Friday, 22 September 2017

Tips Langsung Hamil Setelah Menikah

Kalender sudah menunjukkan tanggal tua di Bulan Mei, artinya sebentar lagi aku akan kedatangan "tamu". Punggung mulai pegal, perut dan kaki juga nyeri seperti biasanya. Tapi, hingga habis tanggal di Bulan Mei, Si Merah belum juga datang. Apa aku hamil? Belum tentu! Kadang menstruasi kan memang mundur dari jadwal biasanya.

Juni sudah hampir mendekati pertengahan ternyata pembalut wanita tak kunjung dibutuhkan. Akhirnya aku memutuskan membeli testpack sendiri di Kimia Farma, pagi hari sebelum ke kantor. Sengaja nggak mau bilang suami, karena dia sudah yakin aku hamil.

Di kantor aku mencoba testpack itu dan hasilnya zonk! Nggak keluar apa-apa! Setelah aku teliti lagi, ternyata prosedurya salah, saking gugupnya. Alat yang harusnya dicelupkan sampai batas tertentu saja, malah kucelupkan semua (ibu hamil berpengalaman pasti tertawa ngakak baca ini hahaha). Akhirnya karena nggak tahan aku nge-WA suami,

"Beb tebak aku habis ngapain?"
"Ngapain emang?"
"Nyobain testpack!"
"Terus hasilnya?"
"Nggak ada, salah prosedur hahahaha"
"Dasar! Ya udah nanti pulang kantor kita beli lagi ya hahaha"

Di parkiran kantor, dia sudah cengengesan nggak sabar menertawakan kebodohanku hari ini. Sambil bertanya "Kok bisa?" Dan serangkaian bercandaan dalam perjalanan pulang dari kantor, kami mampir di minimarket (ke apotek jalannya ribet) dan membeli testpack baru. Sampai di rumah dicoba, tapi hasilnya...

Hasil testpack garis kedua samar-samar

Muncul dua garis pada testpack yang tadi kami beli. Kali ini aku melakukannya sesuai prosedur dibantu suami. Tapi sayang, hasilnya agak samar di garis kedua, sementara garis pertamanya sangat jelas. Akhirnya kami berdua googling dan menemukan beberapa pendapat:

1) Garisnya samar karena usia kehamilan masih sangat muda.
2) Bisa jadi hamil di luar kandungan atau hamil bohongan (serem kalau ternyata ini yang terjadi).
3) Urinnya nggak berkualitas, disarankan menggunakan urin pertama pagi hari.

Kami berdua memutuskan untuk mencobanya lagi seminggu kemudian dengan urin pertama pagi hari.

~Sembari menunggu harap-harap cemas apakah aku benar-benar hamil atau tidak, suami mengusulkan agar aku resign dari kantor. Dengan beberapa pertimbangan aku pun saat itu setuju.~

Singkatnya seminggu kemudian kami mencoba lagi dan hasilnya: MASIH SAMAR. Karena penasaran kami pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit guna mengecek kehamilan. Rumah sakit terdekat yang kami tahu saat itu adalah Bhakti Darma Husada, bersama dokter Benediktus kami memilih untuk USG dalam, karena dari luar belum kelihatan. Karena sudah telanjur penasaran, kami pun setuju. Hasilnya: POSITIF HAMIL! Usianya waktu itu sudah 10 minggu, padahal kami baru menikah 10 minggu juga dan di minggu pertama aku masih menstruasi. Kenapa bisa seperti ini? Akan aku buat blog khusus untuk menjawabnya ya :)

TERUS MANA TIPSNYA?

Sorry kalau pengantarnya kepanjangan hahaha.

Jadi tipsnya adalah: PILIH HARI PERNIKAHAN YANG BERTEPATAN DENGAN MASA SUBUR MEMPELAI WANITA.

Seperti yang tadi kusebutkan, minggu pertama pernikahan kami dilewati suamiku dengan gigit jari karena sedang menstruasi. Tapi, usai menstruasi yang kita tahu itu adalah masa subur, jadinya malah dibuahi hehehe. Jadilah dedek yang ada di perut ibuk sekarang :)

Udah sih itu aja, untuk frekuensi, posisi, ukuran dan semacamnya are not a big deal. Yang lebih penting justru kamu sehat, subur, tanpa beban, jadi semuanya terasa rileks dan menyenangkan!

Buat pembaca blog ini yang belum mendapatkan rezeki kehamilan, semoga segera diijabahi doanya. Mungkin masih diminta untuk bulan madu dulu. Jangan dibawa stres karena yang menggemaskan nggak akan pernah datang pada mereka yang banyak pikiran, kata Dedek sih gitu :)