Sunday, 8 December 2013

Budaya dan Agama

Tentu saja kita tidak boleh menyekutukan Tuhan, membakar kemenyan entah untuk memanggil siapa. Kita juga tidak boleh membuat ritual-ritual 'aneh' yang tidak ada dalam panduan ibadah agama kita. Apalagi mengorbankan hasil-hasil pertanian segala rupa kepada penghuni 'lain' dunia ini. Atau mengalunkan musik-musik pemanggil 'setan' yang memilukan, tari-tarian yang gerakannya tidak diajarkan dalam tuntunan ibadah, dan menyanyikan lagu-lagu 'lama' yang meresahkan. Syirik.

Budaya merupakan karya manusia yang dibentuk dari pengalaman hidup ataupun proses adaptasi. Budaya memiliki banyak simbol dan makna yang dikemas dalam berbagai bentuk. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang sama menjadi sangat beragam karena perbedaan kemampuan dalam menyerap ilmu, watak, kemampuan adaptasi, perbedaan ketahanan menghadapi setan, dan banyak penyebab lainnya. Keberagaman ini semakin bertambah seiring semakin tuanya umur bumi. Semakin banyak budaya dan semakin beragam nilai dan norma yang dimiliki masyarakat dunia.

Dulu, sejarah menceritakan bahwa proses penyebaran agama dilakukan dengan penyatuan kebudayaan setempat dan agama yang akan disebarkan. Misalnya Sunan Kalijaga yang menyebarkan Islam dengan wayang dan musik yang kemudian meninggalkan Bedug (yang awalnya merupakan salah satu alat musik) sebagai alat pemanggil umat Islam untuk segera sholat. Banyak pula agama lain yang melakukan hal serupa, menggabungkan nilai yang dibawa dengan nilai yang sudah ada agar mudah diterima.

Sumber Gambar: youtube.com

Sekarang, sebagian orang ingin mengembalikan agama pada yang ajarannya yang murni. Mengingat proses penyebarannya sudah berabad-abad lalu. Masyarakat punya pemikiran yang sudah sangat kritis untuk memaknai ajaran agama yang sempurna tanpa harus dibujuk dengan keringanan-keringanan yang dulu ditolerir oleh Sang Penyebar Agama. Ajaran agama harus kembali murni, tanpa ada selingan budaya-budaya masa lampau.

Namun sebagian lainnya menangkap hal lain. Budaya harus dipertahankan karena berkaitan erat dengan kearifan lokal. Mereka beranggapan bahwa budaya merupakan bentukan manusia dan memiliki banyak makna yang membawa pesan-pesan kebaikan. Misalnya saja 'Sedekah laut', sesaji yang dipersembahkan pada 'penghuni lain' dunia ini dimaksudkan untuk memberi makan ikan-ikan di laut sebagai ungkapan rasa syukur dan ungkapan berbagi dengan makhluk Tuhan yang lain.

Orang-orang dulu memang lebih sering mengungkapkan sesuatu secara tersirat dan 'berbohong' sehingga kemudian dianggap sebagai mitos. Misalnya saja tidak dibolehkannya kita pergi dan mengambil sesuatu dari wilayah hutan tertentu dengan alasan ada 'hantu'-nya . Hal ini sebenarnya dimaksudkan oleh orang-orang dulu agar bagian hutan tersebut menjadi penyeimbang, karena bagian lainnya telah dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekarang kita mengenalnya sebagai upaya konservasi hutan. Bukankah orang dulu terlampau hebat untuk mengenalkan konsep ini? Insting mereka begitu tajam untuk mencium gelagat orang di masa depan yang tidak menghormati alam.

Budaya dan agama bukan dua hal yang berjauhan. Bahkan sebagian budayawan menganggap agama adalah salah satu bentuk budaya. Keduanya sama-sama memiliki nilai yang terpola. Ada banyak pilihan yang baik dan menarik tanpa menghilangkan salah satunya. Suatu penggabungan jenis baru yang dirasionalisasi menggunakan pisau analisis agama dan budaya itu sendiri.