Sunday, 8 December 2013

Petani : Orang Desa, Orang Baik

Orang desa cenderung dipandang lebih rendah dibandingkan orang kota. Mereka lebih miskin, bodoh dan tak berpengalaman. Sementara orang kota memiliki kehidupan yang canggih,  Benarkah?

Padahal orang desa memiliki banyak keistimewaan dibandingkan orang kota.

Tempat tinggal orang desa berada jauh dari kebisingan kota. Mereka hidup di daerah pertanian (dalam arti luas : peternakan, perikanan, hutan, ladang, sawah, kebun, dll,). Hidup sederhana dan selaras dengan alam. Kekerabatan masih sangat erat dan diwujudkan dengan gotong-royong di berbagai bidang kehidupan. Saling mengenal dan saling berbagi. Letaknya yang udik membuat mereka sulit mengakses banyak hal, jalan-jalan desa masih banyak yang rusak.

Kedekatan orang desa dengan pertanian membuat mereka identik dengan makhluk bercaping yang membawa cangkul. Pada beberapa buku Sekolah Dasar mereka disebut-sebut telah berjasa pada butiran-butiran nasi yang terhidang di meja. Mereka 'Pahlawan Pangan'. Banyak orang, LSM, maupun pemerintah yang katanya sedang berjuang untuk mereka dengan cara yang bermacam-macam, dari mengatur kebijakan sampai berusaha memberdayakan.

Sumber Gambar: jed.or.id

Orang-orang desa sangat ramah dan legowo. Adat sopan santun menghiasi kehidupan mereka. Tidak peduli siapapun yang datang, mereka selalu menaruh rasa hormat yang tinggi. Termasuk pada orang-orang luar desa ataupun orang desa sendiri yang menjadi poros rantai pemasaran produk pertanian mereka. Sebut saja poros ini sebagai 'Pak Ogah'. Angka kemiskinan Indonesia yang semakin meningkat dibanjiri orang-orang yang mengaku berprofesi sebagai petani. Profesi dengan tenaga besar dan jam kerja penuh yang digaji rendah. Profesi yang 'kotor' dan tidak keren. Profesi yang sudah tidak diminati generasi muda.

Kenapa mereka bisa miskin? Mungkin karena mereka terlalu baik dan berpikir positif kepada semua orang. Mereka tidak sadar tengah dibohongi sistem. Kalaupun sadar, mereka tidak berdaya untuk menghadapinya. Sistem telah menjauhkan mereka dari pasar dan memasukkan mereka dalam rantai pemasaran yang sangat panjang. Rantai yang membuat jungkir balik mereka dihargai minimal dan tanpa sadar menghadiahkan jumlah yang besar untuk Pak Ogah yang hanya berpangku tangan dan mengarahkan telunjuk.

Kebaikan orang desa sudah dimanfaatkan. Mereka dibiarkan tenggelam dalam unggah-ungguh yang membunuh perlahan tanpa sadar.