua maupun mertua. Akan cukup repot jika meminta orang tua datang lebih awal dan menemani dalam waktu yang cukup lama. Semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan. Tapi aku memutuskan untuk lahiran di Surabaya saja, bagiku berada di dekat suami selama proses kehamilan sampai melahirkan nanti akan jauh lebih nyaman.

Pertanyaan berikutnya, mau melahirkan di rumah, rumah bersalin milik bidan, atau rumah sakit. Melihat kondisi peralatan di rumah kami yang minim (misalnya panci yang terlalu imut untuk merebus air hahaha), melahirkan di rumah sepertinya belum mungkin. Beberapa ratus meter dari rumah kami ada rumah sakit bersalin dengan satu bidan yang stand by. Tapi kembali pada pertimbangan jaminan kesehatan, kami memilih berencana melahirkan di RS Bunda Kandangan yang jaraknya 5 menit menggunakan mobil dari rumah. 


Pengalaman melahirkan yang diinginkan.

Ada yang memilih ingin melahirkan secara normal adapula yang caesar, semuanya tentu dengan pertimbangan masing-masing. Aku sendiri ingin melahirkan normal secara gentle, dengan penuh kesadaran atas beberapa kemungkinan pilihan yang bisa kuambil selama proses persalinan. Terkait dengan dokter atau bidan yang harus dipilih, pilihlah mereka yang menghormati preferensi melahirkan yang kita inginkan. Karena untuk mewujudkan pengalaman melahirkan yang kita inginkan, dukungan tenaga kesehatan sangat diperlukan.

Pengalaman melahirkan di bidan dan dokter bisa saja sangat berbeda. Kondisi rumah sakit dan rumah bersalin didesain secara berbeda. Bidan juga cenderung memiliki lebih banyak waktu untuk melayani pertanyaan dan memberikan perawatan dibandingkan dengan dokter. Beberapa literatur menyebutkan bahwa bidan sangat pro normal dan minim sekali melakukan intervensi medis, sementara dokter sebaliknya.

Saat tahu hal ini aku juga sempat was-was, karena aku ingin melahirkan normal dengan nyaman dan gentle tapi pertimbangan lain mengharuskan aku untuk periksa ke dokter bukan bidan dan berencana melahirkan di rumah sakit. Untungnya setelah survei lebih mendalam sampai ke ruang bersalin dan rawat inap di RS Kandangan, aku lebih tenang, karena mereka sangat pro normal dan ada bidan juga yang akan menjadi asisten dokter di sana. Alhamdulillah!


Kondisi kehamilan.

Bidan adalah ahlinya persalinan normal sedangkan dokter ahlinya persalinan dengan tindakan medis walaupun normal pun sangat mungkin. Jika selama kehamilan kita tidak mengalami kondisi medis tertentu yang cukup berisiko saat persalinan, melahirkan besama bidan bisa jadi pilihan terbaik. Tapi jika kita memiliki kondisi kehamilan yang berisiko atau cukup was-was dan ingin mempersiapkan segalanya lebih hati-hati  terutama terkait fasilitas yang ada di tempat melahirkan, dokter kandungan dan rumah sakit adalah pilihan terbaik.

Aku sendiri ingin lebih hati-hati pada kehamilan pertamaku, apalagi kami juga jauh dari orang tua dan mertua yang mungkin saja belum ada di sini saat aku melahirkan nanti. Jadi Bismillah, semoga RS Bunda adalah pilihan terbaik dan semuanya berjalan lancar saat persalinan.