Sunday, 20 April 2014

Mengapa Harus Kartini?

Judul tulisan ini merupakan judul tulisan Ummy Latifah dalam Sejarah Nusantara, ulasan The Global-Review. Penetapan hari Kartini yang artinya adalah penetapan tokoh ini sebagai simbol kebangkitan perempuan memang menuai banyak protes. Kenapa Kartini yang dipilih? Bukankah banyak pejuang wanita juga sebelum Kartini?

Tulisan ini menyebutkan beberapa nama pejuang wanita sebelum Kartini yang seharusnya juga bisa menjadi sebuah tanda bagi kebangkitan perempuan Indonesia.

Misalnya R. A. Lasminingrat penulis pertama perempuan sebelum kartini,Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Wanita tangguh dan pejuang yang lain adalah Cut Nya Dien, Cut Mutia, Malahayati Panglima angkatan Lautpertama di Aceh. Serta Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.
Sumber Gambar: avoskinbeauty.com



Selanjutnya disebutkan bahwa simbolisasi Kartini dipengaruhi oleh kekuasaan Belanda waktu itu yang melihat Kartini sebagai sosok yang tidak terlalu berbahaya untuk mereka. Namun hal ini tetap saja diaminkan oleh Presiden Soekarno dengan mengeluarkan Kepres No. 108 tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964. 

Saya termasuk salah satu pihak yang mendukung protes terhadap keputusan ini. Ya, kenapa harus Kartini? Bukankah dia menjadi simbol wanita yang cenderung akan 'manut' dan bersimpuh pada feodalisme. Mungkin kebetulan saja dia diperistri suami yang mendukungnya, seandainya tidak, apakah dia akan tetap berjuang? Dan bukankah pejuang-pejuang yang sudah dituliskan sebelumnya memiliki daya juang dan hasil yang lebih besar dari Kartini?

Bukan kemudian saya membenci Kartini, saya tentu kagum pula pada tulisan-tulisannya. Tapi saya risih dengan simbolisasi Kartini sebagai kebangkitan perempuan Indonesia. Figur Kartini kurang garang untuk kata semegah "kebangkitan". Saya lebih setuju kita namakan saja dengan Hari Kebangkitan Perempuan tanpa menyebutnya sebagai hari Kartini. Agar saat perayaannya anak-anak tak hanya berdandan ala kartini tapi juga bisa berdandan ala Cut Nyak Dien, Malahayati, atau Lasminingrat. Kalian tentu tidak familiar bukan dengan gaya berpakaian mereka? Tentu saja, sosok Kartini terlalu diagungkan dan menepis pahlawan wanita lainnya. Dari mulai cara berpakaian, foto-foto yang dipajang di dinding kelas, sampai lagu Ibu Kita Kartini. Kita lupa pada kisah pahlawan wanita lainnya, bahkan tidak tahu sama sekali.

By the way, saya suka lagu Ibu Kita Kartini karena notnya luar biasa mudah, do re mi fa sol mi do, la do si la sol... Ah, sayang tak ada lagu berjudul Ibu Kita Dewi Sartika.