Thursday, 26 December 2013

Malangnya Keperawanan Perempuan

"Ibarat kunci, kalau kunci bisa digunakan untuk membuka semua jenis gembok, maka hebatlah kunci itu. Tapi, gembok yang bisa dibuka semua jenis kunci, maka gembok rusak dan paling buruklah gembok itu."

Sumber Gambar: counseloradofoli.com

Kalimat ini jadi bahan guyonan salah seorang kakak kelas (laki-laki) di komunitas tertentu beberapa waktu lalu. Entah darimana dia mendapatkan lelucon ini, yang jelas aku ikut ngikik untuk menghormatinya. Hatiku berontak, tentu saja kalimat ini sangat merendahkan perempuan. Kunci adalah laki-laki dan gembok adalah perempuan. Tapi aku mencoba "ceramah" dengan cara lain pada kesempatan yang lain.

Bayangkan saja, keperawanan perempuan begitu dianggap penting. Sementara "ketidakperawanan" laki-laki begitu dianggap hebat. Ini diskriminasi. Perempuan harus berjuang keras menjaga keperawanannya. Laki-laki tertawa puas mencoba-coba kehebatannya. Ini aturan siapa? Agama? Budaya? Sosial? atau Laki-laki brengsek (maaf, tidak semua laki-laki bersifat brengsek)?

Sayangnya perempuan punya tanda saat dia tak lagi perawan. Selaput dara. Laki-laki tidak. Petunjukkah ini untuk kehebatan dan kesempatan laki-laki bermain-main dengan seks? Saya belum pernah melakukan seks, saya tidak tahu apa bedanya perawan dan tidak. Tapi bukankah tidak ada persyaratan "perawan" untuk sebuah pernikahan secara agama? Seseorang boleh saja menikah walaupun sudah tidak perawan.

Ini bukan berarti saya mendukung seks bebas dan melegalkan ketidakperawanan, yang sedang saya bicarakan adalah kenapa hanya perempuan yang dipermasalahkan? Kenapa laki-laki tidak? Sekali lagi, ini diskriminasi! Apa akibatnya? Jika ketidakperawanan perempuan ini disebabkan oleh pelecehan seksual maka dia tidak akan berani melaporkan kasusnya ke pihak yang berwajib, bahkan perempuan tidak akan berani mengungkapkannya ke siapapun. Perempuan malu. Perempuan takut. Mereka akan dipinggirkan karena aib yang telah diperbuat. Sementara laki-laki? Mereka mungkin sedang mencoba selaput dara yang lain.

Lalu kenapa perempuan dikatakan korban? kalau hubungannya atas dasar suka sama suka? Ini alibi laki-laki untuk "kabur". Jika memang Sang laki-laki memiliki cinta sejati, dia pasti akan bertanggungjawab dan menguatkan Si perempuan. Menemaninya menghadapi sisa ketidakperawanannya. Laki-laki lebih sering meninggalkan setelah "mencicipi".

Kenyataan ini menjadi beban psikologis yang besar untuk perempuan. Mereka tidak bisa bercerita kepada siapapun karena malu dan takut. Lelakinya sudah pergi setelah menikmati "perhiasan"nya dan mungkin sedang mencoba milik perempuan lain. Tentu saja, laki-laki selalu kecanduan dengan seks dan perangkatnya. Perempuan juga, tapi perempuan lebih hebat mengekang nafsunya. Beban psikologis yang terlalu berat bisa membuat perempuan-perempuan (korban) ini gila dan hancur masa depannya. Dunia akan memandang sinis perempuan itu.

Apa yang harus kita lakukan?

Kita harus mengedukasi para pemuda tentang seks, tentang bagaimana akibatnya, tentang siapa yang menjadi sebab dan menerima akibat, tentang beratnya sebuah pertanggungjawaban, tentang mengelola nafsu, tentang kesehatan reproduksi, tentang saling menjaga, dan lainnya.

Perempuan yang menjadi korban harus diberikan power untuk "menuntut" dan rasa aman untuk bercerita. Lembaga-lembaga khusus perlu dibentuk untuk menangani para korban. Bukan malah dengan menyebarkan "Cara mengenali perempuan yang tidak lagi perawan" di media sosial, seperti yang akhir-akhir ini marak di-share di Facebook. Argumen yang sangat memojokkan dan merendahkan perempuan itu sangat bias gender. Si penulis menempatkan perempuan pada tataran obyek seksual yang bisa dibeli atau dipakai. Tentu saja argumen ini merugikan para korban dan membuat mereka semakin minder serta takut jika semua orang akan mengenali ketidakperawanannya. Korban akan menjadi tidak percaya diri lagi pada masa depan dan kehidupannya yang masih akan cerah.

Perempuan bukan obyek seksual, perempuan juga pelaku seks, bukan obyek!

Secara agama, keperawanan penting untuk perempuan DAN LAKI-LAKI (saat mereka belum menikah)!

Tidak perawan berarti zinah (saat belum menikah), siapa yang berdosa? perempuan DAN LAKI-LAKI!