Friday, 4 August 2017

Marahnya seorang wanita, Sebuah Senjata?

Marah alias ngambeknya seorang wanita sering kali dianggap senjata.
Senjata agar diberi perhatian, uang, sampai ini-itu yang tak masuk akal.
Marahnya wanita juga dianggap sulit untuk dimengerti bahkan oleh wanita itu sendiri. Kalau wanitanya sedang marah, sang pria akan kebingungan karena tidak tahu apa sebabnya. Sementara wanita, dianggap ingin agar pria itu tahu tanpa ia perlu memberitahunya.


"Lu pikir cowok peramal bisa sepeka itu?", ini komentar yang sering dilontarkan. Setengah menekan, setengah meremehkan. Betapa tidak, wanita dipojokkan dengan stereotip sulit dimengerti. Ini artinya mereka dianggap labil, tidak stabil, dan nihil kedewasaan. Ini pula yang akan dibawa-bawa dalam dunia yang serba profesional. Wanita dianggap tidak pantas menduduki posisi tertentu karena dianggap hanya bisa mengambil keputusan secara emosional, bukan rasional.

Ini stereotip atau fakta?

Faktanya, marahnya seorang wanita pasti ada alasannya. Dan jika marahnya diam tidak selalu berarti dia menuntut kepekaan.

Beberapa hari ini saya merasa marah, sempat sangat marah. Bukan pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Pada keadaan. Saya diam bukan menuntut kepekaan. Karena di kehamilan muda ini saya merasa sangat sensitif, saya tidak mau sedikit-sedikit menangis. Dan saya yakin saat membuka mulut saya sedikit saja untuk membicarakan masalah ini maka saya akan menangis.

Sikap saya mungkin akan merugikan orang sekitar karena membuat mereka bingung. Tapi bagi saya, menjadi tidak emosional lebih penting dibandingkan buru-buru mengungkapkan. Toh, meski marah saya tetap mau memberi dan menerima pelukan.

Nabi saya berkata dalam nasehatnya yang paling populer "JANGAN MARAH!", dan nasehat terbaik ini diulang hingga beberapa kali, menunjukkan betapa pentingnya mengendalikan kemarahan.
Sebuah pesan bijak juga berkata "Count to 100 before you get mad". Aku selalu mempraktikkannya. Meski sulit.

Tentang alasan kenapa aku marah, tunggu ceritanya di blog berikutnya :)