Monday, 11 November 2013

Surat Wasiat untuk Ibu Tiriku


Ini adalah surat wasiat untuk Ibu tiri yang paling kucintai di dunia ini dan tentunya yang paling mencintaiku. Pula untuk Ayah paling bijaksana yang pernah kutemui. Kalian berdualah yang masih memberi label harga selama aku hidup di dunia ini. Tanpa kalian aku mungkin hanyalah tulang berbalut daging dengan aliran darah biru.

Aku ingin mengingatkan kembali pada kalian tentang kisah kita. Bermula dari darah biruku. Seperti yang kalian tahu, bukan berarti aku keturunan ningrat, tapi darahku memang merah kebiruan. Baby Blue, sepertinya itu adalah nama penyakitku. Aku tidak tahu pasti apakah aku memang terkena penyakit itu atau tidak. Yang jelas ketika aku kecil dokter memvonisku terkena penyakit lemah jantung. Ibuku meninggal karena serangan jantung ketika aku masih kecil pula. Ayah sangat khawatir dengan keadaanku. Ayah takut tidak bisa merawatku. Kondisiku memang sangat lemah setiap harinya. Badanku menghitan dan sangat kurus.



Aku hidup bersama Ayah dan Kakak perempuan saja setelah ibu meninggal. Beberapa tahun kemudian Ayah jatuh cinta dengan wanita baik hati, sangat baik hati. Dia lalu menjadi ibuku. Semula aku takut padamu ibu. Pikiranku telah diset oleh sinetron bahwa Ibu tiri sangatlah jahat. Namun setelah kau menyentuhku, aku merasakan tangan ibuku lagi. Begitu lembut dan penuh kasih.

Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti arti dari penyakit ini. Yang aku pahami, aku tidak pernah diijinkan mengikuti pelajaran olahraga. Aku hanya berjongkok melihat teman-teman sekelasku berlarian bermain bola kasti. Terkadang aku yang mengambilkan bola untuk mereka. Aku hanya bisa termenung dan menitikkan air mata ketika teman-temanku melompat-lompat dengan tawa yang menggemaskan. Aku tidak pernah melompat dengan kedua kakiku secara bersamaan. Walaupun itu hanya beberapa detik. Lompatan yang pernah kulakukan adalah lompatan satu kaki untuk menghindari kecoak nakal yang terkadang muncul di rumah.

Kalian dengan sabar memberiku sebuah pengertian yang indah akan penyakitku ini. Kalian menghibur dan menguatkanku di kala aku menangis. Ibu , kau menguatkanku dengan memberi keyakinan aku mempunyai kelebihan di bidang lain. Walaupun aku belum pernah mendapat ranking satu, tapi kau sudah membawaku ke sepuluh besar di kelas. Ketika teman-temanku berkemah, setiap sore kau memboncengku dengan sepeda untuk mengunjungi mereka di lapangan desa. Kau membawakan mereka makanan agar mereka makan bersamaku.

Kalian membekaliku dengan ilmu agama yang baik, mengajarkanku cara bersyukur. Aku sadar rasa syukurku harus benar-benar aku hunjukkan padaNya. Jarang sekali bayi yang bernasib sepertiku bisa hidup selama ini.

Setelah lulus SD teman-temanku melanjutkan ke SMP yang cukup jauh dari rumah, mereka bersepeda. Sedangkan aku kalian sekolahkan di sekolah terdekat yang mutunya kurang bagus. Dengan sabar kalian meyakinkanku bahwa sekolah dimanapun aku pasti bisa berhasil jika aku tekun. Aku tahu, kalian melakukannya agar kalian lebih mudah mengontrolku. Ibu, kau selalu setia mengantar dan menjemputku ke sekolah. Walaupun berat badanku tidak normal, aku yakin aku cukup berat untuk kau bonceng setiap harinya. Tapi kau tidak pernah mengeluh.



Sumber Gambar: 2bangkok.com

Ayah, kau hampir tidak pernah memarahiku. Kau hanya diam ketika aku melakukan kesalahan. Aku tahu betapa sulitnya kau menahan itu ketika kenakalanku mulai meningkat. Kau melakukan itu karena takut penyakitku kambuh kan? Apapun itu Yah, aku sangat berterimakasih kepada Ayah. Ayah telah memberiku dua Ibu yang sangat mencintaiku. Ayah telah dengan sabar membimbingku untuk hidup di dunia ini. Entah berapa uang yang kau keluarkan setiap bulannya untuk biaya pengobatanku, pasti sangat banyak. Tapi kau tidak pernah mengeluh. Senyumlah yang selalu kulihat di bibirmu.

Ibu, walaupun kau tidak mempunyai keturunan di dunia ini aku mau menjadi anakmu di surga. Aku yakin pahalamu melebihi ibu-ibu yang lain. Kau adalah ibu yang terbaik. Kau tidak pernah menunjukkan rasa tidak sukamu padaku. Kau sabar merawatku seperti merawat putrimu sendiri. Membacakan dongeng yang indah, mengikat rambut merahku, menjahitkan baju yang lucu untuk kupakai ketika ulang tahun dan semua sentuhan lembutmu. Kau wanita berhati mulia ibu. Aku dan semua anak yatim yang kau kasihi akan menjadi anakmu di surgaNya nanti. Kami akan mengelilingimu dengan doa kami.

Hidupku tidak akan berarti tanpa kalian. Orang tua terbaik. Dan saat kalian membaca surat ini mungkin aku sudah pergi. Bukan karena aku bosan dengan kalian atau ingin membuat hari-hari kalian sepi. Aku harus pergi karena Tuhan telah menungguku. Dia telah memberiku bonus bertahun-tahun untuk bertahan dengan segala keterbatasanku. Aku cukup lelah Ibu. Aku ingin beristirahat Ayah.

Maafkan aku karena tidak bisa menjadi anak yang merawat orang tuanya di kala tua. Maafkan aku karena aku tidak bisa mendoakan kalian ketika kalian meninggal nanti. Jika bisa, aku pasti akan mendoakan kalian dari sini. Ayah, Ibu aku pergi dengan tenang dan air mata. Aku akan menunggu kalian disini. Aku akan menyiapkan tempat untuk kalian di sisiNya nanti.

Sekarang nikmatilah masa tua kalian tanpa ada yang harus kalian antar dan jemput setiap hari ke sekolah. Sekarang kalian tidak perlu disibukkan untuk ke dokter setiap bulannya guna mengontrol kondisiku. Kalian juga tidak perlu berpikir keras untuk membuatku tetap sebahagia teman-temanku. Aku sudah bahagia karena tidak menjadi mayat hidup lagi, seperti yang dikatakan teman-temanku.

Aku menyayangi kalian lebih dari apapun setelah Allah dan Rasulullah. Semoga Allah selalu memberi rahmat dan rahiimNya untuk kalian. Selamat tinggal.

Dengan kasih dan air mata terdalam Aku pergi Ayah, Ibuku tercinta



Anakmu

Written on Jumat 04 Mei 2012 (1:09:00 AM)