Sunday, 8 December 2013

Perempuan Peternak Sapi Perah

Dunia peternakan identik dengan kata 'kotor'. Hampir tidak mungkin para petani datang ke tempat kerjanya dengan menggunakan blezer dan dasi yang rapi atau pakaian ala artis. Begitu pula yang dapat kita lihat pada kehidupan peternak sapi perah di Desa Suntenjaya, Lembang. Terutama para kaum perempuannya. Penampilan mereka apa adanya tapi kecantikan menyelimuti hati mereka.

(8/12/2013) Setiap harinya mereka harus bangun sebelum subuh untuk memasak air dan makanan serta membersihkan rumah. Usai memasak para Ibu akan ikut ke kandang membantu suami mereka. Udara Desa Suntenjaya yang dingin tidak membuat mereka enggan untuk bersentuhan dengan air saat harus memandikan sapi. Tidak hanya itu, para perempuan ini juga membantu membersihkan kandang sapi perah yang memang harus selalu bersih. Terkadang mereka juga membantu sang suami untuk mencari rumput setelah membersihkan kandang. Ada pula yang pulang ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah yang belum sempat terselesaikan pada pagi harinya.

Saat suami pulang di siang harinya, para perempuan akan menyambutnya dengan hidangan khas Sunda yang lezat. Sorenya mereka kembali ikut ke kandang untuk melakukan kegiatan yang sama seperti pagi harinya, yaitu memandikan sapi, membersihkan kandang dan memerah susu sapi.  " Nggak ada yang nyuruh, pengen aja bantu suami, kasihan capek nyari rumputnya," ungkap Ibu Oong.

Sumber Gambar: beritadaerah.co.id

Para perempuan ini dengan tulus membantu suaminya bekerja di kandang walaupun mereka sendiri memiliki pekerjaan rumah yang cukup banyak. Ungkapan "dari matahari terbit sampai mata suami terbenam" bisa jadi sangat cocok untuk mereka. Pekerjaan rumah tangga hampir semuanya dikerjakan sendiri tanpa bantuan suami. Sayangnya, pekerjaan berat mereka tidak pernah dikonversi dengan penghasilan. Ketika disurvei mereka akan selalu mengatakan berpenghasilan Rp 0,- dan kemungkinan membuat mereka terdata sebagai salah satu penduduk miskin dengan jenis kelamin perempuan.

Tidak hanya itu, pada pelatihan dan penyuluhan peternakan perempuan jarang diikutsertakan. Nama anggota koperasi juga didominasi oleh laki-laki. Sebagai makhluk 'tambahan' peran perempuan dalam rumah tangga peternak jarang dilirik. Keterampilan dan pengetahuan mereka terbatas walaupun kehidupan mereka harmonis. Mereka cenderung menerima apa adanya nasib yang bergulir dalam kehidupan mereka.

Keharmonisan masih menjadi tujuan utama bagi para perempuan ini. Tidak peduli bagaimana mereka dihargai, yang penting bagi mereka adalah kenyamanan suami dan anak-anaknya dalam menjalani kehidupan. Kecantikan bagi mereka tidak hanya sebatas make-up merah kuning hijau. Kecantikan hati mereka tidak bisa digambarkan dengan warna apapun.