Sunday, 8 December 2013

Indonesia Tanpa Siskamling

"Korupsi yang terdistribusi secara merata", konsep sindiran yang semakin tampak sempurna ketika melihat fenomena pencurian terjadi dimana-mana. Tidak hanya pejabat-pejabat berbaju glamour yang mampu melakukannya. Masyarakat pinggiran yang menangisi tindakan para pejabat tersebut juga banyak yang melakukan tindakan serupa.

Pencurian dan tindak kriminal lainnya seolah menghantui kehidupan masyarakat. Membuat mereka resah dan tidak nyaman tinggal dalam suatu wilayah. Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) sebagai salah satu wadah swadaya masyarakat harusnya mampu mengatasi atau paling tidak meminimalkan kejadian ini. Namun sayangnya, jumlah Siskamling yang aktif di Indonesia bisa dihitung jari. Masyarakat sudah terlampau lelah untuk melakukan ronda setelah seharian bekerja mencari nafkah. Mereka lebih memilih untuk menyerahkannya pada pihak kepolisian dibanding membentuk 'polisi masyarakat'.

Sumber Gambar: desarupebima.wordpress.com

Beberapa Siskamling yang aktif juga tidak lagi menerapkan sistem piket bergilir, namun menggunakan sistem upah atau iuran. Tiap warga dibebani iuran sekian rupiah untuk menggaji petugas yang melakukan ronda. Pos-pos Siskamling di berbagai tempat sudah lama dibiarkan kosong atau bahkan beralih fungsi menjadi tongkrongan preman. Wadah yang namanya sudah familiar di masyarakat ini perlahan terkikis gaya hidup yang semakin sibuk.

Keberadaan Siskamling yang semakin redup tidak diimbangi dengan keamanan lingkungan yang semakin baik. Pencurian yang sering terjadi di sekitar kampus IPB Dramaga misalnya. Mahasiswa selalu menjadi korbannya, hampir tidak pernah ada warga asli yang menjadi korban. Sistem pencurian di wilayah sekitar kampus ini juga terlampau sempurna sampai-sampai pihak kepolisian belum pernah mengungkap satupun kasusnya kecuali penembakan satpam IPB. Siskamling juga tidak berperan dengan baik untuk mengatasi pencurian ini. "Siskamling perannya sangat penting, banyak sekali pencuri soalnya," tutur Ana (8/12/2013), salah seorang mahasiswi yang tempat kost-nya pernah kecurian. 

Daerah-daerah tertentu di Indonesia memang cukup aman, tapi lebih banyak daerah yang masih belum aman. "Disini tidak ada Siskamling, karena tidak ada yang berani mencuri di wilayah ini. Yang berbuat tidak baik pasti akan ketahuan," ungkap Pak Encang (7/12/2013), ketua RW 10 Desa Suntenjaya yang juga merupakan ketua Kabuyutan Sri Sunda. Menurutnya, Kampung Batuloceng tempat ia tinggal sangat aman. Kita tidak perlu khawatir meninggalkan rumah tanpa dikunci atau meletakan sepeda motor di sembarang tempat. Desa yang memegang teguh tradisi Sunda ini menjadi salah satu bukti bahwa budaya dapat membentuk trust di masyarakat. Sayangnya, tidak semua masyarakat Indonesia memilikinya dan peran Siskamling masih dibutuhkan.