Tuesday, 18 July 2017

"Urusan Perut": Masalah Terbesar yang Akan Dihadapi Pasangan Baru Menikah

Hari ini tepat hari ke-79 kami menikah (barusan ngitung di kalender dulu). Usai menikah kami langsung tinggal di rumah sendiri (meskipun ngontrak), jauh dari orang tua maupun mertua.

Selama 79 hari yang rasanya sudah seperti bertahun-tahun ini, ada satu temuan yang menarik. Kami kerap berselisih dan selidik punya selidik penyebab utamanya pasti kembali ke "perut". Kok bisa?

1. Makan adalah kebutuhan utama, bahkan pertama. Jadi sensitif banget!

Berapa kali kamu makan dalam sehari? Paling tidak 2 kali dan sewajarnya 3 kali. Ketika perutmu tidak mendapatkan jatah makan, tubuhmu akan bereaksi secara emosional (udah percaya aja!). Nah, masalahnya ketika kita menikah, menyediakan makanan atau menerima dengan legowo (ikhlas) semua makanan yang disediakan itu sulit. Apalagi kalau makanannya tidak enak. Apalagi kalau makanan yang kita hidangkan berakhir di tempat sampah. It's a war!

2. Pintar masak bukan jaminan, karena definisi enak bagi tiap lidah nggak ada ukuran pastinya.

Bagi kita makanan yang enak mungkin rasanya gurih dan segar. Tapi bisa jadi pasangan kita punya definisi enak yang berbeda. Baginya makanan yang enak mungkin adalah makanan pedas atau kuat bumbunya. Ini soal selera lidah masing-masing. Dan hampir tidak mungkin semua selera ini bisa diakomodasi dalam satu jenis makanan setiap harinya. Harus ada yang mengalah suatu saat untuk memuaskan lidah yang lain. Entah mengalah dengan memasak lebih banyak makanan atau mengalah dengan menikmati selera makaman pasangan.

3. Nggak akan ada makanan kalau kamu nggak masak. Dan masak adalah pekerjaan paling .....

Kamu isi apa titik-titiknya? Menyenangkan atau melelahkan? Jawabanmu mungkin berbeda-beda ya, tapi yang jelas memasak adalah pekerjaan yang memakan cukup banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Dimulai dari merencanakan mau masak apa, penyesuaian budgetnya, memadukan kesukaan, menyiapkan bahan, proses memasak yang ini itu, badan penuh peluh, tangan bau berbagai macam bahan hingga ribetnya menghidangkan. Memasak juga soal proporsi, jumlah bumbu yang tidak sesuai takaran bisa merusak suasana "meja makan" karena absennya kepuasan perut. Kita harus menguasai skill sekaligus seni memasak. Bagi yang baru belajar masak tentu ini cobaan yang besar.

#Urusan perut juga soal bagaimana kita memahami cara berumahtangga
Saya dan suami sering menghela nafas panjang untuk urusan perut yang terkadang menjengkelkan. Meski sejauh ini masih berakhir dengan kemesraan. 

Pernah suatu kali saya meminta tolong suami untuk menggantikan tugas memasak selama ia libur kerja, biasanya dia kebagian mencuci baju, tapi hari itu semua baju sudah saya cuci dan setrika sendiri.

Ia marah karena saya mengambil keputusan sendiri. Saya pun marah karena tidak habis pikir kenapa dia semarah itu, padahal hanya dimintai tolong memasak. Setelah lebih dulu masuk ke babak-banak dramatis, akhirnya semua bisa dikendalikan.

Saya berujar bahwa alasan saya kuat. Kami sejak awal sudah sepakat bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tanggungjawab bersama. Bukan dibebankan pada salah satu pihak karena mengurus pekerjaan rumah tangga bukan bagian dari kodrat manusoa berkelamin perempian. Kami harus saling menghargai dan memiliki rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan rumah tangga.

Kesepakatan sebelumnya, suami memang bertugas mencuci baju, sementara saya pekerjaan rumah tangga lain karena jam kerja saya lebih fleksibel. Tidak masalah tigas saya lebih banyak. Tapi saya menegaskan bahwa suatu saat kami boleh merasa jenuh dan kami harus menghargai jika rasa itu muncul.

Misal ketika saya jenuh memasak, maka suami tidak boleh memaksa saya untuk memasak. Pilihannya kami bisa beli di luar. Begitupun kalau ia lelah mencuci, dia bisa laundry. Yang jelas kami tetap berkomitmen pada tanggungjawab dan saling menghargai keputusan masing-masing.
Tapi kali itu memang saya salah karena mengambil keputusan tanpa bilang terlebih dahulu. 

Eh tapi perkaranya akan berbeda kalau kamu punya pembantu. Ada yang punya pengalaman soal ini? Atau ada masalah yang lebih sering kamu dan pasangan rasakan selain urusan perut?