Monday, 7 April 2014

Cinta 60 Lilin

Cinta. Lagi-lagi kosakata klasik ini meminta cerita setelah berkali-kali membuat luka. Ah, merinding membayangkan cinta dengan makna sedalam itu. Cinta yang disetarakan dengan kata “buta” dan “gila”, yang kemudian bisa membuat orang-orang yang dijatuhinya mati tersedak. Aku pernah mati dalah hidupku karena cinta, maksudku karena sesuatu yang waktu itu kudefinisikan sebagai cinta. Kali ini tidak lagi, pemaknaanku tentang cinta sudah melebihihi luas tata surya.

Percaya atau tidak kita hidup dengan cinta. Dengan berbagai jenis cinta yang kadang bahkan tidak kita kenali satu-persatu. Cinta pada sang kekasih, teman, keluarga, atau lainnya. Kata orang ada tiga alasan yang melatar belakangi cinta : nafsu, harapan, dan sesuatu yang tak beralasan. Alasan ketiga konon bernama cinta sejati, cinta yang penuh dengan kesetiaan.

Sumber Gambar: youtube.com

Kenyataan yang sering membuatku sesak adalah aku menemukan cinta yang kecil dalam keluargaku sendiri. Kenyataan yang selalu membuatku ingin lari dari rumah dan menemukan keluarga baru. Menghindari para pelaku anti-cinta yang terus mendoktrin kehidupan yang kujalani. Aku besar menjadi pribadi yang dingin dan rapuh.

Tapi kemudian aku menemukan cinta Tuhan yang besar. Takdir-Nya menempatkanku pada sekolah berasrama selama tiga tahun dan kini kuliah di kota yang cukup jauh dari keluargaku. Di tempat baru ini aku menemukan keluarga baruku, menemukan tempat kembali yang jauh lebih nyaman dari rumah. Mereka kusebut 60 lilin, nama yang kami berikan untuk sebuah komunitas penerima beasiswa. Kami ber-60 dipilih Tuhan dari sekian ribu pendaftar untuk menikmati kuliah di salah satu PTN terbaik negeri ini secara cuma-cuma. Aku percaya Tuhan sudah memilih alasan-alasan yang brilian untuk menentukan kami sebagai pemenangnya. Seperti aku, yang dipilih agar aku menemukan cinta yang besar dari keluarga baruku ini. Aku dipilih agar aku tak menjadi manusia dingin dan rapuh yang sempurna akibat kerusakan yang ada di keluargaku.

60 lilin telah menunjukkan bahwa suaraku di dunia ini didengar dan dunia ini benar-benar penuh warna, tidak hanya hitam di atas putih. Melalui mereka aku belajar tentang betapa mahalnya harga sebuah persahabatan. Mereka membentuk rindu-rindu saat berpisah. Mereka adalah orang lain yang peduli ketika keretaku anjlok dan sampai di tempat tujuan dini hari. Betapa berbahayanya saat itu karena aku perempuan, sendirian, dan tidak ada transportasi lagi untuk sampai di tempat kostan. Mereka terus menghubungiku dan memastikan keselamatanku disaat orang terdekatku justru asyik tertidur tanpa rasa khawatir. Mereka adalah orang lain yang beramai-ramai mengunjungiku saat sakit dan mengantarku ke klinik di tengah hujan deras. Aku ingat, ini seperti pawai kecil, banyak pengantar. Mereka adalah orang lain yang membangkitkan semangatku saat hubunganku dengan seseorang hancur yang sekaligus menghancurkan hidupku. Mereka berdiri tegak dan peduli. Mereka adalah orang lain yang siap membantu saat aku membutuhkan, berbagi tanpa mengharap pamrih. Mereka adalah orang lain yang melakukan banyak hal untukku dan kini tak lagi menjadi orang lain. Kami ber-60 berasal dari satu darah entah sejauh mana. Kami memanggil keutuhan kami dengan nama keluarga. Kelak saat kami sudah punya anak-anak yang lucu, mereka akan punya banyak sekali paman dan bibi, om dan tante, pakdhe dan budhe. Mereka akan punya banyak sepupu. Mereka, 60 lilin itu, yang menerangiku dalam kegelapan. Nyala-nyalanya memang kecil, tapi luar biasa hangat dan menenangkan. Membuatku lelap untuk menyambut mentari esok yang lebih benderang.

Dan di dunia ini pasti bukan hanya kami 60 lilin yang membentuk suatu koloni bernama keluarga baru. Persahabatan lain di dunia ini tentu punya ikatan cinta yang kuat pula. Ikatan yang akan memanggil ketika salah satu pihak terkena masalah. Ikatan yang akan semakin kuat saat bahagia dan tangis datang. Ikatan yang akan selalu membentuk keluarga-keluarga baru di dunia ini.

Dulu aku hampir menyerah pada hidup. Saat keluarga dan orang terdekatku meruak banyak hal. Tapi 60 lilin ini hadir membawa pesan Tuhan bahwa aku harus bertahan.


Ketika kalian tak bisa lagi melihat cinta, mungkin kalian sedang menutup mata. Tuhan lebih dari berkuasa untuk mengganti sesuatu yang menyedihkan menjadi kebahagiaan dalam bentuk lain yang baru sama sekali. Jangan pernah berhenti dan menyerah pada kehidupan. Karena cinta tidak pernah benar-benar berpadu dengan kata kekasih. Karena cinta tidak pernah bersembunyi dibalik makna sedarah. Cinta adalah semua hal yang membuatmu tenang dan tersenyum. Dunia ini punya koleksi tak terbatas untuk membuatmu tenang dan tersenyum. Dunia ini punya banyak cinta, maka bukalah mata!


Untuk 60 lilin, aku menamakan kalian rindu.