Friday, 6 October 2017

Sedihnya Harus Resign dan Sulitnya Jadi Ibu Rumah Tangga

Menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga? Ini selalu jadi pilihan dilematis bagi kebanyakan wanita, apalagi di negeri dengan budaya patriarki yang membumi. Apapun pilihannya pun kerap dikomentari khalayak, minimal tetangga kiri-kanan. 

"Udah dapet kerja enak-enak kok malah ke luar, yang pengen dapet kerja aja banyak tapi susah dapetnya."

"Nggak kasian apa itu suami sama anaknya tiap hari ditinggal kerja. Egois banget nggak inget kodrat."

Semuanya akan dikomentari pada waktunya.

Kerja bikin stres, nggak kerja ternyata jauh lebih stres


Meninggalkan karier yang sedang atau sudah dibangun tentu bukan hal mudah. Mengubah gaya hidup saat masih bekerja menjadi ala ibu rumah tangga juga sulit. Ritme hidup yang mendadak berubah akan menimbulkan stres, emosi, sampai krisis jati diri. Kepercayaan diri dalam kehidupan sosial menurun, kebebasan hidup seolah berubah, dan segala macam tetek-bengeknya. Meski dulu saat bekerja sering mengeluh stres karena load kerja berlebih, saat tak bekerja ternyata tingkat stresnya jauh lebih besar.

Itu juga saya rasakan saat memutuskan untuk resign setelah satu bulan menikah. Ada banyak sekali pertanyaan yang menghantui pikiran saya atas keputusan ini. Meskipun saya resign bukan karena suami dan lingkungan yang memegang teguh pemikiran ala patriarki, tapi demi menjaga tubuh saya dan si jabang bayi waktu itu.

Berhenti kerja usai menikah = takluk pada patriarki?


Hingga hari ini kegalauan tentang tepat atau tidaknya keputusan untuk resign masih berseliweran dalam pikiran saya. Saya belum pernah mengalami rasanya jadi pengangguran dalam waktu lama, meskipun sebenarnya sekarang saya juga masih berstatus mahasiswa dan punya aktivitas mengerjakan tesis yang tak kunjung selesai. Tapi tahu lah ya, mengerjakan tesis itu .... ya gitu deh!

Dulu usai lulus kuliah saya kebetulan langsung bekerja, menjadi guru selama satu tahun (2014) dan berlanjut jadi penulis (2015-2017). Bahkan ketika tahun 2016 saya memutuskan untuk mengambil program master, saya tetap sambil bekerja.

Saya juga tidak pernah punya rutinitas seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Di rumah, saya tidak pernah memasak dan sangat jarang membantu pekerjaan rumah tangga. Modal pengalaman tentang pekerjaan rumah tangga yang saya miliki satu-satunya hanya kemampuan hidup mandiri selama tinggal di asrama saat SMA dulu dan ilmu anak kostan yang saya dapatkan selama kuliah.

Untuk urusan pekerjaan rumah tangga saya benar-benar newbie, bisa dibilang tanpa pengalaman apapun. Mungkin ini pula yang membuat adaptasi saya cukup lama, selain secara ideologi, saya menolak kalau perempuan harus dirumahkan.

Saya tidak setuju dengan pernyataan "Kodrat wanita itu ya melayani suami, masak di dapur, diam di rumah, ngurus anak," pernyataan yang diamini hampir semua orang. Padahal hamil, melahirkan dan menyusui saja menurut saya bukanlah sebuah kodrat, melainkan pilihan yang mana setiap wanita boleh memilihnya ataupun tidak. FYI, saya memilih untuk mengandung meski sampai sekarang masih cukup deg-degan untuk melahirkan. Wanita lain boleh saja menolak untuk melalukannya.

Lho, kok melahirkan dan menyusui bukan kodrat?

Wanita memang dititipi rahim dan payudara berisi susu untuk melestarikan keturunan oleh Tuhan. Tapi wanita juga punya hak sepenuhnya atas tubuhnya sendiri untuk menggunakan titipan itu atau tidak. Tidak ada seorang pun yang berhak memaksanya untuk melakukan tugas itu jika memang si wanita tidak mau atau tidak siap. Memaksa artinya tidak berbeda dengan mengeksploitasi.

Apalagi soal diam di rumah dan filosofi dapur, sumur, kasur. Itu bukan kodrat!

