Wednesday, 13 November 2013

Wawancara Turun Lapang Perubahan Sosial di Desa Barengkok

Sumber Gambar: povertyactionlab.org
Pagi harinya kami disuguhi pisang goreng manis dan teh hangat sebelum pergi melakukan wawancara. Usai sarapan ringan dan berpamitan kami berburu tugas kami masing-masing. Saya dan Indah (Sosped) bertugas mewawancarai pedagang. Responden pertama kami adalah pedagang kecil yang kebetulan sedang berkumpul dengan tetangganya. Mereka terdiri dari lima orang dengan beberapa jenis pekerjaan: pedagang kecil (1 orang); tenaga administrasi di sekolah (1 orang) dan sisanya adalah ibu rumah tangga tanpa pekerjaan. Kebetulan mereka adalah kerabat yang tinggal berdekatan. Dulunya orang tua mereka adalah petani namun sekarang lahan mereka tidak lagi diurus, hanya ditanami pisang dan singkong yang tidak memerlukan perawatan khusus. 

Pemuda sekarang lebih banyak yang memilih bekerja di kota menjadi pekerja swasta ataupun buruh pabrik karena lebih menjanjikan. Generasi muda cenderung tidak mau mengambil resiko di bidang pertanian. Profesi sebagai TKI juga sudah jarang karena trauma terhadap penipuan yang pernah mereka alami. Sawah-sawah banyak yang dijual atau dibuat pemukiman. Akibatnya jumlah petani semakin sedikit, bahkan mereka mengungkapkan bahwa di sawah pun terasa sepi. Tuntutan ekonomi membuat mereka tidak mungkin terus bergantung pada pertanian yang produksinya semakin menurun dan pemasarannya kurang bagus walaupun tidak ada tengkulak. Produksi padi lebih banyak dimakan sendiri, hasil pertanian lainnya seperti mentimun, pepaya dan manggis dijual. Mereka mengaku tidak pernah ada bantuan untuk pertanian, tidak ada kelompok tani, dan tidak ada akses informasi mengenai perkembangan pertanian. Dampak yang mereka rasakan dari perubahan mata pencaharian ini adalah kesejahteraan yang semakin meningkat.

Responden kedua kami adalah Ibu Idah seorang penjahit yang juga membuka PAUD “Perkutut” dan TPQ gratis bernama Shihabul Huda. Aktivitasnya sangat padat, tidak pernah ada waktu luang. Pendapatan sehari-harinya diperoleh dari menjahit, keropak yang diisi seikhlasnya oleh murid-murid PAUD dan TPQnya, dan pendapatan suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Ibu Idah adalah lulusan pesantren yang kemudian bekerja di pabrik Garmen Dramaga, disitulah kemampuan menjahitnya diperoleh. Sejauh ini beliau belum pernah mendapatkan bantuan dan hanya berjuang sendiri. Pendidikannya yang hanya lulusan SMP tidak memungkinkan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik menurutnya. Namun keikhkasannya dalam berbagai ilmu patut untuk kita contoh. Kita yang sudah memiliki segudang ilmu dibandingkan beliau terkadang masih sangat komersil untuk membaginya dengan orang lain. Walaupun rumahnya kecil dan sangat sederhana beliau tetap menikmati hidupnya karena kuncinya adalah merasa cukup.

Responden ketiga adalah Ibu Wiwin, seorang penjual makanan yang kebetulan kami beli untuk sarapan. Profesi sebagai pedagang sudah dilakoninya selama 10 tahun. Lima tahun di pasar dan sekarang membuka warung kecil-kecilan di pinggir jalan. Menurut beliau akses di Desa Barengkok tergolong mudah karena ada transportasi angkot dan dekat dengan pasar Leuwiliang. Orang tua Ibu Wiwin adalah seorang petani, namun beliau tidak mau meneruskan karena bertani itu melelahkan menurut beliau. Lahan pertanian yang ia miliki di-paro, tidak dijual. Berdasarkan penuturan beliau lapangan pekerjaan untuk perempuan lebih banyak di desa Barengkok karena perempuan dinilai lebih jujur. Kekurangan di bidang perdagangan sendiri adalah sedikitnya pembeli. Di warung Ibu Wiwin kami bertemu pula dengan pak Ujang seorang pemilik eleran yang mengatakan produksi beras hanya sebagian yang berasal dari Desa Barengkok, setengahnya lagi berasal dari luar desa, artinya produksi pertanian belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Sayang, pak Ujang enggan kami wawancarai lebih lanjut karena kami tidak memberikan imbalan berupa modal untuk usahanya.

Responden terakhir kami adalah seorang penjaga toko dan beberapa orang yang ada di toko tersebut, beliau terkadang juga menjadi kuli nyuci dan nyetrika. Menurutnya sekarang lebih banyak pendatang dan lahan semakin gersang. Pendatang berasal dari Sukabumi, Cianjur, Jakarta, dll. Permasalahan yang sering masyarakat desa hadapi adalah permasalahan ekonomi, seperti mahalnya sembako. Lahan pertanian banyak yang dikonversi menjadi pemukiman karena bertambahnya jumlah pendatang tersebut. Akibatnya banyak yang beralih profesi menjadi sopir angkot, PRT di perumahan atau di kota, buruh pabrik, dll. Dulunya banyak yang berprofesi sebagai petani baik sawah, kebun, maupun hutan. Penduduk desa Barengkok mayoritas hanya lulusan SMP/ SMA sehingga tidak memiliki banyak lapangan pekerjaan yang layak di kota.