Wednesday, 13 November 2013

Perempuan : Si Nomor Dua di Dunia

Ibu Rumah Tangga = Babu
Bagaimana tidak? lihat saja apa yang dia kerjakan! Ibu bangun paling pagi, menyiapkan makanan, membersihkan rumah, mengurus anak dan suami, mencuci, mengepel, dan pekerjaan babu lainnya. Dia tidak dibayar bahkan ada yang tidak memegang uang sama sekali, walaupun mayoritas perempuan dipercaya mengelola keuangan.

Ibu Rumah Tangga = Wanita Miskin
Dia tidak dianggap berkontribusi pada perekonomian rumah tangga. Ibu rumah tangga bukan sebuah pekerjaan dan menjadi penyebab utama tingginya angka kemiskinan wanita dibandingkan laki-laki di dunia. Sebagai penduduk berusia produktif yang tidak menghasilkan "uang nyata", wanita-wanita ini didaftar sebagai perempuan pengangguran dan tidak berpenghasilan, kemudian masuk dalam kategori miskin. Sementara laki-laki yang memberinya nafkah memiliki uang nyata dan membuatnya masuk dalam kategori kaya.

Sumber Gambar: ipsnews.net


Laki-laki Selalu Lebih Cerdas
"Laki-laki lebih pantas menjadi pemimpin", kalimat yang selalu menjadi alasan dalam berbagai kepentingan yang ada di dunia ini untuk meletakkan wanita pada posisi subordinat. Laki-laki diberi "kepercayaan" (yang sebenarnya merupakan suatu konstruksi sosial) untuk menempati posisi-posisi penting dalam organisasi-organisasi masyarakat di tingkat pusat hingga satuan paling kecil, keluarga. Jika ada laki-laki, maka hampir selalu kepala rumah-tangganya adalah laki-laki. Posisi yang penting ini membawa laki-laki pada pengalaman dan pengetahuan yang semakin hebat melalui training, seminar, dan kegiatan lain yang diikutinya pada seminar tersebut. Padahal, dalam pendidikan keluarga patriarki, sejak kecil laki-laki sudah dibekali dengan ilmu yang lebih daripada perempuan. Perempuan dianggap lemah dan dilekatkan pada pekerjaan yang "lembut".

Diskriminasi Perempuan
Tak puas dengan segala bentuk ketidakadilan yang diberikan pada perempuan di dunia pendidikan dan tenaga kerja, manusia-manusia "jahat" masih saja memperlakukan wanita dengan seenaknya. Wanita dijadikan uang dengan menjadikannya obyek seks atau menjualnya semudah menjual kue cucur. Adapula yang disiksa secara fisik, wanita memang terkenal dengan kelemahan fisiknya. Hak-hak perempuan sebagai pemilik rahim dan pelaku menstruasi tidak pernah diperhatikan. Semuanya dianggap lumrah dan kebijakannnya disamakan saja dengan laki-laki.