Sunday, 8 December 2013

Perempuan dan Transportasi Umum di Lembang

5/12/2013-Lembang. Perjalanan dari terminal Leuwipanjang menuju Lembang tiga hari yang lalu saya tempuh menggunakan bus Damri. Jangan bayangkan bus ini sejenis dengan bus Damri yang ada di bandara. Sangat jauh berbeda. Saya dan dua teman saya yang membawa tas-tas berat dengan jumlah lebih dari satu harus rela berdiri karena semua bangku sudah terisi penuh. Awalnya cuma kami bertiga saja yang berdiri. Saat menengok sekeliling saya melihat banyak sekali penumpang laki-laki, bahkan ada yang rambutnya bergaya Pank. Sayangnya mereka semua tidak ada yang menawarkan tempat duduknya untuk kami.

Mereka tidak melihat ada tiga perempuan muda yang tengah berusaha berdiri tegap melawan goyangan bus kota yang terlampau butut. Tiga perempuan muda yang kerepotan memposisikan diri membawa dua tas berat di tengah lalu lalang pengamen yang meminta kami untuk minggir. Tiga perempuan muda yang tidak punya cukup uang untuk naik taksi dari Leuwipanjang-Lembang sehingga harus terjebak di bus 'yang mirip' Damri. Mereka mungkin tidak melihat kami.

Saya bukan perempuan manja yang tidak kuat berdiri lama di kendaraan umum. Saya sudah kelewat pengalaman karena sangat sering berdiri di kereta ekonomi jaman dulu yang penuh sesak walaupun memiliki tiket. Bahkan saya pernah berdiri dari Cilacap sampai Yogyakarta. Sama sekali saya tidak protes karena saya lelah berdiri. Namun saya selalu curiga dengan banyak hal.

Sumber Gambar: explorebandung.blogspot.com

Bayangkan posisi tengah bus kota yang sempit diisi dengan orang-orang dan barang mereka. Ketika ada orang yang hendak lewat dari arah yang berbeda atau dari belakang kita, maka mau tidak mau kita akan bersentuhan dengan posisi yang sangat dekat. Jika ini terjadi pada laki-laki dan perempuan bisa dibayangkan bagaimana kedekatannya dan siapa yang menikmatinya.

Tindakan tidak senonoh di kendaraan umum bukan lagi menjadi hal baru. Beberapa kasus sudah terdengar di telinga masyarakat luas. Korbannya selalu saja perempuan. Bahkan ada pelecehan-pelecehan terselubung di angkutan umum. Misalnya saja para lelaki yang memandangi tubuh perempuan yang tengah berdiri di depanya dan membayangkan hal-hal kurang pantas yang bisa saja memicu tindakan kurang baik.

Untuk itu saya kecewa sekali jika semua penumpang laki-laki mendadak buta. Di bus memang tertulis bahwa tempat duduk diperuntukkan untuk wanita hamil, anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas. Namun untuk menjaga perempuan agar terhindar dari kekerasan dan tindakan yang kurang baik yang masih saja menempatkan perempuan sebagai korban, maka sudah seharusnya ada beberapa lelaki yang membuka matanya. Beberapa saja cukup. Karena hampir tidak mungkin juga jumlah kursi sama dengan jumlah perempuan yang naik bus, pasti tersisa beberapa kursi untuk laki-laki .