Tuesday, 12 August 2014

Pelayanan di Pesantren

Kehidupan pesantren memang identik dengan hal-hal yang berbau koersif. Walaupun tidak semuanya, keluarga pesantren juga identik dengan "pelayanan". Tidak jarang mereka terbiasa untuk menyuruh dan sesekali tanpa meminta tolong. Bahkan secara tidak sadar tingkatan yang mirip sekali dengan kasta digunakan sebagai dalih. Keluarga pesantren menilai diri mereka sebagai orang-orang terhormat dan orang lain berada di bawahnya. Sedikit berbeda jika orang lain itu juga merupakan keluarga pesantren yang berlainan. Mungkin karena sama-sama merasa terhormat. Perbedaan sikap dan "pelayanan"nya akan sangat jelas terlihat.

Sumber Gambar: mahasiswabicara.id

Sikap beberapa orang biasa (non-pesantren) pada keluarga pesantren juga kadang terlalu berlebihan. Misalnya saja ketika dia hanya memberikan satu potong coklat pada anak kecil yang sudah dikenal  baik dan memberikan  beberapa potong coklat pada anak kecil lain yang berasal dari keluarga pesantren. Sikap patuh dan cenderung mengagungkan. Sikap seperti ini oleh kedua belah pihak diklaim sebagai Tawadhu', Ngalap Berkah, Khidmah, dan semacamnya. Beberapa keluarga pesantren bahkan ada yang merasa marah ketika tidak disalimi (cium tangan) ketika dia lewat di depan orang-orang. Ada juga yang ingin terus-terusan "dilayani" dengan cara ngongkon (memerintah) sesukanya. Mereka menganggap orang lain harus melayani dengan mengalah untuk kepentingannya. Mengalah sering diungkapkan sebagai ikhlas. Tidak jarang, para abdi ndalem (ikut menumpang di keluarga pesantren) harus mengorbankan tenaga, pikiran, dan lain-lain secara cuma-cuma. Artinya tidak dibayar dan sebisa mungkin selalu mengucapkan "iya" walaupun sebenanya "tidak atau biasa disebut manut, apakah benar jika melihat zaman sekarang yang "cukup" membutuhkan uang untuk melakukan apapun.

Sekali lagi, tidak semua keluarga pesantren ingin diagungkan karena statusnya. Hanya beberapa saja yang seperti itu. Saya juga mengagumi banyak Kyai seperti Gus Dur misalnya. Dan memang beliau-beliau memiliki kelebihan yang luar biasa. Hanya mungkin anggota keluarga (pesantren) lainnya yang berkaitan dengan para tokoh luar biasa ini mengartikan  statusnya secara berlebihan.