Tuesday, 21 April 2015

Commuter Line Pasar Senen Tujuan Bogor

Kali ini pagi yang melelahkan tapi cukup lucu. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam dari Cilacap (Sidareja) sampai Jakarta (Pasar Senen) menggunakan kereta api Serayu Malam, akhirnya sampai juga dengan selamat. Karena ini pertama kalinya aku berhenti di stasiun Pasar Senen setelah kebijakan per 1 April, aku sedikit bingung dan khawatir. Kereta Serayu biasanya berhenti di stasiun Jakarta Kota. Aku pun bertanya kepada petugas, di jalur berapa biasanya Commuter Line tujuan Bogor berangkat. "Jalur 6, tapi keluar dulu ya. Keretanya jam 7 kurang". Tidak perlu bingung mencari pintu keluar, tinggal mengikuti arus penumpang saja, pasti keluar kan mereka hehe.
Sumber Gambar: bersamadakwah.net

Nah, saat keluar dan melihat ke sebelah kiri ternyata ada gate-in Commuter Line, ya sudah aku langsung masuk. Padahal rencananya mau sholat dulu, ternyata aku tidak menemukan mushola disana. Biasanya di Jakarta Kota mushola, CL, dan KA jarak jauh memang berada dalam satu lokasi, jadi tidak bingung.

"Wah harus nunggu 2 jam-an nih disini" pikirku. Tapi ternyata tidak, kurang lebih jam setengah 6 pagi sudah diumumkan akan masuk kereta tujuan Bogor. Pantas saja sudah banyak yang menunggu. Saat sedang asyik menunggu tiba-tiba petugas CL berteriak "yang mau naik kereta geser ke tengah, cepat! cepat!" Instruksinya tidak salah, tapi nadanya itu lho, persis seperti mahasiswa ospek yang sedang digiring ke lapangan. Duh, duh, duh, keramahannya mana nih pak?

Belum selesai memikirkan kelucuan satu itu, di dalam kereta sudah ada kelucuan lainnya. Karena kereta penuh, dan rata-rata masuk lewar kereta paling belakang, yaitu kereta wanita, penumpang laki-laki menumpuk di kereta wanita. Dan tiba-tiba seorang wanita yang ditutup mukanya berteriak "INI KERETA WANITA, UDAH DIKASIH TAU BERAPA KALI MASIH BELUM NGERTI JUGA, HARUS DIKASIH TAU PAKE BAHASA APA LAGI?!" Si ibu berteriak entah dua atau tiga kali dengan nada sinis dan judes sekali. Kaum Adam yang menumpuk di kereta wanita hanya terdiam, termasuk petugasnya yang mungkin juga merasa bersalah. Sebenarnya tidak salah tujuan si Ibu untuk mengingatkan, tapi caranya terlalu lucu dan kasar. "KALAU PENUH KELUAR AJA PAK, NUNGGU KERETA BERIKUTNYA". Kaum adam masih terdiam, dan akhirnya mengalah turun di pemberhentian berikutnya.

Kasihannya, ada sepasang kakek-nenek yang tidak mungkin terpisahkan belum dapat tempat duduk. Alhamdulillah petugas dengan sigap mengatasinya. Suasana hanya tenang sebentar saja karena kereta mulai berisik dan berdesakan.