Saturday, 3 June 2017

Bulan Madu ke Coban Rais Batu Malang

Usai menikah di tanggal 30 April 2017, kami nggak bisa langsung bulan madu karena pekerjaan sudah menunggu. Aku dengan pekerjaan baru dan dia dengan setumpuk tugas yang tak bisa ditunda dulu.



"Voucher dari kami jangan lupa dipakai ya!", Ojik, pacar Andina, mengingatkan kami soal hadiah dari mereka. Menginap di hotel Arjuna, Batu tanggal 20-21 Mei 2017. Jadilah kami mau tidak mau harus bulan madu.


"Kita mau kemana aja nih selama di Malang?".

Setelah bertanya pada Mbah Google kami memutuskan untuk pergi ke beberapa tempat, salah satunya Coban Rais. Kenapa ke sini? Karena dari sekian banyak coban (air terjun) yang di-review oleh para traveller, sepertinya coban ini yang track-nya paling menantang. Kami butuh tantangan, bukan cuma ena-ena. Hahaha.

Bagaimana perjalanan menuju Coban Rais dan apakah menyenangkan bulan madu di sana? Check it out!

1. Dimulai dengan perjalanan kereta dari Surabaya (Gubeng) ke Malang (Kota Baru).

Nama kereta:
Asal-Tujuan: Surabaya Gubeng-Malang Kota Baru
Lama perjalanan:
Harga:
Pemesanan via: Aplikasi KAI (untuk android)

Kami pergi menggunakan kereta XXX , kereta bisnis tujuan xxx yang diberangkatkan dari stasiun Gubeng Lama. Sekitar jam 6 kami sudah berangkat dari rumah karena harus Superindo dulu, menitipkan motor. Lalu dilanjutkan dengan nge-gojek ke Stasiun.

Keretanya nyaman dan fasilitasnya cukup, duduknya tidak berhadapan layaknya kereta ekonomi. Jadi cukup nyaman bagi pengantin baru untuk bermesraan, uhuk! Dari mulai ber-selfie ria sampai ngakak bersama.

2. Ke Kota Batu dari stasiun Malang Kota Baru, bagaimana caranya?

Sesampainya di stasiun kami mencoba menghubungi persewaan motor di Batu, namanya Mocca Rental, yang kami temukan lagi-lagi dari Mbah Google. Kepada pemilik rental kami pun bertanya transportasi paling mudah dari Malang menuju Batu.

"Pakai grab saja Mas," katanya.

Kalau berdasarkan review para blogger sebenarnya bisa menggunakan angkutan umum, tapi harus berhenti dan berganti kendaraan di beberapa titik. Sebagai traveller gadungan kami memutuskan untuk naik Go-Car saja.

Catatan:
Go-Car tidak boleh masuk area stasiun Malang, jadi driver akan "menyamar". Mobil yang datang tidak akan sama plat nomor dan merek kendaraannya. Ini bertujuan untuk menghindari kejaran preman stasiun. Datangnya juga agak lama, karena driver akan mengamati si customer terlebih dahulu dari kejauhan.

3. Siap-siap, perjalanan Malang-Batu saat akhir pekan akan macet parah.

Batu adalah salah satu tujuan wisata favorit pada akhir pekan. Rata-rata para wisatawan akan datang dari arah Kota Malang, jadi siap-siap macet. Meski driver Go-Car sudah berusaha mencari jalan alternatif, kami tetap kena macet karena bertemu dengan rombongan pawai salah satu kampus swasta. Lumayan sih, wisata gratis jadinya!

4. Sampai Batu, motor pesanan langsung datang. Coban Rais, We're coming!

Sewa motor di Batu ternyata murah dan mudah. Hanya dengan menitipkan KTP dan membayar Rp xxx kita sudah bisa sewa motor selama 24 jam penuh.

Tanpa berpikir panjang kami langsung menuju Coban Rais karena baru bisa check-in siang nanti. Di tengah jalan kami makan bakso yang hangat-hangat segar dibalut dinginnya udara Kota Batu.

5. Dan ternyata, lokasi Coban Rais dari pintu masuknya itu jauh BANGET!

Tiket masuk:
Biaya parkir:
Biaya penitipan tas:

Sampai di Coban Rais kita akan membayar tiket masuk, kemudian karcis parkir dan juga biaya penitipan tas jika kamu tidak mau bawa barang berat saat melakukan perjalanan ke coban.

Saran: JANGAN bawa banyak barang! Cukup air minum dan sedikit makanan, serta kamera.

"Mau ke Coban? Jauh banget itu 5 KM dari sini!", kata ibu-ibu penjaga kamar mandi.

Benar saja, tidak banyak orang yang melakukan perjalanan ke coban meski mereka mengunjungi Coban Rais. Memang ada banyak pilihan wisata lainnya di sini, salah satunya yang paling ramai adalah taman bunga yang Instagram-able. Lokasi yang cukup dekat dengan pintu masuk tapi banyak orang yang menempuhnya dengan ojek. Sebagai generasi non alay kami tak mau ikut euforia.

"Kita harus ke coban!", sembari melambaikan tangan pada tawaran abang-abang ojek.

Ke Coban Rais pakai sandal atau sepatu?

Pakai sandal gunung! Ini pilihan terbaik karena track ke Coban Rais mirip pendakian, meski jarak tempuhnya paling hanya 5 KM. Kita akan melewati aliran-aliran air dan sungai kecil. Seperti yang sudah kami baca di blog orang-orang, track-nya cukup menantang. Banyak bebatuan tinggi yang harus kita lewati, cukup licin dan harus sangat berhati-hati karena arusnya juga lumayan.

"Sudah setengah jalan, semangat!", kata seorang wisatawan yang sedang dalam perjalanan pulang.

Baru setengah jalan? Rasanya ingin menyerah saja! Tapi ketika berpapasan dengan sepasang bapak-ibu yang sudah tua kami semangat lagi.

"Masak kalah sama orang tua!"

Setelah hampir satu jam perjalanan dengan beberapa kali berhenti untuk makan cokelat, permen, dan air mineral, akhirnya kami mendengar kerasnya aliran Coban Rais. Finally! Langsung mengeluarkan kamera dan berfoto-foto ria sampai tak terhitung banyaknya. Kami juga meminta tolong wisatawan lain untuk memfotokan, agar bisa foto berdua. Hampir satu jam kami di sini, rasanya nggak mau balik meski dingin. Selain betah juga karena membayangkan perjalanan baliknya yang susah itu.

Usai perjalanan yang melelahkan itu kita bisa memanjakan diri dengan memilih aneka jajanan yang tersedia di dekat pintu masuk dan keluar Coban Rais. Dari mulai berbagai macam es sampai xxx ada di sini.

6. Bulan madu di Coban Rais? Apa romantisnya?

Orang-orang biasanya bulan madu pergi ke Lombok atau tempat-tempat berbau pantai. Dan kami ke Malang, ke air terjun dengan track yang sulit pula, apa romantisnya? Kami memang sama-sama suka alam dan tantangan. Meski terkesan tidak syahdu, Coban Rais mengajarkan banyak hal. Layaknya naik gunung, kami saling membantu untuk mencapai tujuan (lebih banyak dia yang menggandengku sih hahaha). Udaranya juga sangat segar dan alami, menjadi latar yang sempurna untuk saling bercerita meski keringat bercucuran.
Thanks for the memories, Coban Rais :)