Saturday, 15 February 2014

Jam Kerja Peternak Perempuan Lebih Panjang

Perempuan-perempuan ini akan terbangun pada dini hari. Saat mata-mata orang yang dicintainya masih terlelap. Ia segera berpacu dengan asap-asap mengepul. Memburu waktu. Demi sang perantara rezeki, sapi-sapi perah.

Sebelum subuh, setelah tidur yang larut, mereka mulai 'bekerja'. Menanak nasi untuk perut-perut anak dan suaminya. Mendidihkan air untuk melegakan dahaga seharian ini. Membersihkan rumahnya yang sederhana agar tak melelahkan mata penghuninya yang lain. Mereka 'bekerja' tapi tidak bekerja. Kerjanya tidak dibayar, orang bilang ini wajar. Tapi kerjanya sering kali tidak diperhitungkan. Uncounted work! Saat ditanya, "Apa pekerjaan ibu?" mereka akan menjawab, "Ibu rumah tangga", bukan peternak. Kemudian mereka akan mengatakan tidak memiliki penghasilan, Rp 0,-. How poor! Padahal mereka bekerja dan juga 'bekerja'. Sementara suaminya yang hanya bekerja saja tanpa 'bekerja' akan disebutnya memiliki penghasilan sekian juta rupiah dari sapi-sapi mereka.

Usai terdengar adzan yang syahdu, mereka membangunkan suami dan anak-anaknya, mengajak sholat subuh. Setelah berdoa adalah waktu untuk bekerja bersama suaminya ke kandang. Untuk makan pagi, perempuan menjadi penyedia makanan, memasak hingga menghidangkan. Ada yang membawanya sebagai bekal, ada pula yang menyantapnya terlebih dahulu sebelum ke kandang. Lalu, peralatan-peralatan disiapkan. Tugasnya adalah membersihkan kandang dan memandikan sapi-sapi yang manja. Sapi perah memang terkenal cukup manja, mereka butuh ruang yang nyaman dan perlakukan yang istimewa.

Sumber Gambar: kumpulanfiksi.wordpress.com

Perempuan-perempuan ini ikut ke kandang atas keinginan sendiri karena kasihan pada suaminya. Jumlah sapi yang cukup banyak pastinya akan menguras tenaga kalau dikerjakan sendirian. Berdua pasti akan lebih ringan. "Kasihan atuh Neng kalau bapak disuruh ngurus kandang sendirian, nanti bapak capek," ucap salah satu dari mereka. Betapa tulusnya perempuan paruh baya ini. Usai pekerjaan di kandang selesai laki-laki masih akan terus bekerja mencari rumput. Beberapa perempuan juga masih akan ikut bekerja , selebihnya ada yang pulang untuk meneruskan 'bekerja' di rumah.

Jangan salah, perempuan-perempuan yang ikut mencari rumput tidak bermanja-manja dengan hanya membawa pikulan yang lebih sedikit dari laki-laki. Bahkan ada yang membawa pikulan rumput lebih tinggi dari kepalanya. Usai mencari rumput, mereka pulang ke rumah. Laki-laki akan tidur atau istirahat sambil ngerokok. Sementara perempuan harus siap-siap masak lagi dan melayani suami serta anak-anaknya. Sorenya, aktifitas-aktifitas di pagi hari ( ke kandang dan mencari rumput) dikerjakan lagi. Perempuan ikut lagi, sekembalinya dari bekerja perempuan akan lanjut 'bekerja' dan suaminya istirahat. Dia harus memasak, membersihkan rumahnya, mengurus anak-anak, dan banyak pekerjaan lainnya. Pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang dikenal dengan pekerjaan domestik atau reproduktif sering dianggap kodrat perempuan, jadi laki-laki merasa enggan untuk mengerjakannya. Akibatnya perempuan mengalami beban kerja ganda karena harus bekerja dan 'bekerja'. Mirisnya lagi, kerja mereka tidak diperhitungkan.

Selain beban kerja ganda, perempuan juga memiliki akses yang rendah terhadap sumberdaya. Misalnya saja hak atas tanah atau ternak, hampir semuanya diatasnamakan pihak laki-laki yang membuat seolah-olah perempuan menggantungkan hidupnya pada laki-laki. Kemudian laki-laki lebih banyak mengambil keputusan atas kegiatan-kegiatan produktif seperti penjualan dan pembelian ternak. Perempuan tidak dilibatkan karena dianggap tidak memiliki pengetahuan tentang dunia peternakan. Lebih tepatnya, perempuan tidak diberi kesempatan untuk memiliki pengetahuan itu. Perempuan tidak dilibatkan pada penyuluhan peternakan ataupun teknologi. Bukan hanya keputusan yang berhubungan dengan peternakannya, hak pribadi perempuan pun dirampas dan ditentukan oleh laki-laki. Dia tidak bisa menentukan hidupnya sendiri. Perempuan dituntut untuk patuh.

Dalam pembangunan peternakan aspek-aspek gender sudah seharusnya ikut diperhitungkan. Perempuan memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan laki-laki, sehingga berhak untuk mendapatkan pengetahuan juga. Alasan perempuan tidak dilibatkan dalam penyuluhan biasanya karena perempuan tidak memiliki waktu untuk ikut karena harus mengurus rumah, anak, dan sebagainya. Kebijakan-kebijakan yang dibuat harus menyentuh perempuan dan sesuai untuk perempuan. Perempuan tidak seharusnya dinomorduakan (subordinasi) dan dibiarkan memiliki jam kerja yang lebih panjang.

*Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis di salah satu desa di daerah Lembang, Bandung