Melayani suami itu kewajiban? Ini benar. Tapi begitupun suami, ia juga wajib melayani istrinya. Tidak ada salah satu pihak yang diistimewakan di sini. Memasak dan mengurus anak kodrat wanita? Tentu juga bukan, memasak adalah tanggungjawab setiap manusia yang lapar dan mengurus anak adalah tanggungjawab bapak-ibu yang berani membuat anak. Pandangan bahwa ini sebuah kodrat hanyalah konstruksi sosial yang ada dalam budaya kita, dikenal pula dengan istilah patriarki, memusatkan segalanya pada laki-laki. Sejarah kebudayaan ini panjang jika harus kita ulas, tapi bisa kita usut untuk menunjukkan bahwa ini memang bukan kodrat. (Kita bahas lain kali ya!)

Menurut agama tertentu bukankah sebaiknya wanita diam di rumah?

Hmmm... kalau sudah bawa-bawa agama biasanya sensitif ya! Karena pada dasarnya setiap teks religi diinterpretasikan secara berbeda oleh orang yang memiliki skema dan logika berbeda. Akibatnya perdebatan dan perbedaan pendapat pasti terjadi. Tapi bukankah tokoh-tokoh wanita dalam kisah religi yang ikut berperang dan berdagang cukup jadi bukti kalau "diam di rumah" tak serta merta bermakna mentah?

Pahlawan-pahlawan kita pun banyak yang wanita dan mereka "tidak diam di rumah". Bahkan Kerajaan Majapahit yag digdaya itu pun punya pemimpin seorang perempuan. Mereka tidak ndapur, nyumur, dan ngasur saja. Lagipula tak semua perempuan ahli dalam tiga hal itu. Laki-laki justru ada yang lebih ahli.

Kenapa saya memilih resign?


Suami saya kebetulan bekerja sebagai salah satu pentolan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ritel, bakatnya memang mengatur orang dan berurusan dengan keteraturan dan peraturan, berkebalikan dengan saya yang mencari kebebasan.

Saya memilih menjadi penulis, meski kelas teri saya bisa menghasilkan uang dalam kategori cukup dengan kemampuan ini. Profesi ini membuat saya bisa bekerja dari mana saja, tanpa pergi ke kantor. Awal saya berkarier di dunia kepenulisan digital ini pun saya lakukan secara telecommuting di virtual office. Dengan relasi yang saya miliki, untungnya cukup mudah mencari media yang mau mempekerjakan saya sebagai penulis lepas. Bagi penulis newbie, mendapatkan kesempatan ini mungkin susah-susah gampang karena sistem kerjanya adalah trust dan invisible. Perusahaan tentu akan lebih memilih orang yang mereka "kenal" untuk diberi tanggungjawab.

Nah, karena bakat yang lebih fleksibel maka saya tidak keberatan ketika suami mengusulkan untuk resign. Bukan karena saya wanita lalu saya harus mengalah dan tinggal si rumah, untungnya suami saya tidak secupet itu pemikirannya. Toh, saya masih tetap bisa bekerja sesuai passion meski tidak ke kantor. Dia juga mendukung penuh apapun saya ingin lakukan. Saya tidak perlu tiba-tiba beralih jadi penjual online atau ikut MLM, sesuatu yang saya hindari karena saya tidak berbakat untuk jadi manusia telaten.

Kesulitan-kesulitan menjadi pengendali rumah tangga


Tapi meski tetap bisa bekerja alias menjadi work-at-home wife, masa transisi yang sulit tetap saya rasakan. Suasana rumah, kesendirian, dan pola hidup yang berbeda jadi masalahnya.

Jadi ibu rumah tangga tak punya rekan kerja.

Saya kira ini yang paling sulit. Ketika masih bekerja, kita terbiasa dengan suasana kantor yang ramai dan hangat lalu tiba-tiba kita harus terkurung dalam rumah, sendirian. Tak ada yang bisa diajak ngobrol, tak ada teman berselisih, tak ada sapaan, tak ada masalah remeh-temeh antar rekan kerja. Ternyata ini membuat stres.

Tak ada lagi rutinitas commuting.

Perjalanan yang membuat kita bertemu dengan udara pagi hari di jalanan yang macet dan sore hari di jalanan yang melelahkan nggak akan bisa lagi dirasakan. Usai melepas suami bekerja saya hanya akan duduk manis di depan laptop, mengetik dan sudah. Sangat datar dan membosankan. Ini juga sumber stres baru.

Aktivitas rumah tangga menjadi beban.

