Monday, 30 June 2014

Memilih Jokowi atau Prabowo

Melihat Pak Kowi dan Pak Bowo dag dig dug demi nomor urut, aku membayangkan dulu jauh sebelum aku lahir klower ada pengundian semacam ini juga di alam roh. Pak Kowi dapat nomor urut dua dan Pak Bowo dapet nomor urut satu. Masing-masing nomor punya arti. Aku ada di barisan Pak Kowi, nomor urut kelahiranku "dua". Orang Jawa menamakan anak keduanya dengan sebutan Panggulu, kalau anak nomor satu namanya Pambarep. Tapi aku ada di jenis-jenis Pak Bowo karena pipiku gembil.

Sumber Gambar: rappler.com

Si Pambarep ini biasanya selalu mendapat kesempatan pertama dalam hal apapun. Sayangnya, Pak Bowo kemarin datangnya nggak duluan jadi dia harus rela nyalam-nyalami tim lawan. Peristiwa salam-menyalami ini kemudian menjadi gosip karena Ibu Wati nggak mau berdiri. Barangkali kursinya terlalu empuk atau apalah itu urusan Bu wati. Tugas kita hanya menerjemahkannya dalam bentuk gosipan hangat yang bisa meruap ke masyarakat luas.

Tapi jujur aku merasa dikuatkan sebagai Panggulu saat Pak Kowi sambutan. Katanya dua itu penyeimbang, lambang perdamaian karena peace kita ungkapkan dengan dua jari; telunjuk dan jari tengah. Aku pikir, selama ini dua itu cuma penyakit karena di film Mother (Jepang) pernah disebut bahwa ada penyakit anak nomor dua. Anak yang selalu uring-uringan dan punya perasaan yang sangat lemah. Dan semua itu sangat aku, sangat aku. Anak nomor dua selalu membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, di film Mother ini si anak nomor dua punya dukungan luar biasa dari keluarganya. Ini yang mungkin sedikit berbeda, even when i've something to tell, i didn't have someone. Aku punya kepribadian aneh yang selalu menyuruhku mengagungkan sendiri.

Dan aku penasaran apakah Pak Kowi yang dapat nomor urut dua itu juga akan punya penyakit anak nomor dua? Kampanye hitam untuk Pak Kowi biasanya seputar isu SARA, keambisiusan, capres boneka dan keadaan Jakarta. Kalau Pak Bowo tentang isu HAM, penculikan, pembunuhan, masalah rumah tangga, gaya hidup dan kewarganegaraannya. Para pendukungnya saling serang, posting sana-sini tanpa sumber yang jelas dan informasinya langsung ditelan seolah-olah tak punya ilmu lain untuk memfilter. Para pendukung macam ini ikut serta membodohi rakyat dalam berpolitik. Rakyat bingung dengan informasi yang simpang siur dan akhirnya memilih apatis dan pesimis. 

Aku selalu standing applause untuk Pak Baswedan yang selalu mengajak kita untuk berkampanye positif. Dalam komunikasi politik, kampanye negatif itu boleh dilakukan karena hanya pihak lawan lah yang mampu mengungkap kelemahan sang calon. Tapi harus diingat kampanye negatif ini harus jujur dan jelas sumbernya, bukan hoax. Sementara yang kita telan sehari-hari adalah kampanye hitam yang sumbernya absurd.


Ayolah kalian para pendukung nomor 1 atau 2 berlomba-lomba mengedukasi bangsa dalam berpolitik. Jangan malah yang kaum akademisi seperti mahasiswa ikut-ikutan berkampanye hitam,that's stupid guys!