Friday, 2 May 2014

Meninggalkan Bogor

Setengah hari ini aku menyusuri Bogor-Jakarta via KRL bersama teman paling manis, Ana. Rute yang mungkin tidak akan kugunakan lagi beberapa bulan kedepan atau bahkan hitungan tahun. Tidak pernah ada yang tahu. Aku pasti akan rindu tapi aku berusaha yakin bahwa aku tidak ingin kembali. Ada banyak hal yang hanya terkubur, tidak benar-benar hilang. Aku selalu takut yang terkubur itu kemudian tersulut menjadi kobaran api. Aku begitu antagonis memang. Aku selalu punya alasan yang sama gigihnya dengan Jang Geum tentang “dendam”. Hanya saja dia memilih kembali ke “istana” dan aku tidak.

Catatan ini seharusnya akan panjang, tapi tidak sekarang, aku akan menyimpan detailnya untuk kisah tak berkesudahan.

Beberapa detik lalu SMS ke-3 Maryam masuk. Kalimat-kalimat perpisahan yang serupa dengan status Trini atau Catatan Achi. Senada dengan movie buatan Ana dan Bram. Sama persis dengan maksud hadiah-hadiah dan bunga-bunga yang banyak orang beri saat wisuda sampai kado Mimid pagi tadi. Sama juga dengan ulah Himma, Nely, Fikri dan lainnya yang memasang foto berdua denganku sebagai ‘depe’. Bahkan novel Laksmi Pamuntjak pemberian Arin pun memandangku dengan nada perpisahan. Aku paham kalau ini memang hari-hari perpisahan, tapi sungguh aku tak ingin memberinya nama. Bisakah tanpa berurai air mata?

Sedih. Semua ini menyedihkan. Saat Iin dan Didy menggotong seember penuh bunga dan bungkusan-bungkusan hadiah ke kamar, aku sudah sadar bahwa perpisahan ini memang nyata. Kehadiran CSS dan KPM 47 di sekitar GWW kemarin adalah seremonial perpisahanku pada kota hujan ini. Menjadi bagian dari orang-orang pertama yang pergi bagiku lebih menyesakkan daripada ditinggalkan. Jadi, biarlah perpisahan ini terjadi tanpa kata-kata yang terucap langsung dari mulut kita. Jangan ucapkan apapun saat bertatap denganku. Let me go without words, cuz i am more than words!

Setelah ini jarak kita akan sejauh pulau Jawa, dunia kita bahkan mungkin akan berbeda. Aku akan menambal iman-imanku yang mulai keropos. Jika pun pergiku tak bersanding dengan “kembali”, kalian akan tetap menjadi memori. Doa-doa kita akan menari-nari menggapai langit jika kita masih percaya kekuatan doa.

Aku akan menjejaki hidup baru dan memenuhi janji untuk mengabdikan hidupku. Menolak menjadi pengingkar. Beriman penuh pada kuasa Tuhan yang menunjukkan jalan dengan sebuah kemudahan. Menekan jiwa materialisme yang merambah emosi.

Kalian yang memberi memori kebahagiaan akan menjadi lilin di setiap gelap yang akan kutemui nanti. Kalian yang selama ini memberi api akan menjadi cambukan keras setiap aku tersungkur. Dua kata : maaf dan terimakasih. You are more than words!