Thursday, 1 May 2014

My Middle Child Syndrome Stories (1)

"Nggak usah khawatir masalah penginapan, transportasi, dan biaya wisuda lainnya. Pokoknya nggak usah dipikir, biar Ibu dan Bapak yang siapin." Itu bukan kata-kata orang tuaku. Itu kalimat yang dikatakan Nur padaku. Dia menyadur ucapan ibunya di telepon beberapa menit yang lalu. Padahal Nur belum lulus, seminar skripsi saja belum, belum lagi sidang, apalagi wisuda? Sementara aku? Aku sudah lulus hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan ,IPK 3,56 dan predikat Sangat Memuaskan. Hanya ada satu nilai C dan 2 BC dalam transkripku, sisanya penuh dengan nilai A, AB, dan B. Tapi perjalanan orang tuaku untuk memberikan penghormatan atas kelulusanku tidak semudah orang tua Nur. Keluargaku mungkin tidak akan datang semua, mungkin hanya Ibu dan Masku.



28 Februari kami sibuk bersiap-siap pergi ke Jogja. Bukan hanya aku, ibu, bapak, dan adik, tapi juga paman, bibi dan sepupu-sepupuku. Orang tuaku sudah menyiapkan cukup banyak uang untuk perjalanan ini. Dari mulai menyewa mobil pamanku sampai biaya untuk menginap di Jogja nanti. Besok kakakku wisuda, Si anak pertama laki-laki, kami semua harus melakukan penghormatan di kampusnya.

28 April aku sibuk memikirkan acara wisudaku. Mereka tidak datang. Uang yang kami miliki tidak cukup lagi untuk perjalanan yang mungkin lebih jauh dari Jogja, apalagi untuk menginap. Lusa aku wisuda. Acara yang digelar untuk menghormati kelulusanku. Aku yang berjuang mendapatkan beasiswa untuk kuliah. Aku yang kuliah dan uang sakunya tak lagi meminta ke orang tua. Aku yang menghabiskan hanya beberapa keping logam orang tuaku selama kuliah disini. Aku yang wisudanya tidak akan dihadiri. Uangnya sudah habis terpakai untuk wisuda masku.

***
"Ibu nggak bisa berangkat sore ini, mungkin besok pagi, soalnya adik masih panas badannya," artinya ibuku akan sampai tanggal 29 malam. Padahal aku wisuda 30 pagi, artinya lagi dia tidak akan membantuku mempersiapkan keperluan wisudaku. Dia bahkan belum bertanya apa yang belum kusiapkan, apakah sudah punya peniti? apa toganya pas? atau pertanyaan lainnya. Dia belum atau tidak akan menanyakan itu. Aku berprasangka baik, mungkin karena dia tidak pernah mengalami bagaimana itu wisuda sehingga tidak tahu betapa ribet persiapannya. Ah, tapi aku tetap saja kecewa. Aku, si Antagonis benar-benar kecewa karena aku menjadi nomor dua lagi.

Tak cukup dengan itu, malamnya Ibu SMS lagi, "Ibu nanti mampir dulu ke Depok, ke tempat Mas sekaligus ketemu saudara Ibu". Masku memang sudah beberapa minggu ini tinggal di Depok, di tempat saudara Ibu. "Ibu kesana paling udah malem banget, apa besok paginya aja sekalian?" Demi Tuhan aku kecewa luar biasa dengan kalimat ini. "Nggak bisa kalau pagi, IPB macet kalo wisuda. Jangan malem-malem juga, aku harus bangun pagi soalnya, kan ke salonnya subuh-subuh". "Oh gitu? Siap ibu pasti prioritasin kamu, sekarang kamu santai aja siapin apa-apanya buat besok. Ada yang perlu dibantu gak? Ada yang kurang nggak?" sayang bukan itu yang Ibu jawab. Ibu bilang "Oh ya udah ntar deh liat ya, coba diatur lagi waktunya". Aku si Antagonis sudah semakin kecewa meraung-raung. "Aku wisuda Bu!" teriakku sendirian dalam hati yang sempit tanpa air mata.

Mereka, Ibu dan Masku datang, aku tidak salim, tidak pula tersenyum. Mengambil bantal lalu tidur di lantai, menghormati ibuku karena hanya ada satu tempat tidur yang hanya pas untuk satu badan. Kami bertiga berguling-guling, tidak bisa tidur. Aku menarik selimut. "Mas, nggak kedinginan ta? Biasanya kan pakai selimut" yang kutangkap, Ibu memintaku memberikan selimut yang kupakai ke Masku. "Memangnya aku juga nggak butuh selimut? Aku besok kan wisuda, kalau masuk angin gimana?" Aku berteriak lagi pada diriku sendiri.

Lama kami tak bisa tidur, "Aduh kasurnya spring bed Ibu nggak nyaman, Mas aja yang disini." aku tahu ini alasan ibu agar masku tidak tidur dibawah dan kedinginan. Buktinya keesokan harinya ibu menikmati kasur spring bed-ku. Masku pun menurut, Ibu dan anak yang penuh kasih sayang. "Aduh kasurnya spring bed Ibu nggak nyaman, kamu aja yang tidur sini, lagian kamu kan besok seharian duduk dengan dandanan kayak penganten." ini bayanganku saja. Monolog terkadang sangat menyakitkan karena penuh dengan dugaan hiperbolis.

Rasa iri ini sudah kupendam dan kutumpuk sejak kecil dan sikap Ibu tidak pernah berubah sampai hari aku diwisuda. Ibu tetap tidak menyadari jika sikapnya selalu membedakan aku dengan saudaraku lainnya. Aku si nomor dua yang dinomorduakan.