Tuesday, 14 April 2015

Bangsa Kita Mudah Jatuh Cinta

Cinta pada pandangan pertama, jenis cinta klasik yang tetap saja ada pengikutnya. Tak hanya  berhenti disitu, cinta ini tumbuh berlarut-larut meruntut kesetiaan. Setia yang harus dibuktikan dengan patuh. Lalu patuh itu bertuah, memasung tradisi dan memasang contoh baru, gaya hidup baru.

Sumber  Gambar: thesoulstory.com

Seperti harus mengakui betapa menariknya artis dan aktor Korea. Kulit selicin batu cincin dan seputih salju, lengkap dengan wajah berhiaskan senyum termanis. Kisah dramanya pun begitu memikat, sedikit mengatasi kebosanan kita pada dunia sinetron yang sedang banyak dikritik. Kita jatuh cinta pada drama yang menarik itu, lalu berbondong-bondong mencari tahu segala hal tentang Negeri Gingseng. Tren makanan, pakaian, penampilan, bahkan cara berbicara para fansnya mendadak menjadi sangat Korea. Kesempatan ini tidak begitu saja dilewatkan dunia bisnis untuk merambah lahan baru, Korea. Muncul beragam warung Korea, butik Korea, dan semacamnya. Laris manis. Bangsa kita, terutama generasi muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa sudah jatuh cinta pada bangsa baru. Mabuk cinta. Benar-benar mabuk.

Hal ini mengingatkan pada dekade lalu, ketika kita begitu mencintai telenovela, menamai anak kita dengan nama-nama Barat atau sekedar memirangkan rambut. Kini, kita sibuk merampingkan badan dan memutihkan kulit demi persis sama dengan Sang Bintang Korea. Alih-alih malah ikut operasi plastik juga. Dekade depan mungkin kita akan menggilai савангийн дуурь. Apa itu? Bahasa Mongol yang artinya kurang lebih sama dengan sinetron. Bahasa yang kini kita tak tahu bagaimana cara membacanya dan apa maksudnya. Dekade depan, bisa jadi akan menjadi tren baru yang kita gilai seperti sebelumnya kita menggilai film India, Telenovela, dan Drama. Kita tak pernah tahu. Betapa bangsa ini mudah jatuh cinta, lupa, dan jatuh cinta lagi pada yang lain.
Tapi ada satu pertanyaan yang begitu menggelitik, “Kapan sinetron akan mendunia?” atau “Meng-Asia saja? Kapan?” Bukankah jawaban paling bijak masih “kapan-kapan”?

Meng-Indonesia-kan sinetron saja susah. Baru-baru ini kita malah sempat dibuat malu dengan sinetron contekan, “Kau yang Berasal dari Bintang”. Kita digugat dan lagi-lagi akan dipandang sebelah mata oleh dunia, karena kita mencontek. Bangsa Pecontek. Padahal, bangsa kita dulu tak pernah kekurangan cerita. Dongeng dan legenda selalu menghiasi setiap tempat, paling tidak mitos. Lalu kini? Apakah sudah kehilangan naluri bercerita? Betapa kecewanya nenek moyang kita kalau sampai mereka tahu kita mencontek cerita dari negeri seberang sama persis.

Bangsa kita, sadar atau tidak memang masih bermental terjajah. Mengira yang asing pasti menang bersaing. Mengira tradisi sama dengan basi. Benar memang, kita harus hidup dalam tatanan internasional dan tidak mungkin hanya menggunakan produk dalam negeri. Tapi bukankah masyarakat kita sedang overdosis dalam menggunakan produk luar negeri? Sangat pantas jika para aktivis gembar-gembor menyerukan “Cintai produk dalam negeri!”. Bangsa kita memang sedang terjajah lagi setelah masa kolonial dan kediktatoran penguasa. Penjajahan ketiga yang kita alami. Sekarang pelaku penjajahan ini adalah ekspansi produk asing berjudul fashion, film, food, bahasa dan semacamnya. Tragis, benar-benar tragis karena budaya kita tidak kemudian ikut terangkat, tapi justru malah tergerus, mundur, dan menghilang perlahan. Mati.

