Saturday, 15 November 2014

Kisah Si Bayang

Malam tahun baru, tepat dua jam sebelum lonceng jam-jam klasik berbunyi, aku mengkhatamkan (lagi) sebuah novel legendaris. Anak Semua Bangsa, karya Pramoedya Ananta (Mas)Toer saat dibui di Pulau Buru. Bagian dari tetralogi Buru ini benar-benar mengacak-acak idealismeku saat menulis. Kejelian tulisanku memang berkembang akibat "penderitaan" yang bertubi-tubi. Bagiku penderitaan itu adalah modal besar untuk mengantarkanku sebagai penulis. Emosiku pada setiap penderitaan menjadi katalisator ajaib pada setiap kata yang kurangkai. 

Konsep ini disadur dari salah satu musisi favoritku, Adam Levine , saat menggarap Songs about Jane. Tapi bagian 9 Anak Semua Bangsa memuntahkan idealisme yang kuagungkan ini dengan jijiknya. Katanya, menulis itu untuk mengisi hidup, dan aku tak boleh berangkat dari penderitaan saja. Kalian harus membaca sendiri detail tamparan Pram tepat di mukaku. Membacanya aku merasakan sakit. Sakit yang sama seperti duka Minke untuk Annelies yang menyerah pada hidup. Dan entah, dalam setiap cerita cinta yang kubaca, aku selalu membawamu sebagai sosok ketiga, Bayang!

Namamu Bayang, laki-laki yang membuatku terseret lemas sejak beberapa tahun lalu. Tak peduli bagaimana aku bangkit. Bagaimana beratnya menyusuri jalanan mesra ini sendirian. Bagiku, kepergianmu adalah senyap. Aku melihat dunia ini penuh riuh dengan orang-orang yang bersuara. Tapi aku tak mendengar suara itu. Aku hanya menemukan komat-kamit mulut mereka yang merubungku. Senyap. Aku berusaha keras menerka kata per kata yang mereka suapkan padaku. Aku hampir menyerah, tapi aku tak melakukannya. Terlalu banyak tapi yang masih harus aku tuliskan hingga Tuhan membalasmu.

Bukan hari ini saja aku mengingatmu. Mengingat bahwa aku membencimu. Benci yang tak akan muncul tanpa cinta. Kenyataan bahwa aku selalu membutuhkan sosok yang persis sama sepertimu selalu membuat aku gila. Walaupun jika benar persis sama, maka aku akan menjadi si Lemah lagi. Kesalahanku dulu adalah menggantungkan diri sepenuhnya padamu. Kini aku memperbaikinya dengan menjadi makhluk yang tidak percaya siapapun kecuali diriku sendiri.

Setiap kali mengingat bahwa kini kau masih selalu saja beruntung, aku selalu bertanya pada Tuhan: Butakah Engkau? Kenapa tak Kau balas juga? Tapi diam-diam sebenarnya aku juga takut mengakui bahwa mungkin saja ini jawaban Tuhan bahwa aku lah Sang Salah. Tapi bagaimana bisa? Aku yang dimainkan, disembunyikan, dan dihina ini menjadi Sang Salah. Tidakkah Kau lihat berapa jumlah sakitku?

Haruskan aku ...

Tuhan aku tidak punya, tidak berani berkata-kata padaMu. Aku pemberontakMu yang akan segera menyerah dan kembali.
Bayang, bagiku kau....