Sunday, 30 April 2017

Akhirnya Aku Menikahi Mantan!

Bulan Desember ratusan teman-teman heboh tatkala kami memproklamirkan (cielah apaan sih) bahwa kami sudah bertunangan. Paling tidak itu yang terlihat di kolom like dan komentar laman media sosial kami. Semuanya kaget, bahkan ada yang mengaku sangat bahagia seolah mereka ikut bertunangan. Dulu tahun 2010 waktu pacaran, memang ada beberapa orang yang terang-terangan "ngefans" dengan hubungan kami. Entah apa alasannya.

Singkat cerita kami kenal tahun 2010, waktu itu dia yang suka aku duluan hahaha. Bukan ke-geer-an, tapi waktu itu aku memang masih punya pacar, yang akhirnya harus kuputuskan. Prosesnya cukup drama, antara aku, dia, dan mantanku waktu itu. Tapi akhirnya semua berlalu.

Tahun 2011 aku meminta putus karena dia kuanggap mulai berubah. Dia ini tipikal yang over-excited dengan hal baru, dan ini membuatnya abai terhadap hal-hal lama. Aku merasa sudah terlalu banyak disakiti hahaha, maklum anak muda. Aku ingat betul bagaimana wajahnya saat mengejarku sedari tempat kami putus. Ah, aku belum tahu kalau hari itu keputusanku adalah awal dari pembelajaran hidup paling berat.

Tak semata-mata putus, kami masih saling berhubungan sampai tahun 2013. Bahkan ketika waktu itu kami sudah punya pasangan lagi masing-masing. Dan tahun 2013 adalah (((gelombang tsunami))) kedua dalam hidupku. Dia putus dengan pacarnya dan punya pacar lagi. Kali ini kami tidak lagi bisa sedekat dua tahun sebelumnya. Keadaannya berbeda dan dia menyalahi janji yang belakangan aku baru tahu kalau dia lupa dengan janjinya. Detailnya cukup jadi rahasia kami berdua~

Oya, dia adalah makhluk paling pelupa, tentang apapun. Sekarang aku sudah menyerah untuk mengandalkan ingatannya ini hahaha.

Sepanjang 2013 aku sulit menguasai emosi dan hidup begitu terpuruk. Tapi di tahun ini pulalah aku belajar banyak hal, terutama tentang diriku sendiri. Awal 2014 kami sudah mulai berteman lagi, tentu tak seperti dulu, tapi yang jelas kami sudah tak saling emosi. Tahun itu pula aku berhasil benar-benar pergi dari apapun yang berkaitan dengan dia dan dunianya. Sebuah kota baru, kehidupan baru dan ini berlanjut sampai tahun 2016. Bagiku dia cuma remah-remah masa lalu yang bisa jadi "bensin" untuk bahan tulisan-tulisanku, tidak lebih. Tak ada lagi kata berharap atau semacamnya.

Selama 2 tahun itu aku benar-benar lepas dari masa lalu yang setahun ke belakang benar-benar mengubah semua sisi kehidupanku.

Tapi takdir Tuhan akan jodoh memang unik. Mau lari kemanapun juga tetap saja dia yang kembali. Entah bagaimana ceritanya, semuanya terlalu singkat dan biasa saja untuk dijelaskan. Kamu hanya saling berkirim kabar, bertemu di sebuah cafe di Jogja, lalu mengunjungi sebuah tempat wisata, dan tiba-tiba kami memutuskan untuk menikah.

Tak lama kemudian dia melamar dan kami mempersiapkan pernikahan. Lalu jadilah. Sesederhana itu. 

Lalu bagaimana dengan masa lalu yang masih menyisakan pahit (mungkin), atau paling tidak kenangan yang tak baik? Ini tentu PR kami bersama untuk bisa me-manage mana yang harus diingat, mana yang harus dihapus, mana yang harus dibakar hidup-hidup :")