Thursday, 28 November 2013

Redefinisi Cantik

Dunia kita pernah mengenal beberapa definisi cantik. Bentuk tubuh bak badan gitar, rambut blonde, badan montok, hingga kini sedang menyambangi si rambut lurus, badan kurus rata, dan kulit putih. Payudara dan bokong yang besar nampaknya sudah tidak menjadi tuntutan utama. Tentu saja semua tahu ciri fisik ini mengarah pada gadis-gadis dari negara tertentu yang film dan musiknya sedang digandrungi anak muda. Walaupun beberapa tahun sebelum tren ini muncul kulit putih dan badan kecil sudah mulai digandrungi masyarakat.

Definisi kecantikan nampaknya sepele dan tidak penting untuk dibicarakan karena cantik berasal dari selera yang bisa jadi setiap orang memiliki rasa berbeda-beda. Namun ternyata definisi ini berdampak banyak pada kehidupan perempuan yang kebetulan sedang tidak memenuhi standar cantik di zaman tersebut. Tidak hanya sulit menemukan pasangan, dunia kerja yang mayoritas mengajukan persyaratan 'berpenampilan menarik' ternyata juga mengutamakan definisi cantik yang sudah diuniversalkan.

Bentuk diskriminasi juga terjadi di luar fenomena rekruitmen tenaga kerja. Selain itu kaum perempuan yang tidak memenuhi standar cantik juga termarjinalkan. Tidak banyak kelompok yang mau menerima mereka selain kelompok yang merasa senasib. Tentu saja fenomena ini tidak bisa dikatakan wajar atau normal, karena ketidakadilan ini merupakan hasil konstruksi masyarakat dan media.

Sumber Gambar: nettalent.netmedia.co.id

Media merupakan kendaraan utama pembentukan opini publik. Definisi cantik merupakan salah satu bentuk opini publik. Kita bisa melihat bahwa media dengan berbagai bentuknya: film, sinetron, iklan, dll. memakai definisi cantik yang sama sekarang ini, putih dan kurus. Mungkin aksesoris tambahannya hanya hidung mancung dan bibir tipis. Kaki jenjang sebagai ciri tubuh kurus sudah pasti menjadi ikon utama untuk dipertontonkan. Para artis sedang mengandrungi celana-celana atau rok super pendek untuk menunjukkan kecantikan mereka. Dan sekali lagi, masyarakat serempak mengamini definisi cantik.

Melihat dampaknya yang cukup memprihatinkan berupa diskriminasi dan marjinalisasi, cantik sudah pasti perlu diredefinisi. Media tentu saja kembali berperan sebagai aktor utama untuk memunculkan bentuk-bentuk cantik yang lain agar meyakinkan masyarakat bahwa cantik mempunyai banyak bentuk. Tidak hanya satu. Cantik bukan hanya soal rasa dan selera. Cantik hari ini telah menjadi suatu komoditas yang dimainkan pasar dengan membentuk opini publik. Kita bisa merubahnya lagi melalui jalan yang sama, membuat opini publik baru mengenai redefinisi kecantikan.

Menurut mbak Citra Dewi (Mahasiswi IPB 2010) cantik tidak lagi Bhineka Tunggal Ika. Benar saja, cantik sudah dijadikan komoditas dan ikon pasar produk-produk kecantikan, fashion, dan film yang kemudian ditujukan untuk kepentingan pihak tertentu. Beruntung bagi mereka yang kebetulan memenuhi standar. Bagi yang tidak, mereka akan terkungkung dan memiliki akses yang sangat terbatas dalam hidupnya. Atau justru kini para perempuan marjinal ini sedang berlomba-lomba melakukan operasi plastik dan membeli produk kecantikan tertentu untuk bisa bertransformasi? Entahlah.