Wednesday, 13 November 2013

Turun Lapang di Desa Barengkok : Babarengan Sambil Jongkok

Ini adalah turun lapang mata kuliah persosped, gabungan praktikum mata kuliah Perubahan Sosial dan Sosiologi Pedesaan. Turun lapang diadakan tiap akhir semester. Kami akan menginap di desa hingga beberapa hari.

Setelah melakukan pertemuan dengan Kak Rajib, asisten praktikum kami, rasanya pikiran langsung pecah. Banyaknya deadline tugas dan organisasi, ditambah dengan beban Studi Pustaka serta proposal penelitian, membuat hari-hari di semester 6 semakin “panas”. Namun semuanya harus dilewati, tidak ada pilihan lain. 

Aku segera menghubungi salah satu anggota Sosped, adik tingkat, untuk menyepakati jadwal kumpul persiapan turun lapang. Akhirnya disepakati hari Senin sore untuk berkumpul di GKA, salah satu koridor favorit di kampus IPB. Mahasiswa memanfaatkan tempat ini untuk rapat, mengerjakan tugas kelompok, ngenet, bahkan belajar.

Pertemuan kami sore itu menyepakati bahwa tim akan dibagi menjadi dua: tim survei yang terdiri dari 3 orang dan sisanya menjadi tim proposal. Tim survei berfokus pada perizinan surat dari departemen, pencarian lokasi, survei kondisi desa, perizinan turun lapang ke desa , dan pencarian penginapan. Sementara tim proposal berfokus menyelesaikan proposal dan berkonsultasi dengan asisten. Alhamdulillah asisten kami cepat tanggap saat mengoreksi proposal sehingga weekend ini kami langsung bisa turun ke desa.

Sumber Gambar: goodthingimpretty.com


Sekitar pukul 17.00 WIB kami berkumpul di BNI bersama salah satu kelompok Persosped lain yang juga akan turun ke desa. Setelah anggota kelompok lengkap kami segera berangkat menggunakan angkot sewaan dan dua orang menggunakan motor. Tepat saat adzan Maghrib kami sampai di kantor desa dan langsung disambut ramah oleh beberapa warga yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan kantor desa. Setelah memastikan tempat untuk menginap, angkot kami segera meluncur ke rumah kepala desa yang ternyata cukup megah. Kami ditempatkan di tiga kamar yang cukup besar dan lantai dua bebas kami gunakan untuk kegiatan apapun. Usai sholat Maghrib kami meminta izin ikut bapak kepala desa ke kantornya. Ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan malam ini.

Setibanya di kantor desa beliau mengajak kami berdiskusi mengenai banyak hal. Beliau adalah Bapak Abdul Tawakkal, seorang mantan GM yang baru saja terpilih menjadi kepala desa. Beliau menggunakan dana pribadi, puluhan juta rupiah, untuk merenovasi kantor desanya menjadi sangat nyaman. Semua barang yang ada di kantor desa baru diganti. Beliau mengaku prihatin dengan kondisi desa yang mendapat peringkat terakhir di Kecamatan Leuwiliang ini. Untuk itu beliau berniat melakukan pembangunan di Desa Barengkok. 

Barengkok berasal dari singkatan Bahasa Sunda yaitu "babarengan sambil jongkok" yang maknanya melakukan musyawarah untuk menyelesaikan permasalahan agar masalah tersebut tidak terdengar sampai ke luar (orang lain). Makna ini menggambarkan bahwa masyarakat Desa Barengkok dulunya adalah masyarakat yang memiliki prinsip kemandirian untuk menyelesaikan masalahnya, Pak Tawakkal berniat menerapkan filosofi ini untuk masyarakat desa zaman sekarang. 

Berdasarkan data yang ada di kantor desa, mata pencaharian masyarakat Desa Barengkok terdiri atas: petani (padi, manggis, petai, dll.), pedagang, sopir angkot, tukang ojek, buruh bangunan, buruh pabrik, PNS, dll. Namun pertanian Desa Barengkok mengalami kemunduran, manggis yang semula berasal dari desa Barengkok dan menjadi komoditas utama di desa tersebut justru menjadi ikon agrowisata di desa tetangga (Karacak) karena produksi di sana memang lebih bagus. Untuk itu Pak Tawakkal berinisiatif membentuk Gapoktan bekerjasama dengan dinas pertanian untuk me-manage pertanian yang ada di desa tersebut. Beliau menyadari bahwa pertanian sangat potensial untuk dikembangkan di Desa Barengkok, termasuk perikanan gurame dan lele yang pernah mendapat kejuaraan tingkat propinsi pada tahun 2006. Namun usaha ini juga mengalami kemunduran karena manajemen yang buruk dan mengakibatkan kebangkrutan. Pengolahan pasca panen di Desa Barengkok juga sangat potensial, yaitu udang jahe dan keripik singkong. 

Permasalahan yang sudah jelas di depan mata adalah lahan yang semakin sempit karena banyak yang dikonversi maupun di-paro-kan. Hal tersebut juga berimplikasi pada banyaknya petani tanpa lahan (buruh tani). Selain itu mayoritas masyarakat, terutama generasi muda beranggapan bahwa pertanian dan perikanan tidak menjanjikan. Lahan dinilai tidak produktif dan lebih baik jika dijual atau di-paro-kan untuk membeli angkot atau ojek. Aksi ini seolah menjadi wabah dan trend di kalangan masyarakat yang cenderung lebih suka ikut-ikutan.

Pemerintah desa juga mengakomodasi ibu-ibu rumah tangga yang jauh lebih aktif dari kaum Adam untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui bidang kesehatan dan kerohanian. Namun pemerintah desa akan berfokus pada perbaikan manajemen dan administrasi desa terlebih dahulu pada bulan pertama. Mereka juga berencana membuat badan usaha milik desa (BUMDES). 

Waktu semakin larut, setelah ditraktir makan oleh bapak kepala desa kami diantarkan pulang terlebih dahulu karena beliau akan lembur di kantor desa. Setibanya dirumah kami beristirahat sebentar dan melanjutkan diskusi rencana kerja dan pembagian kelompok kecil untuk keesokan harinya sebelum berangkat tidur.

(9:39 PM)