Sunday, 5 January 2014

Dabaysha : Hadiah untuk Ayah

5-1-2014
Kota Hujan
Tanpa Mendung
Tanpamu

Sumber Gambar: sheknows.com

Dear Ayah.
Ayah pernah mendengar dongeng angin? Kata Bunda, angin bisa memakan daging-daging manusia hingga tersisa tulangnya. Angin juga bisa meniupkan kesejukan saat Ayah dan Bunda dulu bertengkar. Aku tidak pernah mendengar dongeng ini sampai selesai. Bahkan dalam ingatanku Bunda tidak pernah selesai mendongengkan cerita manapun. Dia selalu mengakhiri ceritanya dengan sebuah nama. Ayah. Dia mencintaimu.

Bunda pernah cerita, dulu Ayah marah karena cemburu melihat Bunda menuliskan puisi untuk kekasihnya yang lain. Kata Bunda dia memang punya konsep cinta yang tidak sama dengan Ayah dan Ayah tidak pernah memahami itu. Aku sebenarnya juga belum paham apa konsep cinta yang Bunda maksud, walaupun dia sudah menjelaskannya. Menurutku Bunda memang lebih rumit. Dia sosok yang filosofis. Dia suka mengajakku berbincang-bincang dengan sajak-sajak yang rumit. Entahlah Ayah, aku lebih suka berbicara dengan Ayah dibandingkan Bunda karena dengan Ayah aku berbicara dunia. Bunda selalu mengajakku ke dunia lain.

Ayah ingat bagaimana Bunda membuat capuccino panas? Dia akan mengatakan “Sayang, ini cintaku dalam gelas”. Kadang aku bosan mendengar syair-syair Bunda. Tapi aku juga akan selalu merindukannya ketika aku tidak melihat wajah sayunya beberapa detik saja. Dia memang luar biasa. Siapapun selalu merindukannya.

Aku ingat dengan jelas nasehat yang selalu dia ulang-ulang “Sayang, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua karena doa dalam iman.” Setelah itu Bunda akan bercerita tentang pertemuan indahnya dengan Ayah. Sebentar, Bunda selalu mengawalinya dengan kisah perpisahan kalian. Satu tahun 39 hari yang menyedihkan untuk Bunda sampai ia jatuh cinta pada sebuah mata yang dia tidak tahu siapa nama pemiliknya. Jatuh cinta yang terjadi beberapa dekade kemudian.

Cinta yang kemudian dibiarkan menguap begitu saja, termakan dongeng angin yang meniup nyala-nyala lilin. Kalian berpisah lagi setelah indah yang sekejap. Bunda menunggu lagi. Menunggu lakon-lakon ceriteranya hidup dan mengawini dia.

Ayah tahu apa yang paling aku suka dari kalian? Saat kalian bertatapan. Sejak aku pertama kali bisa memaknai sesuatu, aku tidak pernah melihat tatapan itu berubah. Saat aku menanyakannya pada Bunda, dia bilang “Mata itu yang menghidupi aku”. Ah, lagi-lagi Bunda bersajak. Tapi bukankah kalimatnya ini dalam sekali Ayah? Tatapan Ayah menghidupi dia? Aku ingat bagaimana Bunda mengingat kapan pertemuan pertama kalian yang dia ingat. Bunda selalu percaya itu bukan pertemuan pertama. Dia bilang mungkin saja kalian pernah bertemu di suatu tempat tapi tidak menyadari pertemuan itu. Pertemuan itu Bunda mulai dengan menatap mata Ayah. Hanya mata. Tidak bisa yang lain. Karena saat itu yang terlihat hanya mata dan Bunda jatuh cinta. “Ini luar biasa,” pikir Bunda.

Lalu kisah itu bersambung dengan luar biasa pula seperti cinta dalam gelas berbentuk capuccino yang selalu kalian nikmati berdua sambil berpelukan. Membiarkan angin-angin cemburu dan merusaknya dengan daun yang berguguran. Angin yang lugu, gugur daun selalu romantis untuk setiap pelukan. “Bunda suka dipeluk Ayah,” katanya manis. “Hangat”. Ah, Ayah menurutku juga pelukan paling enak itu pelukan Ayah, dibandingkan Bunda. Dia ahli mengelus kepala kita daripada memeluk. Bunda kurus.

Tentang tubuh Bunda yang semakin susut, dia pernah mewejangi aku sesuatu. “Baysha, Bunda tidak ingin kesepian tanpa Ayah. Bunda tidak ingin dia pergi lagi dalam satu tahun 39 hari yang menyedihkan. Bunda ingin Ayah yang menemani Bunda kali ini”. Bagiku ini isyarat Bunda yang terakhir bisa kutangkap. Dia ingin pergi lebih dulu dari Ayah. Dan Tuhan mengabulkannya.

Ayah tidak sendiri ada aku yang mirip Bunda. Dabaysha. Nama pemberian Bunda yang katanya berarti angin. Dia lagi-lagi filosofis. Nama ini pun diambil dari bahasa Somali. Bahasa yang sama sekali aku tak tahu itu dipakai oleh bangsa mana. Tepat hari ini, hari yang sama seperti waktu yang Bunda percayai sebagai perpisahan kalian yang pertama untuk satu tahun 39 hari yang menyedihkan. Ayah aku mencintaimu. Bunda mencintaimu melalui aku. Semoga kalian bisa bersama lagi. Menyeduh cinta dalam gelas.

Untuk Ayah yang akan tahu dalam peringatan perpisahan yang kesekian.




Dabaysha
Angin di Sela Pelukan