Thursday, 12 October 2017

Sulitnya Mengucapkan "Maaf Saya Hamil"

"Mbak, tasnya ditaruh di atas."

"(Maaf saya hamil, susah ngangkat berat) Maaf di sini aja susah nanti saya ngambilnya."

Kata-kata di dalam kurung nggak bisa ke luar, malah pengen nangis (sejak awal kehamilan emang paling susah nahan air mata, gampang banget ke luar tanpa alasan yang jelas). Di perjalanan sebelumnya sempat memaksakan diri menaruh tas di bagasi atas tempat duduk dan rasanya sakit di perut karena harus jinjit.

"Nanti kaki saya nggak bisa selonjoran."

"Saya bentar lagi turun kok Pak."

"Bandung masih nanti jam 1-an."

"Saya turun di Gandrungmangu, 3 jam an doang."

Malas menjawab lagi kumasukkan tas ke kolong kursi. Kebetulan kereta dari Jogja yang bisa turun di Gandrungmangu memang cuma kereta ekonomi, jadi kursinya berhadap-hadapan.

Aku juga sadar betul ini kendaraan umum, walaupun tasku ukurannya sangat kecil dan letaknya lurus dengan "jatah" kakiku, aku juga duduk paling pinggir dekat jendela, jadi tidak mengganggu lalu lintas atau hak siapapun (seharusnya). Tapi karena orang yang di depanku merasa terganggu, aku pun merasa punya kewajiban untuk "menyembunyikan" tasku di kolong.

Konsekuensinya tas akan jadi agak kotor dan bau (kayaknya) dan isinya jadi acak-acakan karena guncangannya lebih kencang (sepertinya). Nggak papa.

Aku hamil lho!

Kebetulan aku bukan tipe wanita hamil yang badannya besar. Sekarang berat badanku baru 47 kg di usia kehamilan sekitar 5 bulan. Itu sudah naik 6,5 kg dan ini normal menurut aplikasi weight tracker yang aku unduh di ponsel, ini karena BMI awalku memang underweight.
Berat 47 kg tentu tidak ada bedanya dengan berat-berat normal orang seusiaku bahkan masih cenderung "kecil". Paling perutnya yang kelihatan agak buncit. Apalagi dengan model baju tertentu, perutnya bisa sama sekali tidak kelihatan.

Meski kecil ukurannya , sayangnya symptomps yang saya alami tidak "mengecil" juga. Lower back pain, heartburn, mood-swing dan segala macam keluhan ibu hamil kualami, meski lebih sering kucuekin juga.
Dengan kondisi seperti ini hampir tidak ada orang yang menyangka aku hamil, apalagi orang baru yang nggak kenal. Dan sayangnya aku juga bukan orang yang mudah mengatakan "aku hamil". Misalnya waktu naik prameks, aku susah banget mau minta kursi prioritas, atau waktu naik ojek online yang kadang mementingkan kecepatan dan tidak hati-hati di bumping roads. Dan banyak hal lain saat beraktivitas harian dengan orang terdekat pun aku berusaha sebiasa mungkin, tidak terlalu minta diistimewakan.

Aku paham ini bukan cuma tentang tubuhku sendiri yang harus dijaga, tapi bilang "aku hamil" demi mendapatkan setiap keistimewaan rasanya memang sulit :(

Dek yang kuat ya :*