Friday, 20 December 2013

Apalagi yang Bisa Diperjuangkan Feminis?

Sumber G


1. Ibu Rumah Tangga 

Perempuan-perempuan tangguh berstatus rumah tangga ini tidak digaji dan tidak diakui jam kerjanya. Pekerjaan babu yang mereka kerjakan dianggap sebagai pekerjaan lumrah yang tidak membutuhkan insentif. Nilai kerja mereka tidak dihitung secara ekonomi. Bahkan dengan tega mereka dikategorikan sebagai manusia tidak berpenghasilan atau manusia miskin yang tidak menyumbangkan apapun untuk GNP. Padahal jika mereka sakit dan absen sehari saja, tebak apa yang terjadi? Anak-anak tidak terurus, rumah tidak nyaman, dll. Sebagian besar dari mereka tidak diberi kesempatan untuk mengakses pengetahuan secara lebih detail. Mereka hanya disuguhi cucian 'empuk' dan mata suami yang lelah setiap harinya. Ibu-ibu ini dipaksa menelan pekerjaan-pekerjaan yang membosankan tanpa ada hal-hal baru yang bisa mereka nikmati. Para ibu rumah tangga menjadi tidak percaya diri sebab 'hukuman' publik atas kasta yang disematkan pada mereka. Jangankan publik, suami-nya pun kadang tidak menghargai hasil kerja kerasnya. Adilkah hal ini untuk para Ibu Rumah Tangga?



2. Pelecehan Seksual pada Perempuan

Perempuan adalah obyek seks. Pemikiran ini tidak hanya ada pada laki-laki bodoh yang tidak sekolah. Para pejabat bahkan pejuang bangsa ini pun ada yang mengidap penyakit dari kalimat ini. Para laki-laki selalu berpikir bahwa perempuan adalah kenikmatan dan hidangan siap santap. Tidak terkecuali bagi kaum muda. Isu yang beredar mengenai pembagian kondom di kampus-kampus mungkin diilhami dari rumor mengenai dekatnya para pelajar/mahasiswa dengan seks bebas. Betapa perempuan dengan mudahnya menjadi camilan renyah yang gratis untuk para laki-laki yang menyuguhkan cinta dan sistem pacaran yang menyenangkan. Padahal tujuan mereka tidak lain hanyalah seks. Atau sedikit lebih berkelas lagi para pejabat yang kebanyakan juga menyandang status koruptor. Mereka menyamakan wanita dan uang. Semua jenis laki-laki ini berpikir bahwa perempuan juga menginginkan seks sama seperti mereka dan cara merayunya cukup dengan buaian cinta sejati atau kekayaan. Perempuan akan menyadari dirinya sebagai korban ketika dia ditinggalkan. Baik ditinggalkan dengan jejak ataupun tidak. 

Bukan hanya dengan cara baik-baik. Perempuan juga dilecehkan dengan jalan diperkosa atau bentuk kekerasan lainnya. Perempuan 'dinikmati' dan para laki-laki beralibi bahwa mereka juga sedang membuat korban-korban ini merasakan kenikmatan yang sama. Permasalahannya para korban enggan melaporkan pelaku karena takut dan malu, sehingga para Arjuna ini masih bisa hidup bebas melanglangbuana mencari mangsa lain yang lebih bodoh. Pelecehan ini bisa terjadi dimanapun baik tempat sepi ataupun rame.



3. Kekerasan dan Ketidakadilan dalam Rumah Tangga

Laki-laki selalu dianggap lebih kuat dan berkuasa. Semua harta benda : tanah, rumah, toko, barang-barang berharga, dll. disahkan atas nama mereka. Kenapa? Karena merekalah yang bekerja dan memperoleh penghasilan. Jika dikembalikan ke poin (1), mereka tidak pernah berpikir berapa yang harus mereka bayar untuk pembantu, baby sitter, pelacur, psikolog, guru, dan profesi lain yang dilakukan istrinya secara gratis. Sekali lagi, kerja perempuan tidak dihitung. Mereka tetap perempuan dengan penghasilan NOL rupiah. Tidak berhenti sampai disitu, perempuan juga dikekang untuk tidak mengaktualisasikan diri mereka. Perempuan jarang dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti penyuluhan pertanian, rapat, dll. Selain itu perempuan tidak selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Mereka didoktrin sebagai penonton. Kekerasan dalam rumah tangga juga tidak lagi menjadi isu yang asing. Perempuan yang dianggap lemah menjadi bulan-bulanan para lelaki yang katanya lebih kuat dalam berbagai bentuk kekerasan yang dialaminya. 



Dan masih banyak permasalahan-permasalahan lain yang masih menjadi PR para Feminis seperti penggunaan alat kontrasepsi yang hanya dilakukan pada perempuan dan sering kali menyiksa tubuhnya. Hak-hak para PSK juga menjadi bagian dari apa yang harus diperjuangkan Feminis. Selain itu masih banyak pula budaya Patriarki yang belum runtuh dan menyembunyikan perempua dari dunia, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan. Dan banyak lagi masalah lain yang tidak akan pernah selesai dibahas di ruang kecil ini.