Tuesday, 8 April 2014

Pemilu, Golput?

Besok, kita harus menentukan akan memilih atau tidak. Bukan, bukan, maksudnya kita harus menentukan akan memilih untuk "nyoblos" atau "golput". Ya, tentu saja golput adalah sebuah cara memilih. Walaupun pandangan ini masih menjadi perdebatan. GM dalam salah satu tulisannya telah menyinggung “golput”dengan sangat apik ~http://www.tempo.co/read/caping/2014/03/31/129272/Golput .

Tidak selamanya golput adalah suatu pilihan yang buruk, karena pada dasarnya setiap penilaian kembali pada tiap orang yang tentunya punya alasan beragam. Untuk para mahasiswa IPB ini misalnya, ada yang malas pergi ke TPS karena letaknya jauh dari kampus. Kami memang dibagi ke dalam beberapa TPS di sekitar kampus, tapi kebetulan ada yang mendapat lokasi cukup jauh dari kampus (dua kali ngangkot). Tidak mudah bagi yang tidak punya kendaraan pribadi.

Sumber Gambar: aktual.com

A: Lho kalau niat sih bisa aja, nebeng atau minta anterin bisa kok.

B: Nggak kenal calon-calonnya.

A: Lho, kenapa selama ini nggak coba nyari tahu, masa’ mahasiswa nggak bisa ngakses informasi sih?

 B: Ya elah, orang ngurus penelitian ama skripsi aja sampe tidur larut.

A: Ah lebay, buktinya aku bisa kok dan aku besok mau nyoblos.

B: Lho otak dan kemampuan kita kan beda bro!

A: Alah alesan!

B: Yo wes, aku rapopo.

Seharusnya dalam pemilihan umum yang konon akan menentukan bagaimana nasib bangsa ke depan kita memang harus benar-benar jeli. Informasi adalah hal yang paling penting. Coba cari tahu dari berbagai sumber tentang partai dan caleg-calegnya. Kenapa harus dari berbagai sumber? Karena di lingkungan kampus ini saja sudah jelas terlihat banyak sekali mahasiswa yang hanya membaca dan menelaah satu sumber lalu menelannya bulat-bulat. Jika ada pro-kontra, bacalah informasinya dari kedua sisi, baru analisa. Jangan bersikap terlalu fanatik karena hal tersebut akan menutup sebagian cara berpikir kita. Akan ada beberapa hal yang tidak dicerna secara adil dalam otak orang-orang fanatik sehingga yang muncul justru sebuah pembenaran bukan kebenaran.

Setelah berusaha mencari informasi barulah kita menentukan pilihan, tentu saja seperti yang sudah dikatakan di awal, golput juga pilihan. Golput juga bentuk suara rakyat. Bisa saja si rakyat ini memang benar-benar tidak cocok dengan partai atau caleg manapun. Ya tidak masalah. Golput si rakyat ini mungkin merupakan suara protes pada semua partai tentang bagaimana buruknya mereka dalam menyuguhkan calon-calon pemimpin. Mungkin saja seperti itu.

 Tapi jika sudah ada kesempatan untuk menjadi pemilih, sudah mengakses informasi, dan sudah menemukan pilihan yang pas dengan hati dan pikiran tapi tetap tidak nyoblos karena malas ini kebangetan dan sangat tidak bertanggungjawab.

Kalau saya, besok saya akan lari di belakang gymnasium IPB atau keliling IPB dan sarapan di warung ijo atau warung teteh genit.