Sunday, 15 November 2015

Kita Pembawa Air

Cinta memang gila dan buta. Baru saja aku setengah memaki masa silam dan berniat memakinya lagi dan lagi. Tapi semuanya urung kulakukan setelah Sang Cinta datang. Ini benar-benar memalukan. Rasa-rasa semacam ini memang sulit ditutupi. Sudah kusembunyikan serapi apapun, sesuatu di dalam dada tetap saja bergetar. Tak mau diajak berbohong barang sebentar.

Rasa ini aku nobatkan sebagai cinta juga akhirnya. Cinta yang lebih dewasa, elegan. Tak memburu kepemilikan, tak memburu tujuan, tak memburu apapun. Tak meminta waktu, tak meminta kesetiaan, tak meminta kehadiran, tak meminta apapun. Cinta kita yang seperti senja, yang sudah pasti hilang dan pasti akan datang lagi. Bagaimanapun, terima kasih telah hadir mengakhiri panjangnya rasa sakit di banyak waktu yang telah kita lewati. Sesederhana apapun, cinta ini begitu kuhargai. Biarkan seperti ini, bahkan jika nanti harus berakhir, let it go with the sweetest goodbye. Saranghae Dangshiiiin :* :* :*

Sumber Gambar: vice.com

Kita adalah pembawa air
Yang berjuang menghidupi hidup kita sendiri
Hidup yang diuapkan Sang Cinta
Kita berjuang dengar air yang sama dalam aliran berbeda
Kita menunggu Tuhan
MenungguNya memaki takdir