Sunday, 5 January 2014

Punggung Tanganmu

Aku adalah sajak yang terpingkal-pingkal
Sampai kau ajak aku merangkainya
Di petang sepi
Bersama kucingmu yang gendut dan jorok
Menelanjangimu yang tengah merindukan puisi
Sajak-sajak tentang kau sendiri
Bait-bait yang sendu
Sumber Gambar: wanitaindonesia.co.id

Aku suka rambut ikal
Liuknya sulit dibelai dewi angin yang semilir
Dewi nan ayu yang selalu membuatku cemburu
Rajutnya yang tak teratur selalu menyihir
Jatuh...
Ikal...

Kau adalah wajah kaki-kakimu yang kekar
Jelmaan nada suaramu yang tegas
Tipuan tatapan yang tajam meluluhkan
Aku merengkuhnya dalam jauh

Kau sosok laki-laki yang lelaki
Sukmaku dalam tubuh laki-laki

Aku tak lagi mengenalmu
Sejak perpisahan kita dari bawah pohon Khuld
Kau begitu asing
Aku hanya bisa menebak
Meriuhkan lupa-lupa yang sepi
Tapi mata itu tetap teduh

Kubiarkan gerimis ini melantahkan lupaku
Menyembulkan sosokmu yang mengenalku
Kau yang bercakap dan menatapku teduh
Kau yang tiba-tiba menyodorkan punggung tangan
Kau yang tiba-tiba...

Aku mengenalmu
Jauh saat kita asyik memakan buah larangan
Sampai kini
Aku mengenalmu lagi
Sosok mata yang teduh dalam kehidupan yang garang

Oh.. kau..
Laki-laki tajam yang teduh
Kau punya pilu yang bisa kuraba tanpa bisa kubaca
Kau punya kisah yang bisa kurasa tanpa bisa kudengar

Kau utuh menghidupimu
Memuaskan telingamu untuk mengaminkan doa-doa yang syahdu
Memuaskan mulutmu untuk merapalkan pedih-pedih yang bising
Kau puaskan sendiri
Kau adalah dia dalam dirimu
Kau utuh menghidupimu

Sajak teruntuk laki-laki keriting dan kucingnya yang tak mengeong 
Begitu saja aku mengenalmu dan punggung tanganmu

(Puisi ini dibuat hanya 5 menit setelah request dari seseorang yang menantangku kebolehanku berpuisi)