Bagi saya yang tidak pernah menjalani peran utama sebagai pengatur rumah tangga ini adalah stres terbesar. Biasanya saya hanya bertanggungjawab untuk kamar saya sendiri di asrama dan kostan. Untuk ruangan lain seperti kamar mandi, dapur dan ruang bersama ada sistem piket yang paling hanya saya rasakan 1-2 minggu sekali.

Sekarang satu rumah ini menjadi tanggungjawab saya untuk mengaturnya. Saya tidak benci pekerjaan rumah tangga karena pada dasarnya saya cukup suka beres-beres. Tapi meng-handle semuanya adalah sebuah beban baru yang mengagetkan.

Muncul pikiran: "Apa bedanya gue sama pembantu ya?"

Karena suami sejak 6.30 AM-4.30 PM atau sekitar 10 jam tidak di rumah maka saya mendapatkan lebih banyak porsi untuk pekerjaan rumah. Dia menambah ekstra satu jam untuk bekerja dari seharusnya 3 PM jadi 4 PM dengan alasan totalitas (ini yang sejauh ini belum bisa saya terima hahahaha) dan satu jam untuk perjalanan. Setelah rapat koordinasi (ini beneran hahaha), suami saya bertanggungjawab untuk mencuci baju, sementara lainnya jadi urusan saya. Nggak papa, gajinya 6 kali lipat gaji saya dan beban di tempat kerjanya memang sudah besar. Sementara saya, sehari paling hanya menulis selama maksimal 2 jam saja. Sisanya (pura-pura) nesis.

Tugas baru dari mulai merapikan tempat tidur, menyapu, mengepel, cuci piring, masak, membersihkan kamar mandi, beres-beres hingga menyiram tanaman terkadang membuat saya merasa jadi pembantu. Jujur memang begitu. Seumur-umur saya tidak pernah merasa seperti ini. Tapi emosi sesaat ini kemudian saya urai, ini adalah sebuah proses yang harus saya lewati. Mungkin saya yang terlalu perfeksionis dengan pekerjaan rumah tangga sehingga terlalu totalitas. Saya harus belajar untuk lebih cuek. Kalau saya rasa itu melelahkan ya tidak saya lakukan. Cara ini ternyata cukup membuat saya nyaman pada akhirnya.

Akhirnya saya memutuskan berhenti jadi "ibu rumah tangga"!


Saya merasakan betul secara psikologis bahwa keberadaaan istilah ini lah yang membuat saya stres. Selama menjalani masa transisi hampir 4 bulan ini saya menyimpulkan bahwa menghapuskan konsep ini bisa membantu saya melewatinya.

Tidak lagi bekerja di kantor bukan serta merta menjadikan kita "ibu rumah tangga" yang didefinisikan orang pada umumnya. Kita tidak harus menjadi sosok sempurna yang bangun paling pagi dan tidur paling akhir, pandai mengolah menu dan membuat masakan ini-itu, lihai menata rumah dan membuat setiap sudutnya licin, bersedia memberikan waktu dan tenaga setiap saat bagi siapapun penghuni rumah yang butuh, mendengar dan melaksanakan perintah layaknya pesuruh, dan masih banyak lagi penggambaran ibu rumah tangga yang dikenal masyarakat kita.

Tidak lagi bekerja dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah maka kita tetap punya hak privat atas diri kita, kita tetap punya hak untuk bahagia, bersuara, dan memilih kehidupan. Tidak ada yang berubah. Kita akan lebih banyak mengerjakan tugas rumah tangga karena itu memang bagian dari tanggungjawab kita pada hidup yang kita jalani bukan karena kodrat dari budaya yang kita warisi.

Keberuntungan terbesar saya adalah suami yang terus memberikan dukungan pada bakat dan passion saya. Menghargai setiap proses yang saya jalani beserta memahami kesulitan-kesulitannya. Meski iming-iming akan pulang lebih awal jika saya sudah tidak bekerja di kantor belum bisa dipenuhi, meski janji jogging di sore hari masih sekedar wacana, dia tetap mengambil peran besar untuk membuat saya tenang tinggal di rumah selama dia bekerja. Dia tidak memaksa saya untuk memasak, respect dengan pekerjaan rumah yang saya lakukan, membantu apa yang bisa ia bantu dan men-setting saya menjadi orang paling bahagia dalam keadaan apapun.

Ini adalah foto terakhir saya dengan rekan-rekan satu divisi di kantor beberapa bulan lalu.