Monday, 11 November 2013

Namaku Syukur


Aku bukan orang pintar, bukan orang kaya, bukan orang tampan, bukan orang yang ahli dalam suatu bidang, bukan pula orang yang mudah mengerti dan dimengerti orang lain. Aku adalah seorang aku yang biasa. Belum ada kelebihan yang muncul dari dalam diriku. Sering kali aku berpikir tentang fungsi kehidupanku. Sejak lahir, aku hanya menyusahkan orang-orang disekitarku. Mereka memiliki tanggungjawab untuk memberiku makan dan mengajarkanku ilmu.

Sewaktu kecil aku sering kali terjatuh, badanku panas, dan luka-luka berjubelan di kulit halusku. Orang tuaku adalah orang desa kuno yang mempunyai kebiasaan untuk memijatkan anaknya ketika mengalami hal tersebut. Sakit sekali rasanya. Alhamdulillah, waktu itu aku tetap normal. Akupun ditugaskan untuk mencari ilmu di bangku sekolah dasar. Di sekolah ini aku mulai mengalami hal-hal yang aneh. Otakku sulit sekali diajak berpikir. Guru yang mengajarku menganggap ini sebuah kebodohan biasa yang dialami anak-anak tinggal kelas. Buktinya tahun berikutnya aku masih bisa naik kelas.



Di tahun ini, aku mengalami kesulitan yang lebih besar. Kepalaku semakin sakit untuk diajak berpikir. Pita suaraku juga tidak mengalami pendewasaan. Gagap. Begitulah kira-kira orang menyebutku. Sebuah kekurangan yang akan membuatku mundur dari status sosial sebagai manusia normal. Dan lagi-lagi tahun ini aku tinggal kelas. Pola pikir yang kuutarakan di kelas memperlihatkan ada sesuatu yang aneh padaku. Namun guruku tetap menganggap itu sebagai kebodohan yang biasa. Tahun berikutnya aku bisa naik kelas dengan kemampuan yang tidak berbeda ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu.

Tingkah lakuku dirumah mulai mendapatkan perhatian. Bukan, bukan karena kecerdasan atau kejenakaanku. Tapi karena sikapku yang semakin aneh. Sorot mataku mulai terlihat berbeda. Hal-hal yang kubicarakan bukan hasil dari sebuah pemikiran normal. Sepupu dan teman sepermainanku mulai mengejekku. Di sekolah pun tidak berbeda. Guru-guru sudah tidak sanggup mentransfer ilmunya padaku. Mereka kehabisan akal untuk menemukan metode yang bisa digunakan untuk mengajarku. Mereka akan mencoba selama dua tahun. Dan setelah itu mereka akan bosan, lelah dan geregetan. Jadi, di sekolah dasar aku bersekolah selama dua belas tahun. Seharusnya waktu aku lulus SD aku sudah lulus SMA. Seperti sepupuku yang cantik, dia seumuran denganku.

Waktu itu kemampuanku tidaklah berbeda dengan saat aku kelas dua atau bahkan kelas satu SD. Sangat minim. Aku sulit mengingat angka dan perhitungannya. Menghafal uang dan melakukan penjumlahan kecil untuk hal itu adalah kemampuan berpikirku yang tertinggi di bidang angka. Ada satu hal yang mungkin bisa dikatakan kelebihan, makanku yang banyak sehingga tubuhku besar. Tubuh besarku ini kuat mengangkat benda-benda berat. Aku akan melakukan apapun yang diperintahkan kepadaku. Kadang disertai senyuman, terkadang pula keluhan luar biasa. Semuanya kuungkapkan tanpa proses berpikir normal. Itu sangat kelihatan dari sikapku. 



Sumber Gambar: spiritualquestions.org.uk

Yap, sekarang semua orang telah tahu dan sangat menyadari aku tidak seperti manusia biasa. Aku tidak pintar, tidak tampan, tidak kaya, dan tidak normal. Ciri utamaku adalah berbadan besar, sorot mata kosong, gagap, dan pembicaraan kelas teri yang tidak ada harganya. Satu-satunya pekerjaan yang cocok untukku adalah menjadi kuli di tempat saudara atau tetangga dekat. Aku tidak mungkin jauh dari orang tuaku. Dua orang yang paling menganggapku berharga, jika aku tidak di dekatnya mungkin semua orang akan menginjakku sampai mati. Aku adalah sampah untuk orang lain.

Aku tidak pernah menyalahkan Allah atau berusaha meminta lebih padanya. Karena pikiranku memang tidak pernah sampai untuk keinginan itu. Aku menyadari, adalah sangat tidak mungkin kisahku diskenariokan seperti kisah Ishaan yang menemukan guru hebat yang diperankan Salman Khan. Aku tidak tahu apa yang digariskanNya untukku nanti. Aku tidak takut apapun. Semua hal sama dan sederhana di mataku. Kelebihan yang ada dalam diriku bukanlah kelebihan pada umumnya. Tapi hal biasa yang menjadi terlihat lebih, karena aku yang memilikinya.

Orang tuaku-lah yang paling takut, terutama ibuku. Dia takut aku akan terlantar setelah kematiannya. Karena saudara-saudaraku akan malu dan jijik memeliharaku. Sekarang ini aku pun sudah tidak mempunyai teman sama sekali. Temman sekolahku dulu sudah banyak yang berkeluarga. Oh ya, ada satu perasaan yang masih kurasakan. Cinta dan kebutuhan akan lawan jenis. Tapi aku tidak tahu kepada siapa aku akan menuangkannya. Tidak akan ada wanita normal yang mau bersanding denganku. Jika ada wanita yang tidak normal mau bersanding denganku orang tuaku yang tidak akan setuju. Pastinya mereka berpikir, akan jadi apa anak kami nanti.

Aku adalah aku yang lemah. Aku selalu beribadah padaMu tanpa tahu apa maksud dari ibadah yang kukerjakan. Aku sholat, bisa melafalkan bacaannya dengan gamblang, tapi aku tidak tahu sama sekali apa maksud dari sholatku. Aku adalah pengikut, bukan khalifah. Aku diciptakan hanya untuk mengikuti orang-orang disekitarku. Akalku lebih rendah dari mereka walaupun tetap lebih tinggi dari binatang.

Entah disebut dosa atau tidak dosa yang kulakukan. Karena aku hidup seperti orang normal. Aku berbicara, mandi, makan dan beraktifitas. Kondisi kejiwaanku tidak pernah diperiksakan lebih lanjut sampai sekarang. Sejka mulai terlihat tanda-tanda aneh tidak pernah ada usaha penormalan untuk diriku. Tak apalah, semua sudaj terjadi. Dan aku haru bersyukur karena aku hidup dalam lingkungan yang masih menerimaku dan mempertahankan hidupku.

Walaupun terkadang jiwaku ingin menjadi seperti kalian, tapi aku tidak pernah mengeluhkannya pada Allah. Aku bersyukur kepadanya dengan segala kekurangan yang dianugerahkan kepadaku.

Alhamdulillah wa Syukruillah.

written on Jumat 4 Mei 2012 (1:04:00 AM)