Wednesday, 13 November 2013

Petani Dilarang Kaya


Sumber Gambar: ecommerceiq.asia

Brand petani dekil, hitam, kumuh dan “miskin” agaknya semakin sulit dihapuskan. Generasi muda yang mempunyai kapabilitas tinggi untuk memajukan pertanian justru sedang mengalami krisis di dalam diri mereka sendiri.  Sulit menemukan generasi muda yang mempunyai keinginan untuk mewarisi jiwa-jiwa petani. Mereka lebih suka duduk di posisi comfort zone profesi lainnya. Hal ini terjadi pada hampir seluruh anak petani yang sudah menyentuh kehidupan modern baik secara langsung maupun melalui media informasi.
Masalah yang paling sering dihadapi petani adalah harga produk pertanian yang selalu ditentukan oleh pasar. Sementara akses mereka masih sangat kecil pada informasi pasar. Implikasinya pihak-pihak yang diuntungkan lagi-lagi adalah mereka yang berada “di atas”. Selain itu kemampuan mayoritas petani hanya pada on farm-nya tanpa ada kemampuan  lebih pada proses off farm. On farm merupakan proses produksi pertanian dari penanaman hingga panen, sedangkan off farm merupakan proses pengolahan pasca panen dimana produk pertanian diberikan nilai tambah agar mempunyai harga jual yang lebih. Setelah panen petani-petani kita biasanya langsung menjual produknya ke tengkulak atau langsung ke pasar. Seharusnya dengan pengetahuan pasca panen mereka mampu merambah sektor industri yang secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan mereka.
 Fenomena itu seolah membuktikan kalau petani memang "dilarang kaya". Kebijakan pemerintah agaknya juga enggan menyentuh kehidupan petani lebih dalam. Belum lagi tindakan pihak-pihak yang menempati mata rantai pertanian dari proses produksi sampai dengan pembelian oleh konsumen. Tokoh-tokoh sekelas “pak ogah” masih saja merogoh hak-hak petani dengan membeli secara murah produk yang dijual petani kepada mereka. Rantai pemasaran agaknya juga sengaja dibiarkan semakin panjang dengan jalur distribusi yang sulit. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh pada pendapatan petani. Untuk mengubahnya diperlukan terobosan-terobosan baru yang mampu memangkas rantai pemasaran terutama pada pengadaan pasar dan teknologi.
Ada tiga hal yang seharusnya didapatkan dan dicapai seorang petani, yaitu pembelajaran, pemberdayaan, dan pemartabatan. Pembelajaran bisa dilakukan melalui penyuluhan-penyuluhan, praktek, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Proses ini biasanya diadakan oleh lembaga-lembaga pertanian maupun pendidikan yang berorientasi pertanian. Bisa juga diperoleh petani sendiri melalui studi banding, membaca buku-buku pertanian, dll. Sedangkan pemberdayaan dilakukan dengan program-program yang menunjang kemandirian petani di bidang pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan kesehatan. Konsep community development menjadi salah satu pendekatan terbaik untuk melakukan pemberdayaan terhadap petani. Pemerintah sudah mempunyai banyak sekali program pemberdayaan.  Namun banyak program yang hanya bertahan di rapat-rapat dan baliho besar. Aplikasinya terkadang hanya terkesan berorientasi “asal tugas selesai”. Hal ini menyebabkan masyarakat terkadang tidak merasakan manfaat program dan tidak berhasil memberdayakan masyarakat.
Terakhir adalah Pemartabatan, dimana petani tidak boleh hanya dikenal sebagai si kulit legam hitam bercangkul, tapi harus lebih bermartabat. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan mengupayakan akses dan kontrol bagi petani agar mereka mampu menunjukkan bahwa mereka mempunyai kemampuan yang besar. Bukan hanya menjadi bulan-bulanan golongan “atas”.
Petani sebenarnya bisa dan harus kaya sebagai fasilitator penyedia pangan dunia. Sistem-lah yang terkadang menyudutkan petani dan melarangnya kaya.

 Sumber : Diskusi dengan Ketua Gapoktan Silih Asih (Pak Haji Jaka) - Ciburuy, Cigombong