Aroma kematian budaya sebesar itu memang sudah tercium. Tak semua rakyat kita terjajah, sebagian masih setia bergerilya melawannya. Mencoba jatuh cinta lagi pada budaya yang telah melekat berabad-abad dan menjaga cinta itu. Mencoba mengajak yang lain juga kembali jatuh cinta pada nuansa nasionalisme. Jika memang bangsa kita mudah jatuh cinta, bukankah akan mudah membuat mereka jatuh cinta lagi pada bangsanya? Tak semudah itu barangkali. Sifat “terjajah” yang diam-diam mendarah daging telah menyebar menjadi isu-isu bertajuk gengsi dan modernitas. Demi gengsi dan modernitas itu, apa yang mereka tidak benarkan mendadak menjadi benar seketika. Termasuk konsumsi berlebihan terhadap produk asing.

Harus ada kampanye hitam untuk melawan arus masuk produk asing. Sebuah kampanye yang dilakukan secara global, terutama oleh orang-orang berpengaruh. Bukankah fenomena batik sudah menjadi contoh dan bukti keberhasilan yang tak terbantahkan. Ketika orang-orang ‘besar’ mau memakai batik dalam berbagai rupa, baik pejabat maupun artis, masyarakat juga mulai gemar berbatik. Baju, celana, rok, dompet, tas, sampai jepit rambut semuanya tersedia dalam motif batik. Bagaimana dengan produk dalam negeri lainnya? Tidakkah akan bisa berhasil juga seperti batik? Kita tidak tahu karena para pembesar masih mengagungkan bangsa asing. Memamerkan dengan bangga merek-merek luar negeri yang menempel pada penampilan mereka. Menamakannya “Kepantasan seorang pejabat”, lalu ratusan orang kaya mengamininya diatas sajadah orang-orang miskin.

Semua orang harus berperan dan peduli untuk meredefinisi gaya hidup hari ini. Citra bangsa harus diangkat sampai pada taraf aman. Aman itu artiya terjaga, lestari. Citra ini yang kemudian akan membuat masyarakat jatuh cinta lagi pada bangsanya. Bukankah masyarakat begitu mudah menelan citra? Tidak pernah ada yang salah dari pencitraan jika itu memang jujur. Dan mengangkat nilai bangsa sendiri adalah hal paling jujur yang harus kita lakukan.

Lihatlah kembali sejarah bangsa, betapa hebatnya orang-orang kita di masa kejayaan Sriwijaya atau Majapahit. Betapa beraninya orang kita di tahun 40-an berusaha mengusir penjajah. Betapa bergeloranya orang kita di tahun ‘98 menggulingkan seorang diktator. Tidakkah kita juga harus menjadi hebat dengan menumpas bentuk penjajahan masa kini?
Atau generasi kita cuma bisa menjadi maling? menggerogoti uang rakyat dan memulangkan sisanya yang basi. Memiskinkan orang yang sudah miskin demi gaya hidup yang terkesan begitu berarti. Ah, bukankah gaya hidup hari ini begitu kejam? Seenaknya menyuruh kita membeli scraft jutaan rupiah yang sebenarnya biasa saja. Seenaknya menggoda kita agar membiarkan bocah-bocah di pedalaman tidak sekolah. Benar-benar kejam. Gaya hidup hari ini telah berkiblat pada modernisasi yang glamour. Tak cukup hanya memanfaatkan teknologi untuk mempermudah hidup. Tapi juga berupaya menyeragamkan gengsi. Mereka yang tak punya kuasa tak lagi menghadapinya dengan puasa. Mereka yang tak punya harta mendadak berani menjadi maling. Korupsi. Lalu tersenyum manis di depan kamera. Bahkan tertawa, entah menertawakan siapa. Barangkali menertawakan juragan-nya yang bodoh dan malang sampai bisa dimalingi. Juragannya ya rakyat itu. Dasar maling bebal!

Sudah cukup kita berbangga pada otak brilian berkemampuan maling itu. Sudah cukup kita menjadi maling waktu untuk berbaring santai disaat orang lain berpeluh memanfaatkan hidupnya. Bangsa kita pelaut, pembuat kapal Pinisi. Pekerja keras. Berani mengarungi badai kehidupan yang dahsyat. Bahkan kalau kita sudah telanjur mencintai bangsa lain dan produk-produknya. Maka ambillah sisi-sisi baik untuk melengkapi kekurangan bangsa kita. Mau tak mau kita lahir disini dalam darah bangsa yang kita hutangi kemerdekaannya. Kita tumbuh disini dengan pengorbanan para tetua agung yang tak meminta apapun. Sungguh tak pantas jika kita hanya melenggang. Tragedi yang kita lalui 69 tahun ini sudah terlalu romantis untuk kita tangisi, mengapa kita tidak jatuh cinta lagi saja pada bangsa sendiri?