Wednesday, 13 November 2013

Tidak Ada Anak-anak yang Jatuh Cinta Padaku

Bagiku anak-anak tidak terlalu spesial, biasa saja. Saat bertemu pertama kali, tidak ada anak-anak yang jatuh cinta padaku. Wajah jutek dan pendiam mungkin tidak menarik untuk dilihat. Aku juga. Dulu. Tidak sama setelah melihatnya bercengkrama dengan mereka, seru. Tidak sama juga setelah pergi denganmu, dengan mereka juga. Anak-anak menjadi spesial. Apalagi sejak aku ikut Go Field waktu itu, hari-hari yang dihabiskan bersama mereka setiap pagi. Anak-anak semakin spesial. Seperti hari ini, anak-anak semakin bertambah spesial. PAUD Mawar Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Tempat aku terdampar saat turun lapang mata kuliah KOK (Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan). 

Aku pernah menjadi anak-anak, kau juga bukan? Tapi aku tidak pernah merasa lebih kecil. Seingatku dulu, aku selalu merasa mempunyai besar yang sama dengan Ibu dan kawan-kawannya. Tapi lain untuk urusan baju, sejak aku bisa menyetrika bajuku sendiri aku selalu berpikir kalau baju orang-orang dewasa itu aneh. Besar sekali ukurannya, meja setrika selalu tidak cukup menampungnya sekali taruh, harus digeser-geser. Tidak seperti bajuku waktu itu, pas. Tidak perlu digeser.

Dilihat dari keseharianku dulu, bisa dikatakan aku tidak suka pada anak-anak. Penilaian paling gampang bisa dilihat dari caraku memperlakukan adikku. Satu alasan yang mungkin bisa kugunakan untuk melakukan pembelaan. Aku dulu bungsu, ditimang kemana-mana. Kelas enam SD aku punya adik, perempuan pula. Malam dia lahir, malam itu juga semua kehidupanku berubah. Aku belajar banyak hal. Aku merubah sikap. Lebih dewasa mungkin. Menyedihkan sebenarnya. Cemburu. Iri.

Kakakku laki-laki, dia tentunya masih spesial. Adikku perempuan dan dia bungsu, masih spesial. Tidak denganku, seorang anak tengah dan punya saudara berjenis kelamin sama, perempuan. Sejak hari itu aku lebih sering uring-uringan di rumah. Tepatnya setelah 10 tahun menjadi anak baik, samapai kelas enam SD, usia-usia SMP-ku diwarnai dengan moral yang berantakan. Marah-marah, iri, cemburu, tidak mau disuruh, bentak-bentak, dan masih banyak lagi dosa-dosa yang kubuat di rumah, terutama Ibu. Aku tidak suka caranya membagi kasih sayang. Tidak adil. Atau hanya perasaanku saja waktu itu, tapi sekarang aku masih merasakan hal yang sama. Entahlah. 


Sumber Gambar: compassion.com

Sejak itu aku menjadi tidak respect pada anak-anak. Bagiku mereka biasa saja, tidak perlu dispesialkan. Tidak peru merebut perhatian Ibu yang seharusnya menjadi milikku. Tidak perlu menjadi yang di-pertama-kan. Tidak perlu! Aku marah pada anak-anak.

Tapi tidak sama setelah semua itu terjadi, bersamanya, bersamamu, bersama mereka. Anak-anak terlalu spesial. Polos dan sempurna pikirannya. Manusia awal yang sedang memperbanyak glosarium salah dan benar. Belajar fokus pda hal-hal disekitarnya. Belajar berinteraksi. Belajar berani. Belajar banyak hal.

Seperti pagi ini di PAUD Mawar, mereka sedang mengikuti tes fisik. Melompat di lima balok persegi, bolak-balik, dilanjutkan dengan berjinjit di arena yang sama, bolak-balik juga. Lalu menangkap bola berbentuk semangka. Tingkah mereka lucu, unik dan menggemaskan. Ada yang tangkas menangkap bola dengan kedua telapak tangan. Ada juga yang tidak bisa melakukan salah satu gerakan, menangis, dan pergi. Dibujuk ibunya dengan sedikit kasar, mungkin dibisikkan kalimat sejenis “I Know You Can Do It” , si kecil dengan wajah basah lalu bersemangat melompat, berjinjit, dan menangkap bola. BISA. Luar Biasa. Tertawa dengan gigi kecil-kecilnya. Memeluk ibu.

Ada yang sangat bersemangat, kalian bisa melihat dari lompatannya yang sangat tinggi. Ada yang kabur tidak mau ikut tes, berlari membeli jajan. Tes ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, agar anak-anak belajar untuk mengerti perintah. Kedua, melatih fisik dengan lompatan dan berjinjit. Ketiga melatih fokus mereka. Fokus yang akan mengantarkan anak-anak untuk mengerti banyak hal.

Bagi anak-anak hal-hal kecil sangat berarti. Semua yang pertama akan menentukan seterusnya dan segalanya. Kita adalah kompas mereka, sekali kita error, akibatnya juga akan sama pada mereka. Senyum mereka tulus dan tangis mereka adalah sebuah protes pada keadaan yang tidak seharusnya. Banyak hal yang tidak bisa dibahasakan oleh anak-anak dan banyak bahasa mereka yang tidak bisa dimengerti dengan baik oleh kita.



Selasa, 25 Desember 2012