Monday, 15 September 2014

Rindu

"Ada rindu-rindu yang tak membutuhkan pertemuan, sebesar apapun kau menginginkannya"

Sumber Gambar: trbimg.com


Cerita ini kuulang. Sebuah tempat yang pernah terbayang menjadi tempat kembali yang nyaman. Ruang-ruang yang menampung jutaan kata "pulang" dari para mantan penghuninya. Aku tak percaya ada rindu yang terobati oleh keterpisahan. Tempat ini begitu kurindukan dan aku memaksa kembali.


Tanpa membawa hujan dan kehangatan kamar kost Nikita, tanpa tiga bayi kucing yang telah tumbuh dewasa dan mulai birahi, tanpa ayam presto sambel ijo, tanpa kalian aku kembali ke tempat "pulang" ini.
Banyak mimpi, harapan, dan benih-benih yang siap aku semaikan di tempat ini. Berharap luka-luka kota hujan dapat terguyur. Tapi Tuhan berkata lain, aku harus sedih dulu. Selalu ada suka sebelum duka. Eh sebentar, suka dan duka ini tidak berhubungan kausal tapi mereka terhubung dalam satu siklus bernama rindu. Lagi-lagi rindu.

Sedihku dimulai dari kesendirian. Kenyataan bahwa semua telah berubah dan berbeda adalah benar. Orang-orang telah berganti rupa, dinding-dinding telah berganti warna.

Nasib telah mengutuki pemiliknya, aku terjebak. Aku punya janji dan tanggungjawab di tempat ini. Aku menjalaninya dengan bertahan. Mendengarkan musik dengan volume tertinggi demi tak mendengar suara yang tidak kita suka. 

Setiap tempat memiliki kultur yang berbeda dan dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.

Kultur "kasta" dan praktek "mini-neokolonialisme" harus ditelan utuh, anggap saja dalam bentuk es krim.

Bertemu dengan orang-orang yang "melemahkan" cukup disikapi dengan "siap berperang".

Tiap orang punya tempat masing-masing di hunian Tuhan ini. Jika kamu masih menderita artinya kamu belum ada di tempat yang tepat. Ukurannya adalah kedamaian.

Dan yang harus selalu kita ingat adalah di dunia yang plural ini, MUSTAHIL membuat semua orang menyukai kita. That's All!!!