Tuesday, 14 April 2015

KPM : Departemen Ter-Gabut Se-IPB?


I34, departemen dengan NRP paling bontot se-seantero IPB. Apakah hal ini berbanding lurus dengan luaran mahasiswanya? Sudah adakah hasil olah data yang menunjukkan departemen ini memiliki kualitas terburuk di IPB? Kalau belum, tolong jangan gunakan tanda seru untuk judul tulisan ini!
Sumber Gambar: skpm.ipb.ac.id

“Ya elah KPM mah nggak usah belajar bisa dapet A kali!”
“Ngambil SC atau Minor KPM aja! Gampang nggak usah belajar! Santai!”
“Lo jurusan KPM? Nggak usah kuliah aja kali, belajarnya gituan doang!”
“Tugas apaan sih KPM? Nggak pake mikir juga udah beres kali!”
“Anak KPM mah bisanya ngomong doang, nggak ada isinya!”
“Penelitian apa sih lo? Ya ampun hal-hal kayak gitu diteliti? Kurang kerjaan banget! Lo bisa lulus cuma dengan neliti kayak gini?”
“Gaya doang anak KPM mah! Bajunya nggak sopan-sopan nggak kayak anak kuliah”
“KPM nggak punya ruang kelas sama ruang seminar ya?”

Wow, inikah kesimpulan-kesimpulan untuk kami anak KPM? Departemen lain katanya lebih hebat, sibuk, kompeten, dan bergengsi. Rasanya panas juga kuping saya lama-lama mendengarnya, apalagi teman-teman lain juga mendapat perlakuan serupa. Sering “direndahkan”.

Sebenarnya kalimat itu fakta, cemoohan, atau upaya membangun yang kontradiktif? 

Saya mahasiswa departemen SKPM angkatan 2010 dan saya sangat bangga dengan ilmu-ilmu yang saya pelajari. Saya mendapatkan tugas-tugas setiap minggunya yang hampir semuanya merupakan analisis. Hasil pengerjaan tugas dilaporkan dalam bentuk makalah, power point (presentasi), atau uraian jawaban dari soal praktikum yang panjangnya tidak hanya satu sampai lima kalimat. Kami juga melakukan praktek-praktek di laboratorium (radio dan TV), turun lapang ke desa-desa untuk mempelajari fakta dari teori yang dijelaskan saat kuliah, dan praktikum di kelas dalam bentuk diskusi untuk memperkaya pemahaman setelah mengikuti perkuliahan. Bahan praktikum kami bisa berupa buku, bab-bab dari buku, jurnal, laporan penelitian, ataupun bahan lainnya yang relevan dengan tema perkuliahan. Jumlah halamannya mencapai angka puluhan yang cukup besar bahkan bisa mencapai skala ratusan. 

Beberapa mata kuliah memang tidak memberikan tugas berupa bacaan namun menggantinya dengan film yang interaktif atau bahkan permainan edukatif. Tentu saja metode-metode ini disesuaikan dengan materi pengajaran mata kuliah tersebut. Kebetulan mata kuliah yang agak ringan ini yang digandrungi para penggemar SC. Selain itu praktikum di departemen kami memang dikemas sedemikian rupa agar menyenangkan. 

Soal ujian kami hampir semuanya berbentuk uraian, hanya beberapa mata kuliah yang menggunakan pilihan ganda, benar-salah, dan isian singkat. Cara kami menjawab bukan dengan mengarang karena jawaban kami harus berlandaskan teori yang telah dipelajari. Teori ini tentunya harus kami pahami setelah kami hafal. Untuk melakukannya pasti kami butuh belajar!

Saya tidak setuju kalau ada yang menganggap KPM paling gampang apalagi diberi gelar tergabut. Bukan departemen yang seharusnya disebut tapi orangnya, individunya. Saya mengenal banyak orang hebat dari teman-teman seangkatan saya di KPM. Pekerja keras yang cerdas dan sudah mempunyai IPK tinggi sejak TPB. Mereka juga punya nilai bagus di mata kuliah hitungan. Bahkan IPK mungkin lebih tinggi dari kalian yang merendahkan kami. Saya punya daftar IPK TPB mahasiswa KPM angkatan saya. Dan 50 % lebih mempunyai IPK yang sangat bagus. Jika ada yang IPKnya tidak bagus, departemen lain juga pasti punya kan mahasiswa yang seperti itu?

Departemen lain juga punya mahasiswa yang gabut, tidak mengerjakan tugas, tidak pernah belajar, berpakaian tidak sesuai aturan, dan hal-hal lain yang seolah-olah hanya menjadi identitas KPM. Saya mengikuti kelas SC di departemen lain. Mereka juga ramai, bahkan ada yang menonton film saat dosen sedang memberikan kuliah, ada juga yang menggunakan headset dibalik jilbabnya. Sementara teman saya satu departemen KPM memperhatikan penjelasan dengan hikmat dan mengajukan pertanyaan yang sangat kritis sampai dosennya terkagum-kagum dengan pemikiran dia. Saya paham pola berpikir dari pertanyaannya merupakan hasil dari banyaknya kasus yang kami pelajari di KPM yang tidak didapatkan departemen lain.

Kalau kalian pernah mengambil beberapa SC di KPM dan mendapat nilai A saya ucapkan selamat. Tapi jangan pernah merendahkan KPM sebelum kalian mengambil mayor ini dan lulus dengan straight A seperti apa yang kalian sombongkan! 

Kembalikan pada masing-masing individu mahasiswanya! Jangan dibuat general menjadi “KPM”! Kalau mau merendahkan langsung ke individunya.

Namun ini juga menjadi pelajaran penting untuk kita warga KPM baik pihak departemen maupun mahasiswa, bagaimana seharusnya bersikap dan lebih mendisiplinkan diri serta langkah-langkah lain agar kita bisa membuktikan bahwa kita tidak seperti itu. Introspeksi dan segera perbaiki diri kawan!